KERAS! Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Tantang Prabowo ‘Debat Terbuka’ di Kampus

DEMOCRAZY.ID – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, menjadi sorotan publik usai melontarkan kritik keras terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kritik tersebut bermula dari kegelisahan Tiyo terhadap prioritas anggaran negara yang dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil.

Ia menyinggung tragedi di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana seorang pelajar disebut meninggal dunia akibat kesulitan ekonomi, sebagai ironi di tengah besarnya anggaran program MBG yang diklaim mencapai Rp1,2 triliun per hari.

Dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP, Tiyo menyebut pemerintahan saat ini mengalami “inkompetensi laten”.

Ia juga sempat menggunakan diksi “bodoh” yang kemudian diklarifikasi sebagai kritik terhadap tata kelola kebijakan, bukan serangan personal.

“Kalau kembali ke substansi, yang saya maksud adalah inkompetensi yang laten,” ujarnya.

Soroti Anggaran dan Pendidikan

Tiyo bahkan melontarkan istilah “Maling Berkedok Gizi” untuk menggambarkan kecurigaannya terhadap potensi penyimpangan dalam program MBG.

Ia menilai anggaran besar untuk program makan gratis seharusnya juga diimbangi dengan perhatian serius terhadap sektor pendidikan.

Menurutnya, negara tidak boleh abai terhadap kebutuhan dasar siswa, seperti akses alat tulis dan fasilitas pendidikan.

BEM UGM disebut telah menyurati UNICEF untuk ikut mendorong evaluasi kebijakan yang dinilai berdampak pada hak anak.

Selain itu, Tiyo juga mengkritik respons pemerintah terhadap berbagai isu sosial dan bencana yang dianggap kurang empatik.

Ia menilai ada jarak antara laporan para pejabat dengan kondisi riil di lapangan.

Ancaman dan Intimidasi

Vokalnya kritik tersebut berujung pada intimidasi. Tiyo mengaku dirinya bersama puluhan pengurus BEM UGM menerima ancaman melalui pesan anonim, mulai dari ancaman penculikan hingga pembunuhan.

Sejumlah pihak menyatakan dukungan, termasuk advokat Reza Zaki yang menawarkan pendampingan hukum secara cuma-cuma.

Ia menegaskan kritik mahasiswa merupakan bagian dari kontrol sosial dalam demokrasi yang harus dilindungi.

Polemik Emoji Pejabat BGN

Polemik kian memanas ketika beredar tangkapan layar komentar dari Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Irjen Pol. Sony Sonjaya, yang meninggalkan emoji monyet dalam kolom komentar unggahan terkait kritik MBG.

Tiyo membalas dengan narasi reflektif di media sosial, menyebut penggunaan simbol tersebut sebagai bentuk ketidakdewasaan dalam merespons kritik.

Tantangan Debat Terbuka

Sebagai langkah lanjutan, Tiyo menantang Presiden Prabowo untuk hadir dalam debat terbuka di kampus UGM guna membahas data dan kebijakan secara langsung di hadapan mahasiswa.

“Silakan datang ke UGM. Kita siapkan forum terbuka. Mahasiswa akan mendebat data yang Bapak yakini,” ujarnya.

Meski menuai kontroversi, Tiyo menyampaikan permintaan maaf atas diksi yang dianggap menyinggung.

Namun ia menegaskan kritik tersebut lahir dari tanggung jawab moral mahasiswa untuk menjaga arah kebijakan publik tetap berpihak pada kepentingan rakyat.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya