DEMOCRAZY.ID – Mahfud MD dan mantan Menteri ESDM Sudirman Said kembali duduk satu meja dalam podcast Terus Terang, kali ini tanpa tensi politik, tanpa debat kusut.
Yang mengalir justru cerita panjang tentang perjuangan, persahabatan, dan keyakinan bahwa hukum pada akhirnya selalu menemukan jalannya sendiri.
Obrolan dimulai ketika Mahfud menyinggung kabar terbaru soal penyidikan kasus Petral.
Ia menyebut, Jaksa Agung kembali membuka jalur hukum yang lama mandek sejak pembubaran Petral pada 2015.
“Dulu sudah ada tersangkanya, tetapi tidak ada tindak lanjut. Sekarang Kejaksaan Agung ambil alih dan tampaknya akan jalan cepat,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya pembagian kerja antarlembaga penegak hukum agar kasus korupsi tidak berhenti di tengah jalan.
Mahfud juga mengingatkan satu hal: siapa pun yang merasa aman karena kekuasaan, jejaring, atau perlindungan politik, selalu berada dalam risiko besar ketika roda demokrasi berputar.
“Anda bisa merasa aman hari ini, tapi tidak di masa lain. Demokrasi itu selalu punya sirkulasi kekuasaan,” katanya.
Sudirman langsung menyambung. Ia mengaku tidak kaget jika kasus-kasus lama kembali muncul ke permukaan dan diproses.
“You can run but you cannot hide,” ucapnya.
Menurutnya, perubahan konstelasi politik sering membuka pintu bagi penegakan hukum yang sebelumnya tersendat.
Ia tidak bersyukur atas penangkapan seseorang, tetapi bersyukur ketika hukum bekerja sebagaimana mestinya.
Selebihnya, obrolan mereka bergerak ke ruang yang lebih personal: masa kecil yang getir, perjalanan meniti pendidikan, hingga cara keduanya bertemu dan akhirnya bersahabat.
Sudirman bercerita bagaimana ia tumbuh sebagai anak yatim, berpindah-pindah rumah hanya agar bisa tetap bersekolah, bekerja sebagai kernet angkot, berdagang, hingga menjadi loper koran ketika kuliah di Amerika.
“Apa saja dikerjain,” katanya. Kesempatan belajar di luar negeri datang lewat beasiswa berbasis utang negara, yang menurutnya menjadi tanggung jawab moral untuk kembali mengabdi.
Mahfud tak jauh berbeda. Ia mengenang masa kecil di pesantren dan bertahun-tahun hidup dari beasiswa, hingga akhirnya mendapat kesempatan studi ke Columbia University.
“Tuhan memberi jalan lewat negara yang merdeka dan lewat demokrasi. Itu harus kita jaga,” ujarnya.
Keduanya mengakui bahwa mereka sebenarnya tidak selalu berada di kubu politik yang sama. Tapi perbedaan itu tak pernah mengikis hubungan personal.
Sudirman bahkan mengingat betul ketika Mahfud menguatkannya saat ia dikepung tekanan saat menjabat Menteri ESDM.
Ada satu kalimat yang ia pegang sampai sekarang: “Anda itu sudah terjebak jadi orang baik. Tidak bisa mundur lagi.”
Kalimat itu yang, menurutnya, membuat ia tetap berdiri ketika angin politik berembus ke segala arah.
Mahfud menimpali dengan nada yang sama. Ia melihat Sudirman sebagai figur yang harus bertahan di jalur yang benar karena lingkungan yang ia masuki penuh godaan dan jebakan.
“Banyak orang awalnya idealis, lalu tenggelam di lingkungan yang koruptif. Tidak sedikit yang akhirnya mendarat di penjara,” katanya.
Di penghujung sesi, pembawa acara mengulang benang merah yang terserak dalam perbincangan dua tokoh itu: pendidikan sebagai pembebas, nilai-nilai perjuangan, reformasi yang belum tuntas, hingga panggilan hati yang membuat mereka tetap bergerak meski sudah berada di luar pemerintahan.
Dua sahabat itu menutup pembicaraan tanpa jargon dan tanpa euforia.
Hanya satu pesan yang terus diputar: jabatan bisa berganti, kubu politik bisa berubah, tapi integritas dan keberpihakan pada kepentingan publik tak boleh ikut bergeser.
[VIDEO]
Sumber: Herald