Kajian Politik Merah Putih: ‘Rekayasa’ Ijazah Jokowi Diduga Terjadi Saat Pratikno Jadi Rektor UGM!

DEMOCRAZY.ID – Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, menilai perbincangan publik terkait dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mencuat dan terus berkembang dengan beragam versi.

Namun, ia menegaskan bahwa peran Prof. Pratikno, mantan Menteri Sekretaris Negara sekaligus mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), patut menjadi perhatian serius.

Menurut Sutoyo, indikasi kuat menunjukkan bahwa Pratikno mengetahui bahkan diduga terlibat dalam proses rekayasa ijazah Jokowi.

“Hanya yang pasti, mantan Setneg (periode 27 Oktober 2014 hingga 20 Oktober 2019 dan 23 Oktober 2019) sekaligus Rektor UGM (2012–2017) pasti tahu persis tentang rekayasa ijazah palsu Jokowi,” ujar Sutoyo, Sabtu (25/10/2025).

Ia menyebut dugaan itu bermula pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ketika Pratikno masih menjabat sebagai Rektor UGM.

Dalam periode tersebut, kata Sutoyo, muncul indikasi adanya proses manipulasi yang disebut sebagai bagian dari “rekayasa politik besar” untuk memuluskan langkah Jokowi sebagai calon presiden.

“Rentetan waktu saat SBY berkuasa dan Pratikno menjadi rektor UGM diduga menjadi momen di mana rekayasa ijazah palsu Jokowi dibuat untuk melengkapi syarat politik menuju Pilpres,” tuturnya.

Sutoyo juga menyinggung adanya dugaan keterlibatan kekuatan asing, termasuk Amerika Serikat melalui lembaga intelijen CIA.

Ia menilai Pratikno bisa saja menjadi salah satu pihak yang dijadikan perantara dalam skenario besar tersebut.

“Kesimpulan sementara, dugaan ijazah palsu Jokowi dibuat semasa Pratikno sebagai Rektor UGM. Namun rencana rekayasa dari pemilik skenario (CIA–AS) sudah dipersiapkan jauh sebelumnya satu paket dengan skenario Jokowi menjadi Gubernur DKI hingga Presiden,” ujarnya.

Sutoyo menjelaskan, rentang waktu antara kelulusan Jokowi dari UGM pada 1985 hingga pencalonannya sebagai gubernur pada 2012 mencapai 27 tahun.

“Awalnya Jokowi masih menggunakan gelar Drs, tapi setelah menjabat presiden, gelarnya berubah menjadi Ir. Perubahan itu terjadi ketika Pratikno sudah menjadi Mensesneg,” katanya.

Lebih lanjut, Sutoyo menilai perubahan politik global antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga turut memengaruhi dinamika isu ini.

Ia menduga kedua kekuatan besar dunia tersebut sudah tidak lagi membutuhkan Jokowi.

“Ledakan dugaan ijazah palsu sesuai kepentingan politik AS dan Cina. Sekarang keduanya sudah tak berkepentingan lagi, dan Jokowi akan dibiarkan menanggung beban politiknya sendiri,” ujar Sutoyo.

Ia juga menyoroti sikap Presiden Prabowo Subianto yang hingga kini belum menyinggung secara terbuka isu ijazah Jokowi.

Sutoyo menilai hal itu bisa jadi berkaitan dengan faktor politik balas budi antara keduanya.

“Boleh saja Prabowo bermain api dalam kasus ini, tapi harus siap terbakar bersama Jokowi, Pratikno, dan semua pihak yang tetap melindungi kebohongan ini,” pungkasnya.

Sumber: RadarAktual

Artikel terkait lainnya