Kasihan! Rakyat Dibodoh-Bodohi ‘Kosmetik Politik’ Prabowo Lewat Gebrakan Abal-Abal Purbaya

Kasihan! Rakyat Dibodoh-Bodohi Kosmetik Politik Prabowo Lewat Gebrakan Abal-Abal Purbaya

Oleh: Tarmidzi Yusuf | Kolumnis

Apa yang Purbaya lakukan atas sepengetahuan dan persetujuan Presiden Prabowo. Tidak mungkin seorang pembantu presiden berjalan sendiri tanpa arahan dan petunjuk presiden. Termasuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Patut diduga bagian dari skenario Presiden Prabowo menjadikan gebrakan Menkeu Purbaya hanya alat Kosmetik Politik Presiden Prabowo untuk menutupi anjloknya citra Presiden Prabowo karena gagal mencopot Kapolri dan membentuk Komite Reformasi Polri.

Bukan itu saja, setahun Presiden Prabowo berkuasa masih banyak janji-janji politik Presiden Prabowo belum terealisasi seperti pertumbuhan ekonomi 8 persen, 19 juta lapangan kerja, 3 juta rumah, 200 fakultas kedokteran dan janji-janji manis lainnya. Program MBG dan Koperasi Merah Putih pun menimbulkan banyak masalah di lapangan.

Wacana yang dilontarkan Menkeu Purbaya tentang pembayaran angsuran dan bunga pinjaman kereta cepat Whoosh tidak menggunakan dana dari APBN tampaknya baru sebatas wacana alias omon-omon. Belum ketuk palu di DPR.

Skema pembayaran utang dan bunga pinjaman Whoosh kemungkinan besar tetap dari APBN setelah Presiden Prabowo bertemu Presiden China Xi Jinping di KTT APEC di Korea baru-baru ini.

Diplomasi atau ada sedikit tekanan. Entahlah! Hanya Presiden Prabowo yang tahu. Yang jelas kita melihat Pemerintahan Prabowo mulai melunak. Jokowi dan Luhut Binsar Pandjaitan yang diduga kuat bermain di proyek KCJB tepuk tangan.

Presiden Prabowo ngeper dan Menkeu Purbaya mengendor. Isu skema pembayaran utang kereta cepat Whoosh menggunakan APBN menguat. Omongan Purbaya hanya kosmetik politik belaka.

Sinyal pembayaran utang kereta cepat Whoosh dari APBN diperkuat oleh pernyataan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Istana Kepresiden, Senin 3 November 2025.

AHY memastikan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) ikut membantu membereskan permasalahan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh.

Dipanggilnya mantan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang dipecat Jokowi gara-gara menolak proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) oleh Presiden Prabowo, Senin 3 November 2025 di Istana memperkuat spekulasi adanya skenario cipta kondisi agar publik menerima kebijakan Presiden Prabowo menggunakan APBN untuk menyelesaikan pembayaran utang kereta cepat Whoosh pasca Prabowo bertemu Xi Jinping.

Kabarnya, Ignasius Jonan agar mengerem sikapnya dengan tidak mengobral ketidaksetujuannya terhadap kereta cepat Whoosh yang kini utang dan bunganya terancam tidak bisa bayar.

Pasalnya, hasil penjualan tiket kereta cepat Whoosh dalam setahun baru mampu mengumpulkan pendapatan kotor Rp 1,5 triliun.

Sementara beban bunga pinjaman kereta cepat Whoosh saja Rp 2 triliun per tahun. Belum termasuk angsuran utang pokok.

Otomatis pokok pinjaman dan kekurangan bunga pinjaman terpaksa menggunakan sumber lain. APBN opsinya.

Sebaiknya rakyat tidak over ekspektasi terhadap gebrakan Purbaya. Biasa saja. Politik penuh ketidakpastian. Sulit ditebak.

Wilayah abu-abu. Bersiap-siap kecewa. Apa yang disampaikan Purbaya belum menjadi keputusan politik. Karena itu, simpan dulu euforia terhadap Purbaya sebelum APBN 2026 ketuk palu di DPR. ***

Artikel terkait lainnya