DEMOCRAZY.ID – Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah lokasi di Iran, termasuk ibu kota Teheran pada Sabtu 28 Februari waktu setempat.
Presiden AS, Donald Trump, menyebut aksi ini sebagai operasi tempur besar-besaran.
Serangan ini terjadi di tengah negosiasi antara AS dan Iran terkait program nuklir dan rudal balistik Teheran, setelah berminggu-minggu ancaman yang meningkat dari Trump serta delapan bulan sejak AS dan Israel terlibat perang selama 12 hari melawan Iran.
Iran membalas dengan menembakkan rudal ke wilayah utara Israel dan ke pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Hingga saat ini, informasi mengenai korban jiwa dan kerusakan di Iran maupun Israel masih terbatas.
Menyusul dengan serangan yang dilancarkan ke Iran, berikut ini beberapa fakta yang perlu diketahui hingga saat ini seperti dilansir dari laman Al Jazeerah, Minggu 1 Maret 2026.
Sekitar pukul 09.27 waktu setempat, kantor berita Fars melaporkan adanya serangkaian ledakan di ibu kota, Teheran.
Koresponden Al Jazeera di Teheran bagian barat mengatakan ia mendengar dua ledakan.
Sementara itu berdasarkan sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan asap membumbung dari beberapa titik di kota tersebut.
Israel lebih dulu mengumumkan telah meluncurkan serangan rudal ke sejumlah target di dalam wilayah Iran.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer gabungan dengan Israel.
Dalam beberapa pekan terakhir, Washington mengerahkan banyak jet tempur dan kapal perang ke kawasan itu, dan menjadi pengerahan militer terbesar sejak Perang Irak.
Trump menggambarkan operasi ini sebagai aksi yang besar dan masih berlangsung.
Departemen Pertahanan AS kemudian menamai misi tersebut dengan nama “Operation Epic Fury”, dalam pernyataan publik pertama militer AS sejak dimulainya serangan gabungan AS-Israel.
Beberapa rudal dilaporkan menghantam University Street dan kawasan Jomhouri di Teheran, serta area dekat markas Korps Garda Revolusi Islam Iran, menurut laporan Fars.
Kantor berita Associated Press melaporkan salah satu serangan di ibu kota terjadi di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Kantor berita semi-resmi Tasnim juga melaporkan ledakan terjadi di kawasan Seyyed Khandan, Teheran utara.
Media lokal turut melaporkan adanya ledakan di sejumlah kota lain, seperti Kermanshah, Qom, Tabriz, Isfahan, Ilam, dan Karaj, serta di Provinsi Lorestan.
Saat mengumumkan operasi tempur besar-besaran, Trump mengatakan tujuan kampanye militer AS adalah untuk menghancurkan rudal Iran dan meluluhlantakkan industri rudal negara tersebut.
“Kami akan melenyapkan angkatan laut mereka,” kata Trump.
Beberapa poin utama pernyataannya Trump usai melancarkan serangan ke Iran:
AS telah memulai operasi tempur besar di Iran yang disebutnya “masif dan masih berlangsung”.
Tujuannya adalah menghilangkan apa yang Washington sebut sebagai ancaman yang segera dari pemerintah Iran.
Trump menjelaskan sasaran militer operasi tersebut meliputi:
Ia juga menyampaikan peringatan sekaligus tawaran kepada personel militer Iran. Jika mereka meletakkan senjata alias menyerah, Trump mengatakan akan menjamin amnesti.
Namun jika tidak, mereka akan menghadapi “kematian yang pasti”. Ia juga mengakui kemungkinan adanya korban di pihak AS.
Reuters mengutip seorang pejabat AS yang menyebut pemerintah Trump tengah merencanakan operasi beberapa hari.
Komentar Trump dinilai mengisyaratkan bahwa ia sedang menyiapkan panggung untuk revolusi di Iran, 73 tahun setelah CIA mengatur kudeta terhadap Perdana Menteri Iran terpilih secara demokratis, Mohammad Mosaddegh, seperti dilaporkan koresponden Al Jazeera, Alan Fisher, dari Washington.
“Mereka pernah melakukannya sebelumnya. Kali ini dilakukan dengan senjata dan bom, bukan secara diam-diam melalui CIA. Jelas ini akan menjadi operasi militer berkelanjutan, dan Donald Trump menerima risiko kemungkinan adanya korban,” ujar Fisher.
Sementara itu, dalam pernyataannya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan operasi militer tersebut akan terus berlangsung selama yang diperlukan.
Serangan AS dan Israel ke Iran merupakan kelanjutan dari ketegangan panjang terkait program nuklir dan pengaruh regional Teheran.
Kedua sekutu itu sejak lama mengklaim bahwa aktivitas pengayaan uranium dan kemampuan rudal Iran yang terus berkembang menjadi ancaman bagi mereka.
Mereka juga berulang kali memperingatkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer terhadap Teheran.
Di sisi lain, Iran secara terbuka dan berulang kali menegaskan tidak berniat membuat bom nuklir.
Israel sendiri merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang diketahui memiliki senjata nuklir.
Pada Juni tahun lalu, Israel dan AS menyerang sejumlah fasilitas nuklir dan militer Iran, serta membunuh beberapa komandan senior.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah mediator Oman mengumumkan adanya kemajuan dalam perundingan di Jenewa, di mana Iran dilaporkan menyetujui nol penimbunan uranium serta verifikasi penuh oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
AS dan Israel juga menyebut situasi ini sebagai peluang bagi rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka.
“Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin kesempatan satu-satunya bagi generasi Anda,” kata Trump.
Iran membalas dengan menembakkan rudal ke arah Israel, menurut militer Israel.
Sirene serangan udara berbunyi di beberapa wilayah, dan ledakan dilaporkan terjadi di Israel bagian utara.
“Masyarakat diminta mengikuti instruksi Komando Front Dalam Negeri. Saat ini, Angkatan Udara Israel sedang beroperasi untuk mencegat dan menyerang ancaman bila diperlukan guna menghilangkannya,” ,” kata militer Israel dalam pernyataan resmi.
Tak lama kemudian, pasukan Iran juga meluncurkan rudal ke sejumlah lokasi yang terkait operasi militer AS di kawasan, termasuk:
Sebelumnya, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengancam akan memberikan respons yang menghancurkan.
“Kami sudah memperingatkan Anda! Sekarang Anda telah memulai jalan yang akhirnya tak lagi berada dalam kendali Anda,” tulis Azizi di media sosial.
Sumber: VIVA