Kajian Surah Al-Isra UAH: Inilah 3 Fase ‘Kehancuran’ Israel Menurut Al-Quran!

DEMOCRAZY.ID – Dinamika geopolitik di Timur Tengah dan perlawanan tiada henti di Palestina ternyata memiliki akar teologis yang kuat dalam kitab suci.

Pendakwah dan ahli tafsir, Ustaz Adi Hidayat (UAH), membedah janji Allah SWT dalam Surah Al-Isra yang secara gamblang memuat tiga fase kejatuhan dominasi Israel (Zionis).

Menurut UAH, siklus akhir zaman yang dijanjikan Al-Qur’an kini sedang bergulir.

Dua dari tiga bagian fase akhir tersebut saat ini sudah mulai terlihat secara nyata di mata dunia.

“Maka jika datang janji Allah yang terakhir untuk mereka, ada tiga bagian (fase) lagi,” ujar UAH dalam sebuah kajiannya yang menyoroti eskalasi konflik di tanah suci.

Merujuk pada tafsir Surah Al-Isra ayat 7 mengenai janji akhir zaman, UAH membedah tiga fase krusial yang saat ini tengah bergulir di dunia, khususnya terkait eksistensi Masjid Al-Aqsa dan eskalasi militer global.

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

In ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asaatum falahaa; fa izaa jaaa’a wa’dul aakhirati liyasooo’oo wujoo hakum wa liyadkhulul masjida kamaa dakhaloohu awwala marratinw wa liyutabbiroo mass’alaw tatbeera

7) Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai.

Berikut adalah tiga fase keruntuhan tersebut berdasarkan penjelasan UAH:

Fase Pertama: Runtuhnya Mitos Benteng Tak Tertembus (Liya Su’u Wujuhakum)

Fase ini ditandai dengan firman Allah dalam al Isra ayat 7 yang bermakna ‘untuk memperburuk wajah-wajah kalian’ atau mempermalukan mereka di hadapan dunia.

UAH mengaitkan fase ini dengan runtuhnya mitos bahwa militer Israel adalah benteng yang mustahil ditembus.

“Persis sekarang orang-orang itu membayangkan ini gak bisa ditembus. Bentengnya kokoh, intelijennya kuat, sadapannya di mana-mana. Tapi ternyata, dunia yang melihat (Israel) kokoh itu ditunjukkan oleh Allah bisa ditembus hanya oleh ‘ormas kecil’ yang tidak sebanding,” tegas UAH.

Ia menjelaskan, peristiwa pembobolan sistem pertahanan canggih tersebut bukan sekadar unjuk kekuatan kelompok perlawanan, melainkan campur tangan Tuhan untuk menggugah kesadaran dunia.

“Yang kalian anggap hebat dan dahsyat itu ternyata bisa ditembus, dipermalukan di wajah dunia. Janji Allah tiba,” imbuhnya.

Fase Kedua: Kembali Menguasai Al-Aqsa (Wa Liya Dhukhulu l-Masjidaka…)

Fase kedua berbunyi, wa liya dhukhulu l-masjidaka ma dhukhuluhu awwala marrah (dan agar mereka masuk ke dalam masjid sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama).

Fase ini merujuk pada momentum pembebasan kembali Masjidil Aqsa.

UAH menyinggung hitungan siklus 40 tahunan sejarah perlawanan Palestina.

Merujuk pada perhitungan pendiri Hamas, Syekh Ahmad Yassin, UAH menyebut bahwa tonggak kebangkitan dimulai pada 1987 (Intifada Pertama). Jika ditambah 40 tahun, maka puncaknya diperkirakan jatuh pada 2027 atau 2028.

“Saat diharapkan paling puncaknya, Masjidil Aqsa bisa kembali lagi. Ini bukan main-main hitungan fasenya. Syekh Ahmad Yassin ketika menjelaskan itu, beliau hitung itu. Jatuhnya 2027 ke 2028,” urainya.

Fase Ketiga: Kehancuran Total dan Perang Dahsyat (Wa Liyu Tabdiru Ma’alawu Tasbihara)

Fase pemungkas ini merujuk pada kalimat yang bermakna ‘menghancurkan sekeras-kerasnya’.

UAH memprediksi bahwa puncak dari seluruh rangkaian ini akan memicu eskalasi berskala global.

Dengan hitungan siklus hingga 100 tahun, UAH memproyeksikan pergeseran kekuatan dunia dan perang besar yang bisa terjadi pada kisaran tahun 2037.

Ia bahkan mempersilakan publik untuk memvalidasi analisis ini kepada para pakar pertahanan strategis di Lemhannas.

“Hitungan saya tambah 20 tahun, karena fasenya sampai 100 tahun. Maka 2037. Silakan cek orang-orang yang menghitung di (sektor) pertahanan sekarang. Bagaimana pergeseran kekuatan dunia, saya yakin hitungan mereka di 2037 terjadi sesuatu yang dahsyat,” ulas UAH.

Meski memproyeksikan adanya guncangan global, UAH menutup kajiannya dengan nada optimis bagi bangsa Indonesia.

Ia menyebut bahwa pasca-gejolak tersebut mereda, dunia akan memasuki era baru di atas tahun 2040.

Di momen itulah, Generasi Emas 2045 yang dicanangkan Indonesia diyakini akan mengambil peran penting dalam peradaban.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya