DEMOCRAZY.ID – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, baru-baru ini melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai skala besar kebutuhan logistik pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam Sidang Kabinet yang berlangsung, Dadan mengungkapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan gizi di seluruh Indonesia, diperlukan pasokan sapi yang sangat masif.
Menurut laporan tersebut, setiap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi titik pelaksanaan program MBG membutuhkan satu ekor sapi setiap hari.
Dengan target 19.000 dapur SPPG yang akan beroperasi pada akhir Desember 2025, artinya sebanyak 19.000 ekor sapi harus dipotong serentak dalam satu hari di seluruh nusantara.
“Sekali masak menu lele saja, dibutuhkan sedikitnya 3.000 ekor lele di setiap dapur,” ujar Dadan. “Untuk menu daging, kami menyiapkan satu ekor sapi untuk setiap titik dapur SPPG. Ini adalah tantangan besar dalam hal logistik dan pasokan pangan.”
Laporan kebutuhan pangan yang masif ini sempat mengundang tawa dan reaksi dari Presiden Prabowo, yang menunjukkan betapa besar dan kompleksnya tantangan yang dihadapi pemerintah dalam menjalankan program ini.
Lebih lanjut, Dadan menjelaskan bahwa Badan Gizi Nasional telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian untuk memastikan pasokan sapi nasional mencukupi kebutuhan program MBG.
Selain kebutuhan sapi potong, program MBG juga membutuhkan pasokan sapi perah yang tidak kalah besar.
Dadan menyebutkan bahwa kebutuhan sapi perah mencapai 1,55 juta ekor untuk mendukung produksi susu segar yang menjadi bagian penting dari menu bergizi di dapur SPPG.
“Setiap dapur SPPG membutuhkan sekitar 450 liter susu setiap hari,” jelas Dadan. “Produksi susu ini setara dengan produksi dari 45 sampai 50 ekor sapi perah per hari.”
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah sapi perah di Indonesia pada tahun lalu mencapai 485.809 ekor, sementara Kementerian Pertanian melaporkan bahwa jumlah sapi perah dan sapi pedaging yang masuk ke dalam negeri hingga Agustus tahun ini mencapai 28.656 ekor.
Pemerintah menargetkan jumlah dapur SPPG mencapai 31.000 unit hingga akhir tahun ini, yang berarti kebutuhan sapi dan susu akan terus meningkat seiring dengan perluasan program MBG.
Dadan menilai bahwa program MBG tidak hanya sebagai upaya pemenuhan gizi dan pengentasan stunting, tetapi juga sebagai peluang usaha yang dapat menggerakkan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.
“Ini adalah aspek bisnis yang cukup menarik,” kata Dadan dalam diskusi bertajuk ‘Food Business Opportunity: ZONA PANGAN’ pada Selasa (7/10).
“Program MBG identik dengan program kemandirian dan ketahanan pangan di level paling bawah akibat pengoperasian dapur SPPG.”
Menurut Dadan, program ini akan menambah sekitar 465 ribu pengusaha baru di bidang pangan tahun depan, karena setiap dapur SPPG harus bekerja sama dengan setidaknya 15 pemasok bahan pangan.
“Program MBG dapat mengoptimalisasi lahan-lahan subur untuk menggerakkan produktivitas masyarakat,” tambahnya.
“Dengan demikian, pemenuhan ketahanan pangan dapat terpenuhi akibat program MBG.”
Dengan skala kebutuhan sapi dan susu yang sangat besar, pemerintah dihadapkan pada tantangan berat dalam memastikan pasokan pangan yang cukup dan berkualitas untuk mendukung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis.
Namun, di balik tantangan tersebut, program ini juga membuka peluang besar bagi pengembangan usaha dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di seluruh Indonesia.
[VIDEO]
Sumber: Tribun