DEMOCRAZY.ID – Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei usai serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) memicu gelombang narasi baru di media sosial.
Salah satunya mengaitkan situasi terkini dengan hadis tentang Isfahan dan Khurasan.
Narasi itu ramai setelah diunggah akun Instagram @barengsiroh pada Minggu (1/3/2026).
Dalam unggahannya, akun tersebut menghubungkan tewasnya Khamenei dan potensi kembalinya putra mahkota Iran yang diasingkan, Reza Pahlavi, dengan riwayat masyhur tentang akhir zaman, Imam Mahdi!
“Gejolak yang terjadi di Iran hari ini, rupanya sudah lebih dulu terproyeksi sejak zaman nabi, 1.400 tahun lalu. Akhir dari fenomena ini yang disabdakan nabi, yaitu Iran dan Israel akan bersatu.”Dan yang beliau (Nabi) sabdakan … bukan yang kamu sangka,”tulis akun tersebut.
Runtuhnya rezim yang dipimpin Khamenei membuktikan pernyataan Nabi semakin jelas.
Putra Syah yang digulingkan revolusi 1979, Reza Pahlavi, akhirnya kembali ke Tanah Air didukung pejabat senior AS dan tokoh-tokoh Zionis secara terbuka.
“Targetnya satu: kembali ke Teheran,” tulisnya.
Khamenei yang tewas oleh rudal AS-Israel, memperlihatkan tekanan sanksi yang ia hadapi selama ini.
Rakyat Iran dibuat lelah serta pergantian rezim sedang dirancang dengan rapi di luar sana.
Salah satu kota di Iran, Isfahan, menjadi sumber 70 ribu Yahudi.
“Bukan Tel Aviv. Bukan New York. Isfahan, kota di jantung Iran,” ungkapnya.
“70.000 Yahudi dari Isfahan…Berbaris mengikuti Dajjal… Nabi tidak menyebut ini sebagai negara musuh Yahudi. Beliau menyebutnya sebagai titik persatuan,” ujarnya.
Israel kabarnya sedang memanggil 70.000 tentara cadangan mereka untuk ikut berperang melawan Iran.
Sementara hari ini, Isfahan adalah Pusat program nuklir Iran.
Kota dengan komunitas Yahudi terbesar yang tersisa di Timur Tengah selain Israel serta dijaga ketat rezim, tapi komunitasnya tetap ada, diam-diam, selama berabad-abad.
Paradoks paling mengerikan abad ini pun muncul tatkala Iran yang setiap tahun memperingati “Hari Quds” untuk solidaritas Palestina dengan mencetak poster runtuhnya Israel, kini terancam berubah haluan.
Kehadiran Pahlavi yang diproyeksi akan memimpin Iran justru berbalik arah.
“Justru dalam hadits, Persia dan Yahudi berjalan bersama menuju Dajjal Apakah retorika anti-Israel selama ini hanyalah… sandiwara paniang? Atau memang begitulah cara sejarah berialan menuju ending yang sudah tertulis?” tulis dalam akun tersebut.
Kehawatiran ini pun seakan muncul ketika hari ini kawasan itu bernama Iran, Irak, dan sekitarnya menjadi tempat peperangan terjadi.
Sementara Khurasan adalah kawasan vang meliputi Iran bagian timur, Afghanistan, sebagian Turkmenistan, dan Asia Tengah.
Hadits tidak menyebut Tehran sebagai titik kebangkitan, namun Khurasan kelak menjadi tempat di mana Dajjal akan muncul.
“Ini bukan teori konspirasi Ini halaman yang sudah lama tertulis. Dan kita sedang membacanva secara langsung,” paparnya.
Dalam unggahan tersebut, disebutkan Nabi tidak memberitahu umatnya tanda- tanda akhir zaman untuk membuat kita panik.
Ia ingin memberitahukannya agar umat Muslim tidak terkejut, tidak terprovokasi, dan tidak salah memilih pihak.
“Keempat, Perkuat diri dan keluarga. Karena ketika fitnah datang, yang selamat bukan yang paling lantang berteriak tapi yang paling kuat imannya,” tuturnya.
Sumber: Inilah