DEMOCRAZY.ID – Perang di Timur Tengah kian kritis setelah Iran mengumumkan keberhasilan menjatuhkan satu lagi pesawat jet tempur Amerika Serikat, yakni A-10 Thunderbolt II “Warthog”, di perairan Teluk dekat Selat Hormuz, Jumat (3/4/2026).
Insiden ini menjadi kehilangan pesawat tempur kedua bagi Washington dalam 24 jam, sekaligus mempertegas tantangan serius bagi supremasi udara AS di kawasan tersebut, setelah sebelumnya F-15 AS juga ditembak jatuh.
Militer Iran menyebut hari tersebut sebagai Black Day atau Hari Hitam bagi kekuatan udara Amerika dan Israel.
Berdasarkan pernyataan resmi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pesawat pendukung udara jarak dekat itu berhasil dilacak dan diintersepsi oleh sistem pertahanan udara terintegrasi sebelum akhirnya jatuh ke kedalaman Teluk Persia.
Berbeda dengan nasib jet F-15E Strike Eagle yang jatuh sebelumnya—di mana satu awak masih hilang dan menjadi buruan sayembara Iran—laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa pilot tunggal pesawat A-10 tersebut berhasil diselamatkan dengan selamat oleh pasukan AS.
Namun, Pentagon menolak memberikan detail lokasi pasti evakuasi demi alasan keamanan operasional.
“Ini adalah perang,” ujar Presiden Donald Trump dalam wawancara singkat dengan NBC News.
Trump menegaskan bahwa jatuhnya pesawat-pesawat tersebut tidak akan menghentikan ambisinya untuk ‘menyelesaikan pekerjaan’ di Iran dalam waktu cepat, meski di lapangan kenyataan menunjukkan perlawanan Iran kian mematikan.
Menurut laporan The New York Times, yang mengutip dua pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, satu-satunya pilot di dalam pesawat A-10 berhasil diselamatkan pasukan AS.
Para pejabat ini menolak untuk memberikan data tentang lokasi dan keadaan pasti kecelakaan tersebut.
CNN, yang juga melaporkan insiden tersebut, telah menghubungi Departemen Pertahanan AS untuk meminta pernyataan resmi, tetapi belum menerima tanggapan.
Pesawat jet A-10, yang awalnya dirancang untuk dukungan udara jarak dekat terhadap target darat, adalah salah satu pesawat tertua dan paling dikenal milik Angkatan Udara AS, kehilangannya merupakan pukulan signifikan bagi citra dan kemampuan operasionalnya.
Keberhasilan Iran menjatuhkan berbagai jenis jet tempur, mulai dari F-15, F-16, hingga klaim penembakan F-35 stealth, menjadi pukulan telak bagi citra militer AS.
Padahal, hanya dua hari sebelumnya, Trump menyatakan bahwa kekuatan militer Iran telah hancur total.
Kenyataannya, Iran justru meningkatkan tekanan dengan menyerang infrastruktur energi sipil di Kuwait dan fasilitas desalinasi air minum di negara-negara Teluk.
Strategi “Operation True Promise 4” milik Iran kini fokus pada serangan balasan yang menyasar aset-aset strategis sebagai respons atas penghancuran infrastruktur sipil mereka oleh koalisi.
Dengan harga minyak Brent yang meroket hingga $109 per barel akibat blokade Selat Hormuz, dunia kini menyaksikan perang yang tidak hanya merenggut nyawa di medan tempur, tetapi juga mengancam kestabilan ekonomi global secara fundamental.
Sumber: Tribun