KISAH Orang yang Terakhir Keluar dari Neraka, Masuk Surga dengan Merangkak

DEMOCRAZY.ID – Pada hari kiamat, semua umat manusia akan dihisab, yang muaranya adalah surga atau neraka, tergantung status keimanan, amalannya semasa di dunia, dan sesuai kehendak Allah SWT.

Di antara orang beriman, sebagiannya mesti merasakan neraka sebagai bagian dari azab atas dosa-dosanya semasa di dunia.

Di antara mereka ada yang keluar dari neraka dan masuk surga dengan cepat, ada pula yang lambat. Ada pula yang terakhir.

Kisah orang yang terakhir keluar dari neraka dan masuk surga menjadi i’tibar bahwa sebagian besar manusia akan mengalami suatu bentuk siksaan atau penyucian di neraka sebelum akhirnya diampuni dan diberikan akses ke surga.

Janji surga bagi orang yang memiliki keimanan walau kadarnya kecil sekalipun salah satunya ditegaskan Rasulullah SAW: “Keluarlah dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman sebesar biji sawi.” (HR. Bukhari no. 22, Muslim no. 184).

Lantas, siapa orang terakhir keluar dari neraka dan masuk surga?

Orang Terakhir yang Keluar dari Neraka dan Masuk Surga

Kisah orang terakhir yang keluar dari neraka dan masuk surga terdapat dalam riwayat Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda:

إِنِّى لأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً الْجَنَّةَ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى. فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ – قَالَ – فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا أَوْ إِنَّ لَكَ عَشَرَةَ أَمْثَالِ الدُّنْيَا – قَالَ – فَيَقُولُ أَتَسْخَرُ بِى – أَوْ أَتَضْحَكُ بِى – وَأَنْتَ الْمَلِكُ » قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ. قَالَ فَكَانَ يُقَالُ ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً

Artinya: “Sesungguhnya aku tahu siapa orang yang paling terakhir dikeluarkan dari neraka dan paling terakhir masuk ke surga. Yaitu seorang laki-laki yang keluar dari neraka dengan merangkak.

Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Pergilah engkau, masuklah engkau ke surga.”

Ia pun mendatangi surga, tetapi ia membayangkan bahwa surga itu telah penuh.

Ia kembali dan berkata, “Wahai Rabbku, aku mendatangi surga tetapi sepertinya telah penuh.”

Allah berfirman kepadanya, “Pergilah engkau dan masuklah surga.”

Ia pun mendatangi surga, tetapi ia masih membayangkan bahwa surga itu telah penuh.

Kemudian ia kembali dan berkata, “Wahai Rabbku, aku mendatangi surga tetapi sepertinya telah penuh.”

Allah berfirman kepadanya, “Pergilah engkau dan masuklah surga, karena untukmu surga seperti dunia dan sepuluh kali lipat darinya.”

Orang tersebut berkata, “Apakah Engkau memperolok-olokku atau menertawakanku, sedangkan Engkau adalah Raja Diraja?”

Ibnu Mas’ud berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi geraham beliau. Kemudian beliau bersabda, “Itulah penghuni surga yang paling rendah derajatnya.” (HR. Bukhari no. 6571, 7511 dan Muslim no. 186).

Penjelasan Imam Nawawi Soal Keluar dengan Merangkak

Dalam Syarah Muslim, Imam Nawawi menjelaskan hadis ini sahih dan termasuk hadis besar tentang harapan dan rahmat Allah dan menunjukkan bahwa iman sekecil apa pun akan membawa keselamatan, asalkan tidak lenyap dari hati.

Riwayat bahwa orang tersebut akan keluar dengan merangkak menurut Imam an-Nawawi menggambarkan betapa lemahnya kondisi hamba tersebut karena siksaan yang lama di neraka.

Namun, sekaligus menunjukkan keberuntungan besar karena ia masih memiliki iman yang menjadi sebab keluarnya dari api neraka.

“Ucapan ‘merangkak’ menggambarkan kelemahan dan kelelahan karena lamanya siksaan, tetapi keluarnya ia dari neraka menunjukkan bahwa iman, walau sedikit, tetap menjadi sebab keselamatan.” (Syarh Shahih Muslim jilid 3 halaman 85–88).

Di sisi lain, hadis ini menurut Imam Nawawi Allah menunjukkan keagungan kasih sayang-Nya, bahkan kepada hamba yang hina dan berdosa.

Surga tidak akan sempit; justru luasnya tanpa batas bagi orang beriman.

Rasulullah SAW mencontohkan agar umatnya tidak berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat-Nya mendahului murka-Nya.

Siapa Sosok Orang Terakhir yang Keluar dari Neraka?

Sosok orang terakhir yang keluar dari neraka tidak disebut dalam hadis di atas.

Namun, dalam banyak kajian populer, dia disebut sebagai seorang lelaki dari suku Juhainah atau Juhaynah.

Dalam salah satu kajiannya, penceramah Hasan bin Ismail Al Muhdor, menyebut orang terakhir yang keluar dari neraka dan masuk surga adalah Juhainah.

Menurut Hasan, Juhainah menjadi orang beriman terakhir yang keluar dari neraka.

Setelah Juhainah, maka tak ada lagi yang akan keluar dari neraka dan masuk surga. Mereka yang tertinggal akan selama-lamanya berada di neraka.

“Ketika Juhainah keluar (dari neraka) berarti tidak ada lagi manusia yang keluar dari neraka setelah Juhainah. Berarti dia akan di neraka selama lamanya dan di surga selama lamanya,” jelas Habib Hasan, dalam sebuah ceramah, dikutip dari tayangan YouTube Ahbaabul Musthofa Channel.

Hasan menjelaskan, masuknya Juhainah ini adalah bentuk keadilan Allah SWT. Manusia yang memiliki iman meskipun hanya secuil akan keluar dari neraka.

Sosok Juhainah dalam Riwayat

Sosok Juhainah kebanyakan merujuk pada hadis berikut ini:

Hadis yang berbunyi:

أَخِرُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ مِنْ جُهَيْنَةَ يُقَالُ لَهُ جُهَيْنَةُ، فَيَقُولُ أَهْلُ الْجَنَّةِ: عِنْدَ جُهَيْنَةَ الْخَبَرُ الْيَقِينُ
Artinya: “Orang terakhir yang masuk surga adalah seseorang dari suku Juhainah yang dipanggil Juhainah. Maka penduduk surga berkata, ‘Pada Juhainah-lah terdapat berita yang pasti (tentang siapa yang masih tertinggal di neraka).’” (HR. Al-Khatib al-Baghdadi).

Namun, para ulama ahli hadis berpendapat bahwa hadis ini tidak sahih (lemah bahkan batil).

Imam Ad-Daraquthni dan Al-Khatib al-Baghdadi sendiri menyebut bahwa sanad hadis ini tidak dapat dipercaya.

Dalam kitab Tarikh Baghdad karya Al-Khatib, disebutkan bahwa perawi bernama ‘Abd al-Malik bin al-Hakam dalam jalur periwayatan ini lemah dan tidak tsiqah (tidak kredibel).

Karena itu, para muhaddits sepakat bahwa hadis ini tidak bisa dijadikan dalil tentang perkara akhirat.

Keterangan Imam Ad-Daraquthni: Dalam penilaian sanadnya, Ad-Daraquthni menegaskan: “Hadis ini batil, dan ‘Abdul Malik bin al-Hakam sangat lemah.” (dikutip dalam Lisan al-Mizan, karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani).

Para ulama kontemporer menyimpulkan, riwayat ini tidak bersumber dari Nabi ﷺ secara sahih, melainkan ungkapan populer (atsar palsu) yang kemudian menjadi pepatah Arab terkenal.

Kalimat “‘inda Juhainah al-khabaru al-yaqīn” kini sering digunakan dalam bahasa Arab sebagai peribahasa yang berarti “pada Juhainah terdapat kabar yang pasti”, bukan sebagai hadis Nabi.

Meskipun hadis ini tidak sahih, ungkapan tersebut mengandung makna moral simbolik.

Dalam konteks cerita, “Juhainah memiliki berita yang pasti” menggambarkan bahwa orang terakhir yang keluar dari neraka akan menjadi saksi terakhir tentang siapa saja yang telah masuk surga dan siapa yang masih tertahan di neraka.

Artinya, ia memiliki “pengetahuan langsung” tentang keadaan umat manusia setelah hisab.

Catatan Ulama:

Para ulama melarang menjadikannya sebagai dasar keyakinan, karena sumbernya tidak kuat.

Umat Islam diarahkan untuk kembali kepada hadis-hadis sahih tentang “orang terakhir keluar dari neraka”, seperti riwayat Al-Bukhari dan Muslim yang menyebut seorang lelaki beriman yang keluar dari neraka dengan merangkak, lalu Allah memberinya surga sebesar sepuluh kali dunia.

Sumber: Liputan6

Artikel terkait lainnya