Korupsi Raksasa Rp 510 Triliun di Balik PSN: Rakyat Jadi Korban, Rempang Jadi Luka Bangsa!

DEMOCRAZY.ID – Sejarah bangsa kembali diguncang oleh pengungkapan mengejutkan dari Dr. Ubedillah Badrun.

Ia menegaskan bahwa dana yang digelontorkan untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) mencapai Rp 1.515 triliun, namun dari jumlah fantastis itu, sekitar Rp 510 triliun atau 36 persen diduga raib dalam pusaran korupsi.

“Angka yang mencengangkan ini berlangsung sejak masa pemerintahan Jokowi hingga awal pemerintahan Prabowo,” sebut Ubedillah, dikutip Jum’at (28/11/2025).

Korupsi sebesar ini bukan sekadar angka di atas kertas.

Ia adalah pengkhianatan terhadap rakyat, pengkhianatan terhadap cita-cita pembangunan, dan pengkhianatan terhadap amanah bangsa.

Rp 510 triliun bukan sekadar uang, tegasnya, ia adalah sekolah yang tak jadi dibangun, rumah sakit yang tak pernah berdiri, dan kesejahteraan rakyat yang dirampas oleh tangan-tangan maling berseragam kekuasaan.

Menurutnya, lebih dari sekadar korupsi, pelaksanaan PSN justru menimbulkan luka sosial yang nyata. Kasus Rempang menjadi simbol penderitaan rakyat.

Demi proyek, masyarakat Melayu digusur paksa, rumah-rumah mereka dihancurkan, dan kerusuhan pun pecah.

Air mata rakyat tumpah, luka sosial menganga, dan kepercayaan terhadap negara terkoyak.

Kini, Pemerintah Prabowo memang telah mengeluarkan proyek Rempang dari daftar PSN. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung di udara: mengapa rakyat harus menderita terlebih dahulu?

Mengapa kerusuhan harus terjadi sebelum negara sadar? Siapa yang bertanggung jawab atas luka yang ditinggalkan?

Korupsi raksasa ini bukan sekadar kejahatan finansial, melainkan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Rakyat berhak tahu siapa malingnya, siapa yang menikmati hasil rampasan, dan siapa yang menutup mata.

“Tidak ada pembangunan yang sah jika dibangun di atas penderitaan rakyat dan uang haram hasil korupsi,” tegasnya.

Bangsa ini menuntut jawaban. Bangsa ini menuntut keadilan. Rp 510 triliun adalah jeritan rakyat yang dirampas. Rempang adalah luka yang tak boleh dilupakan.

Sumber: LiraNews

Artikel terkait lainnya