DEMOCRAZY.ID – Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, mengeluarkan pernyataan menohok terkait eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam pidatonya di hadapan Majelis Rakyat Tertinggi, Selasa (24/3/2026), Kim menegaskan bahwa kehancuran yang terjadi di Iran menjadi bukti nyata bahwa keputusan Korea Utara untuk mempertahankan senjata nuklir adalah langkah yang sangat tepat.
Kim secara terbuka menuding Washington sebagai dalang di balik aksi terorisme dan agresi yang disponsori negara.
“AS melakukan tindakan terorisme dan agresi ke Iran yang disponsori negara,” katanya dilansir CNN.
Karenanya bagi Kim, konflik Iran adalah cermin retak yang menunjukkan nasib sebuah negara jika menyerah pada tekanan dan janji manis Amerika Serikat untuk melucuti senjatanya.
Menurut Kim, bagi Pyongyang, kekuatan nuklir bukan sekadar alat gertak, melainkan jaminan agar nasib mereka tidak berakhir tragis seperti negara-negara yang menjadi sasaran militer AS.
Kim menegaskan bahwa status Korea Utara sebagai negara nuklir kini bersifat permanen dan tidak dapat diubah (irreversible).
“Situasi saat ini membuktikan dengan sangat jelas bahwa kedaulatan hanya bisa dijaga dengan kekuatan nyata, bukan dengan negosiasi yang melemahkan,” ujar Kim.
Pernyataan ini menjadi sinyal keras bagi Presiden Donald Trump bahwa diplomasi denuklirisasi masa lalu kini sudah usang.
Logika yang dianut kepemimpinan Korea Utara Kim Jong Un saat ini sangat sederhana namun tajam.
Negara tanpa senjata nuklir akan dieksploitasi, sementara yang memilikinya akan disegani.
Di saat Trump memberi sinyal untuk memulai kembali pembicaraan, Kim justru menunjukkan taringnya dengan serangkaian uji coba rudal jelajah dan roket berkemampuan nuklir terbaru.
Bagi warga Korea Utara, narasi ini bukan sekadar strategi militer, tetapi juga propaganda yang membentuk persepsi keamanan nasional.
Ketakutan akan intervensi asing menjadi alasan kuat di balik dukungan terhadap kebijakan pertahanan negara.
Di sisi lain, peluang diplomasi antara Washington dan Pyongyang kembali mencuat.
Namun, pernyataan terbaru Kim menunjukkan arah yang berbeda: jika dialog kembali dibuka, Korea Utara ingin diakui sebagai negara nuklir, bukan didorong untuk melucuti senjatanya.
Kim mengisyaratkan bahwa ia hanya bersedia kembali ke meja perundingan jika AS mengakui posisi Korea Utara sebagai kekuatan nuklir dan menghentikan total pelarangan nuklir, apa yang disebutnya sebagai kebijakan bermusuhan.
Di sisi lain, sekutu jauh Korut, Iran, mulai menerapkan strategi pragmatis di tengah gempuran.
Teheran secara resmi menarik “biaya koordinasi” bagi kapal-kapal non-hostile yang ingin melintasi Selat Hormuz.
Langkah ini disebut UEA sebagai “terorisme ekonomi,” namun bagi Iran, ini adalah cara bertahan di tengah blokade currency yang dilakukan AS.
Kini, dunia menyaksikan dua kutub perlawanan yang semakin solid: Iran yang bertahan di tengah hujan misil, dan Korea Utara yang berdiri tegak di balik benteng nuklirnya, mengirimkan pesan bahwa mereka tidak akan bisa disentuh oleh “terorisme” negara mana pun.
Sumber: Tribun