DEMOCRAZY.ID – Serangan balasan Iran yang diluncurkan setelah tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026 disebut berdampak signifikan terhadap Israel.
Namun, gambaran terkini mengenai situasi di Israel jarang terlihat di media arus utama maupun di media sosial.
Hal ini berkaitan dengan adanya sensor militer yang sangat ketat di negara tersebut.
Kondisi ini diungkapkan oleh seorang jurnalis asal India yang baru kembali dari Israel.
Ia mengatakan bahwa pihak berwenang mengontrol dengan sangat ketat apa saja yang boleh didokumentasikan oleh wartawan terkait kerusakan akibat serangan rudal Iran, seperti dilaporkan Al Jazeera.
“Pemerintah (Israel) tidak akan memberi tahu apa pun kepada Anda. Anda tidak bisa mengunjungi rumah sakit yang menyimpan jenazah, dan ketika suatu insiden terjadi, kami bahkan tidak tahu di mana lokasi kejadian itu,” ujarnya.
Menurut Singh, otoritas pendudukan Israel juga melarang jurnalis merekam atau memfilmkan kerusakan yang disebabkan oleh serangan rudal Iran.
Kesaksiannya kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial.
Banyak pengguna menilai hal tersebut sebagai bukti adanya sensor militer Israel yang sangat ketat selama konflik berlangsung.
Singh juga menceritakan adanya perbedaan antara pernyataan resmi pemerintah dan kondisi yang ia lihat langsung di lapangan.
Ia mengatakan bahwa beberapa rudal Iran terkadang menghantam target tanpa adanya sirene peringatan sebelumnya.
“Rudal Iran terkadang menghantam tanpa sirene peringatan,” katanya.
Menurut Singh, beberapa warga sipil bahkan meninggal dunia meskipun berada di dalam tempat perlindungan, padahal pemerintah Israel sebelumnya menyatakan bahwa fasilitas tersebut aman dan mampu melindungi warga.
Ia juga menegaskan bahwa para wartawan tidak diizinkan mendokumentasikan kerusakan akibat serangan rudal Iran.
Pernyataan ini memicu perdebatan di dunia maya mengenai seberapa banyak informasi yang sebenarnya dibuka ke publik terkait dampak serangan Iran.
Sebagian pengamat berpendapat bahwa Israel sengaja membatasi informasi mengenai kerusakan dan korban selama konflik guna memengaruhi persepsi publik.
Sementara itu, pihak lain menilai pendekatan tersebut merupakan bagian dari strategi pengelolaan informasi di masa perang, yang bertujuan mengendalikan narasi di dalam negeri selama konflik masih berlangsung.
Perdebatan semakin memanas setelah muncul laporan bahwa NBC News menayangkan rekaman yang memperlihatkan sebuah rudal Iran menghantam Tel Aviv.
Namun, lokasi pasti dampak dan tingkat kerusakan tidak diungkapkan kepada publik.
Para pengamat menilai minimnya laporan detail tersebut sejalan dengan aturan sensor militer Israel yang ketat terhadap pemberitaan selama masa perang.
Sebelumnya, laporan dari unit Open Source Al Jazeera menganalisis foto udara yang dipublikasikan oleh beberapa platform Israel yang tidak berada di bawah sensor militer.
Analisis tersebut berhasil mengidentifikasi lokasi serangan rudal yang menghantam sebuah kompleks perumahan.
Menurut laporan tersebut, rudal itu menghantam langsung sebuah tempat perlindungan, sehingga menyebabkan kerusakan besar pada rumah-rumah di sekitarnya.
Media Israel juga memuat kesaksian warga di Beit Shemesh yang menggambarkan kuatnya serangan rudal Iran.
Beberapa warga bahkan mempertanyakan apakah sistem peringatan dini benar-benar memberi waktu yang cukup bagi mereka untuk mencapai tempat perlindungan.
Meskipun pihak militer menyatakan bahwa sistem peringatan telah diaktifkan, sejumlah saksi mengatakan warga tidak memiliki cukup waktu untuk mencapai bunker sebelum rudal menghantam.
Menurut Kementerian Kesehatan Israel, sebanyak 13 warga Israel tewas dan 1.929 orang lainnya terluka akibat serangan Iran sejak perang dimulai.
Dalam pernyataan resmi, kementerian tersebut menyebutkan bahwa 157 orang terluka dalam 24 jam terakhir.
Sebanyak 112 orang masih dirawat di rumah sakit, termasuk sembilan orang dalam kondisi serius.
Kementerian kesehatan setempat juga menyatakan bahwa beberapa korban terluka saat berlari menuju tempat perlindungan ketika sirene peringatan rudal berbunyi.
Sebagai informasi, eskalasi konflik ini bermula pada 28 Februari ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.200 orang di Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, serta melukai lebih dari 10.000 orang lainnya menurut laporan dari pihak Iran.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Sumber: VIVA