DEMOCRAZY.ID – Dari miliaran umat Muslim yang tersebar di berbagai penjuru dunia, ada satu sosok yang hingga kini terus disebut-sebut sebagai Muslim terkaya sepanjang sejarah.
Sosok itu adalah Raja Mansa Musa, penguasa Afrika Barat pada abad ke-14 yang kekayaannya bahkan sulit dibandingkan dengan para miliarder modern.
BBC pernah mengulas kebesaran Mansa Musa dengan mengutip pendapat Rudolph Butch Ware, profesor sejarah dari Universitas California.
Ia menegaskan bahwa kekayaan Mansa Musa tidak bisa disamakan dengan kekayaan miliarder masa kini, seperti Elon Musk atau tokoh-tokoh super kaya lainnya.
Alasannya sederhana namun mendasar, yaitu kekayaan Mansa Musa bukan sekadar uang tunai atau aset finansial, melainkan kendali penuh atas sumber daya utama dunia pada masanya, terutama emas dan jalur perdagangan global.
Menurut Rudolph Butch Ware, jika kekayaan Mansa Musa diukur dengan standar masa kini, nilainya begitu besar hingga hampir mustahil dipahami secara realistis.
Skala kekuasaannya jauh melampaui konsep kekayaan modern yang hanya berbasis angka.
Lantas, seperti apa sebenarnya kisah Raja Mansa Musa yang disebut sebagai Muslim terkaya sepanjang sejarah dunia?
Banyak sejarawan berusaha memperkirakan seberapa besar kekayaan Raja Mansa Musa.
Pada tahun 2012, situs asal Amerika Serikat, Celebrity Net Worth, memperkirakan total kekayaannya mencapai US$400 miliar.
Jika dikonversikan ke dalam rupiah dengan asumsi kurs pada periode tersebut, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp5,72 kuadriliun.
Namun, para sejarawan ekonomi sepakat bahwa angka tersebut sejatinya hanyalah pendekatan kasar.
Kekayaan Mansa Musa tidak sepenuhnya bisa dinilai dengan uang, karena ia menguasai tambang emas, jalur distribusi, pusat perdagangan, hingga wilayah strategis yang menentukan perputaran ekonomi dunia.
Dalam konteks ini, kekayaannya lebih tepat dipahami sebagai kekuasaan ekonomi global, bukan sekadar nominal.
Raja Mansa Musa hidup pada rentang tahun 1280 hingga 1337, sebuah masa ketika kekayaan dan kekuasaan diukur dari luas wilayah, sumber daya alam, dan pengaruh politik.
Ia naik takhta menggantikan kakaknya, Mansa Abu-Bakr, yang memimpin Kerajaan Mali hingga tahun 1312.
Mansa Abu-Bakr meninggalkan takhta demi mewujudkan ambisinya menjelajah Samudera Atlantik.
Ia berangkat bersama ribuan rakyatnya menggunakan sekitar 2.000 kapal. Namun, rombongan tersebut tidak pernah kembali.
Kisah ini dicatat oleh sejarawan Suriah, Shibab al-Umari, dan menjadi salah satu misteri besar dalam sejarah Afrika.
Di bawah kepemimpinan Mansa Musa, Kerajaan Mali justru mencapai puncak kejayaannya.
Ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan dengan menguasai 24 kota, termasuk Timbuktu. Kota ini kemudian berkembang menjadi simbol kekayaan sekaligus pusat peradaban dan ilmu pengetahuan.
Kekayaan Mansa Musa tidak terlepas dari kekuatan Kerajaan Mali.
Menurut British Museum, Mali menguasai hampir setengah dari emas yang beredar di Dunia Lama, mencakup Afrika, Asia, dan Eropa.
Pada masa itu, emas merupakan fondasi sistem moneter dunia, mirip seperti minyak atau teknologi pada era modern.
Sebagai seorang muslim yang taat, Mansa Musa juga dikenal karena perjalanan hajinya yang legendaris.
Ia berangkat menuju Makkah dengan melewati Gurun Sahara dan Mesir, membawa rombongan sekitar 60.000 orang.
Rombongan ini terdiri dari pejabat kerajaan, hakim, tentara, pedagang, serta budak. Mereka juga membawa unta, ribuan sapi dan kambing, serta emas murni dalam jumlah sangat besar.
Dalam perjalanannya, Mansa Musa singgah di Kairo. Di sinilah terjadi peristiwa yang kemudian dikenal sebagai “Kairo kebanjiran emas”.
Selama sekitar tiga bulan tinggal di kota tersebut, Mansa Musa membagikan emas kepada masyarakat dalam jumlah besar.
Dampaknya, nilai emas jatuh drastis dan perekonomian Kairo terguncang hingga sekitar 10 tahun setelah kepergiannya.
Lucy Duran dari School of African and Oriental Studies di London mencatat bahwa tindakan ini bahkan menuai kritik dari para penghibur Mali.
Mereka menilai Mansa Musa terlalu menghamburkan sumber daya alam kerajaan di luar wilayahnya, sehingga enggan memujinya dalam nyanyian.
Meski demikian, perjalanan haji ini membuat nama Mansa Musa dan Kerajaan Mali dikenal luas hingga ke Eropa.
Pada abad ke-19, banyak orang dari berbagai penjuru dunia datang ke Timbuktu untuk membuktikan legenda kota emas yang hilang, sebuah mitos yang bertahan lebih dari 500 tahun sejak masa kekuasaan Mansa Musa.
Peran Raja Mansa Musa dalam Pendidikan
Selain dikenal karena kekayaan dan kekuasaannya, Raja Mansa Musa juga memiliki peran besar dalam pengembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Sepulang dari Mekah, ia membawa sejumlah cendekiawan Islam ke Mali.
Di antaranya adalah keturunan langsung Nabi Muhammad serta Abu Es Haq es Saheli, seorang penyair dan arsitek dari Andalusia. Abu Es Haq es Saheli dikenal sebagai perancang Masjid Djinguereber, yang dibangun pada tahun 1327.
Masjid tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran.
Mansa Musa juga membangun sekolah, perpustakaan, dan berbagai institusi pendidikan lainnya.
Berkat kebijakan ini, Timbuktu berkembang menjadi pusat pendidikan dunia. Pelajar dari berbagai wilayah datang untuk menimba ilmu di tempat yang kini dikenal sebagai Universitas Sankore.
Raja Mansa Musa wafat pada tahun 1337 dalam usia 57 tahun. Kerajaan Mali kemudian diwariskan kepada anak-anaknya.
Sayangnya, para penerusnya tidak mampu mempertahankan stabilitas dan kejayaan, seperti sang ayah. Seiring waktu, kedatangan bangsa Eropa ke Afrika menjadi titik awal runtuhnya Kerajaan Mali.