DEMOCRAZY.ID – Los Angeles menjadi salah satu episentrum gelombang protes nasional di Amerika Serikat yang menentang kebijakan imigrasi keras pemerintahan Presiden Donald Trump.
Aksi ini dipicu oleh perluasan operasi Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) yang dinilai semakin agresif dan menargetkan komunitas imigran di kota-kota besar.
Protes di berbagai wilayah tersebut terkoordinasi dalam gerakan yang disebut sebagai general strike, sebuah bentuk perlawanan sipil terhadap kebijakan penegakan imigrasi yang dianggap represif.
Di pusat kota Los Angeles, ribuan demonstran berkumpul, termasuk di sekitar gedung federal dan penjara federal setempat.
Aksi yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi tegang ketika terjadi bentrokan antara massa dan aparat federal serta kepolisian lokal.
Para demonstran menuntut dihentikannya praktik penegakan hukum yang dinilai brutal, serta menyerukan pembubaran ICE yang dianggap menjadi simbol ketakutan bagi komunitas imigran, khususnya warga Latino.
Ketegangan ini bukanlah hal baru bagi Los Angeles.
Sejak pertengahan 2025, kota tersebut kerap menjadi lokasi protes besar setelah Presiden Trump menginstruksikan peningkatan razia dan deportasi imigran tanpa dokumen.
Operasi tersebut secara khusus difokuskan pada kota-kota dengan pemerintahan lokal dari Partai Demokrat yang selama ini dikenal menerapkan kebijakan “sanctuary city”.
Langkah ini menuai kritik keras dari pejabat negara bagian California yang menilai pemerintah federal mengabaikan hak asasi manusia dan otonomi daerah.
Situasi semakin memanas seiring laporan adanya korban dalam sejumlah insiden terkait operasi imigrasi di berbagai wilayah AS, yang memicu kemarahan publik dan solidaritas lintas kota.
Di Los Angeles, polisi mengeluarkan perintah pembubaran massa dan melakukan penangkapan terhadap sejumlah demonstran.
Kritik juga mengarah pada dugaan pembatasan kebebasan pers, menyusul penahanan sementara beberapa jurnalis oleh agen federal saat meliput aksi.
Gelombang protes ini mencerminkan polarisasi yang semakin dalam di Amerika Serikat terkait isu imigrasi.
Bagi para penentang, kebijakan Trump dinilai memperburuk rasa takut dan ketidakpastian di kalangan imigran.
Sementara pemerintah federal bersikukuh bahwa langkah tersebut diperlukan demi penegakan hukum dan keamanan nasional.