KISAH White Hat Hacker Asal Solo, Ciptakan Alat Intelijen hingga Diakui Dunia

DEMOCRAZY.ID – Prestasi membanggakan di kancah teknologi global kembali ditorehkan oleh talenta muda Indonesia.

Bayu Fedra Abdullah (25), seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), berhasil menembus panggung Black Hat, forum keamanan siber paling bergengsi di dunia yang selama ini didominasi oleh pakar dari Silicon Valley dan negara-negara Barat.

Dalam forum yang digelar di Riyadh (Timur Tengah) dan London (Eropa) pada akhir 2025 lalu, pemuda asal Solo ini mempresentasikan dua alat keamanan siber ciptaannya sendiri, yakni IPTI (Internet Protocol Threat Intelligence) dan MBPTL (Most Basic Penetration Testing Lab).

Terobosan Intelijen Siber: Dari Pasif Menjadi Aktif

Karya utama yang diperkenalkan Fedra, IPTI, menawarkan pendekatan baru dalam sistem pertahanan siber.

Fedra menilai mayoritas sistem keamanan saat ini, seperti firewall, bekerja secara pasif layaknya satuan pengamanan (satpam) yang baru bertindak saat penyusup sudah berada di depan pintu.

Sebaliknya, IPTI dirancang bekerja layaknya intelijen.

lat ini secara aktif berkeliling di dalam jaringan untuk memetakan ancaman dan memberikan peringatan dini sebelum serangan benar-benar terjadi.

“Prinsipnya jangan tunggu dipukul. Cari tahu siapa yang mau mukul, kapan, dan pakai apa,” jelas Fedra mengenai mekanisme kerja IPTI yang menuai atensi pakar siber global di forum tersebut.

Edukasi Peretas ‘Topi Putih’

Selain alat pertahanan, Fedra juga memperkenalkan MBPTL, sebuah laboratorium simulasi peretasan.

Alat ini diciptakan untuk memfasilitasi anak muda yang ingin belajar teknik peretasan atau hacking secara legal dan aman tanpa risiko hukum.

Inovasi ini sejalan dengan prinsip White Hat Hacker (peretas etis) yang dipegang Fedra.

MBPTL memungkinkan pemula melakukan simulasi pembobolan sistem untuk memahami celah keamanan, guna kemudian memperbaikinya (patching), bukan untuk merusak atau mencuri data.

Jejak Panjang di Dunia Siber

Meski baru berusia 25 tahun, Fedra memiliki pengalaman satu dekade di dunia siber, dimulai sejak ia berusia 15 tahun.

Lulusan SMKN 2 Solo ini memiliki rekam jejak karier yang solid, mulai dari menjabat sebagai Senior Security Engineer di startup investasi Ajaib, hingga kini bekerja secara jarak jauh (remote) dari Solo untuk sebuah perusahaan teknologi asal Singapura.

Kehadiran Fedra di panggung Black Hat membuktikan bahwa arsitek siber kelas dunia dapat lahir dari talenta lokal Indonesia, sekaligus mematahkan stigma negatif tentang peretas dengan menunjukkan peran krusial White Hat Hacker dalam ekosistem digital global.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya