KISAH Seorang Penyembah Api Masuk Islam, Tangan Enggak Bisa Dibakar Api

DEMOCRAZY.ID – Perjalanan hidup siapa yang sangka. Seorang penyembah api akhirnya masuk Islam, melalui pergulatan yang singkat dengan sufi besar bernama Hasan al Basri.

Hal itu terjadi ketika detik-detik penyembah api tersebut akan menemui ajalnya.

Kisah itu berawal ketika tetangga Syekh Hasan al Basri sakit keras.Simeon namanya. Ia adalah seorang penyembah api yang taat.

Sebagai tetangga, Syekh Hasan pun menjenguknya. Ketika masuk kamar, beliau melihat Simeon sedang terbaring dengan lemas.

Wajahnya pucat, nafasnya tersengal. Melihat kondisi tetangganya itu, Syekh Hasan berkata,“Takutlah kepada Allah.

Janganlah engkau telah menyia-nyiakan seluruh usiamu di tengah-tengah api dan asap.”

Suasana menjadi terdiam Tak selang lama, Simeon berkata, “Ada tiga hal yang telah mencegahku untuk menjadi seorang Muslim.

Yang pertama adalah kenyataan bahwa walaupun kalian membenci keduniawian, tapi siang dan malam kalian mengejar harta kekayaan.

Yang kedua, kalian mengatakan bahwa mati adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi, namun kalian tidak bersiap-siap untuk menghadapinya.

Yang ketiga, kalian mengatakan bahwa wajah Allah akan terlihat, namun hingga saat ini kalian melakukan segala sesuatu yang tidak diridhaiNya,” ucapnya.

Tangan Tidak Terbakar Api

“Itu ucapan dari manusia-manusia yang sungguh- sungguh mengetahui. Jika orang-orang Muslim berbuat seperti yang engkau katakan, apa pulakah yang hendak engkau katakan? Mereka mengakui keesaan Allah sedang engkau menyembah api selama tujuh puluh tahun, dan aku tak pernah berbuat seperti itu,” jawab Syekh Hasan al Basri.

Sejenak kemudian Syekh Hasan melanjutkan kata-katanya, “Jika kita sama-sama terseret ke dalam neraka, api neraka akan membakar dirimu dan diriku. Namun jika Allah mengizinkan, api tidak akan berani menghanguskan sehelai rambut pun pada tubuhku.

Hal ini adalah karena api diciptakan Allah dan segala ciptaan-Nya tunduk kepada perintah-Nya.

Walau pun engkau menyembah api selama tujuh puluh tahun, marilah kita bersama-sama menaruh tangan kita ke dalam api agar engkau dapat menyaksikan sendiri betapa api itu sesungguhnya tak berdaya dan betapa Allah itu Maha Kuasa.”

Apa yang terjadi kemudian adalah hal aneh. Sehabis berkata seperti itu, Syekh Hasan al Basri memasukkan tangannya ke dalam api yang ada di sekitar ranjang Simeon.

Namun ajaib, tangannya tidak cedera atau terbakar. Melihat kejadian tersebut Simeon terheran terkejut. Hatinya kemudian tersadar bahwa keyakinannya selama ini salah.

“Selama tujuh puluh tahun aku telah menyembah api. Kini hanya dengan satu atau dua hembusan nafas saja yang tersisa, apakah yang harus kulakukan?”

“Jadilah seorang Muslim,” jawab Hasan.

Meminta Jaminan

Namun Simeon masih ragu. Ia kemudian meminta sesuatu kepada Syekh Hasan al Basri.

“Aku mau masuk Islam jika engkau memberiku sebuah jaminan tertulis bahwa Allah tidak akan menghukum diri Tanpa jaminan itu aku tidak sudi memeluk agama Islam.”

Permintaan tersebut disanggupi Syekh Hasan. Lalu beliau membuat surat jaminan. Sehabis itu banyak orang yang Bashrah memberikan kesaksian mereka atas surat jaminan tersebut.

Kejadian ini membuat Simeon terharu dan mencucurkan air mata. Tidak lama kemudian si penyembah api itu memeluk Islam.

Menjelang ajalnya, Simeon menulis surat wasiat. Bunyinya sebagai berikut, “Setelah aku mati, mandikanlah aku dengan tanganmu sendiri, kuburkanlah aku dan selipkan surat jaminan ini di tanganku. Surat ini akan menjadi bukti bahwa aku adalah seorang Muslim.”

Setelah mengucap dua kalimat syahadat dan Simeon menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kemudian jenazah tersebut dimandikan.

Syekh Hasan mensalatkannya hingga menguburkannya dengan sebuah surat jaminan ada dalam genggaman tangan Simeon.

Mimpi yang Aneh

Malam harinya Syekh Hasan menjadi gelisah. Beliau bergumam dalam hatinya, “Bagaimana aku bisa menolong seseorang.

Sedangkan aku sendiri dalam keadaan yang serupa. Aku sendiri tidak bisa menentukan nasibku, tetapi mengapa aku berani memastikan apa yang aku lakukan?”

Setelah itu, beliapun tertidur dan bermimpi. Dalam bunga tidurnya itu bertemu dengan Simeon.

Wajahnya tampak bercahaya dengan kepalanya terlihat ada mahkota. Tampak simeon mekakai jubah dan berjalan=jalan di sebuah tamam.

“Bagaimana keadaanmu Simeon?” tanya Syekh Hasan.

Simeon kemudian menjawab, “Mengapakah engkau bertanya padahal engkau menyaksikan sendiri?

Allah Yang Maha Besar dengan segala kemurahan-Nya telah mendekatkan diriku kepada-Nya dan telah memperlihatkan wajah-Nya kepadaku. Karunia yag dilimpahkan-Nya kepadaku melebihi segala kata-kata.

Engkau telah memberiku sebuah surat jaminan. Maka terimalah kembali surat jaminan ini karena aku tidak membutuhkannya lagi.”

Tidak lama kemudian, Syekh Hasan terbangun, ia mendapatkan surat jaminan itu telah berada di tangannya.

Sumber: Islami

Artikel terkait lainnya