DEMOCRAZY.ID – Suara Kiai Said Aqil Siradj terdengar tenang, tetapi setiap kalimatnya mengandung daya ledak.
Dari kursi narasumber di podcast Keadilan TV yang dipandu Margi Syarif, mantan Ketua Umum PBNU itu menyampaikan satu kritik yang mengguncang: konsesi tambang pemberian Presiden Joko Widodo kepada PBNU bukan berkah—melainkan laknat.
Ia mengawali dengan dasar yang tak main-main: keputusan Bahtsul Masail NU tahun 2016.
Saat itu, para ulama menyatakan jelas bahwa eksplorasi kekayaan alam yang merusak lingkungan hukumnya haram, termasuk aparat pemerintah yang mengeluarkan izin penambangan yang berdampak pada kerusakan fatal.
“Haramnya absolut. Tidak bisa dicari jalan keluarnya,” tegas Kiai Said sambil mengutip tafsir Imam Razi tentang larangan membuat kerusakan di muka bumi.
Lebih jauh, ia menilai keputusan PBNU terlibat dalam konsesi tambang tak hanya bermasalah secara teologis, tetapi juga organisatoris.
Badan pelaksana tambang NU disebutnya diisi para petinggi yang merangkap jabatan—melanggar keputusan Munas 2017 yang mengharuskan profesional non-pengurus.
“Jelas pelanggaran,” ujarnya lugas.
Lalu ia menyebut mudarat yang kini nyata: ketegangan internal.
Konflik antara petinggi PBNU, gesekan yang melebar, hingga reputasi NU yang tercoreng di mata publik.
“Sudah melahirkan kemudaratan sebelum dapat manfaat,” katanya. Ia mengingatkan bahwa banyak negara—Bolivia, Venezuela, Nigeria—pecah akibat perebutan sumber daya tambang.
“Masa kita tidak belajar?”
Kiai Said sempat menduga pemberian izin tambang adalah bentuk penghargaan Jokowi kepada ormas Islam.
Namun dengan nada datar, ia juga membuka kemungkinan lain: jebakan halus yang membuat ormas tak lagi kritis terhadap pemerintah.
“Melumpuhkan sifat kritis,” ujarnya, mengutip pula pandangan Hakim MK, Saldi Isra.
Ia menyebut NU sejak lahir bukan dibangun untuk bisnis atau memupuk kekayaan.
Dari sejarah Komite Hijaz, dari perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari, NU didirikan untuk menjaga akidah, moralitas, dan moderasi Islam—bukan mengurusi nikel atau batu bara.
“Kalau sudah tambang, 90 persen pikiran ke sana. Fokus agama hilang,” katanya.
Ia juga mengingatkan bagaimana di masanya, NU tetap hidup tanpa tambang, bahkan membangun universitas, membantu TKW, membeli tanah untuk kantor PBNU, mengurus masjid di Brussel—semua dari solidaritas umat, bukan dari konsesi sumber daya.
Pertanyaan terakhir pun datang: apakah konsesi tambang ini petaka bagi NU? Jawaban Kiai Said terbit tanpa jeda.
“Itu laknat. Kutukan. Karena memecah NU, merusak martabat NU, dan membuat NU tidak dianggap lagi sebagai ormas penjaga moral.”
Sebuah kalimat yang menutup percakapan, tetapi justru membuka bab baru dalam polemik tambang ormas: apakah NU akan bersuara, atau diam dalam “laknat” yang diucapkan salah satu kiainya yang paling disegani?
[VIDEO]
Sumber: Herald