DEMOCRAZY.ID – Di tengah spekulasi besar-besaran tentang serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran, sebuah saluran TV Iran mengeluarkan ancaman pembunuhan terhadap Presiden Donald Trump pada Rabu (14/1/2026).
Menampilkan foto Trump dari kampanye umum pemilihan presiden AS pada 2024 di Butler ketika ia ditembak, saluran tersebut menyatakan bahwa kali ini peluru “tidak akan meleset dari sasaran.”
Tangkapan layar saluran tersebut dibagikan di media sosial oleh jurnalis Israel-Amerika Emily Schrader.
Pesan di saluran TV tersebut ditulis dalam bahasa Persia yang diterjemahkan menjadi: “Kali ini, peluru tidak akan meleset.”
Pada tahun 2022, Teheran membuat ancaman serupa dengan mengunggah video yang menggambarkan upaya pembunuhan terhadap presiden AS di lapangan golf Mar-a-Lago miliknya.
Sementara itu, Trump mengatakan bahwa ia mendapat informasi ‘dari sumber yang dapat dipercaya’ kalau pembunuhan demonstran dan rencana eksekusi terhadap mereka yang dianggap melawan rezim di Iran telah dihentikan.
Presiden AS Trump pada 14 Januari menggunakan Truth Social untuk menyatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan,” yang memicu spekulasi besar tentang serangan terhadap Teheran.
Dia juga meminta masyarakat untuk mencatat semua “pembunuh dan pelaku kekerasan” dan memastikan bahwa mereka akan membayar “harga yang mahal.”
Sementara itu, laporan menunjukkan bahwa utusan Gedung Putih Steve Witkoff diam-diam bertemu pada akhir pekan dengan putra mahkota Iran yang diasingkan, Reza Pahlavi, untuk membahas meningkatnya protes di Iran.
Meskipun Pahlavi tidak mengkonfirmasi pertemuan dengan Witkoff, ia membagikan video dengan Senator Amerika Serikat dan ajudan Trump, Lindsy Graham. Rezim Iran menyalahkan Israel dan AS atas protes tersebut.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS melaporkan bahwa sejauh ini 1.850 demonstran telah tewas di Iran.
Di tengah tekanan global, rezim Iran menunda eksekusi para demonstran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragachi mengatakan kalau mereka tidak pernah berencana untuk menggantung para demonstran.
Sebagai bagian dari penindakan, rezim Iran telah memberlakukan blokade internet secara total.
Namun, Starlink milik Elon Musk saat ini telah menyediakan sumber internet bagi warga Iran.
Iran sedang mengalami aksi protes besar-besaran terhadap rezim ulama yang berkuasa setelah revolusi Islam tahun 1979.
Protes yang terjadi sebagai reaksi terhadap krisis ekonomi yang dahsyat itu segera berkembang menjadi seruan untuk perubahan rezim.
Sebagai respons, Rezim Iran telah memperingatkan para demonstran tentang hukuman mati.
Sumber: Tribun