‘Jokowi Antek China, Prabowo Antek Amerika’

‘Jokowi Antek China, Prabowo Antek Amerika’

Oleh: Ahmad Khozinudin, S H. | Advokat & Aktivis

Pada 10 tahun kepemimpinan Jokowi, corak kekuasaan begitu melayani kepentingan China.

Sampai saat era Covid-19, dilakukan kebijakan lockdown (dengan bahasa karantina mandiri), seluruh aktivitas rakyat dibatasi.

Namun saat itu, TKA China begitu bebas hilir mudik masuk ke Indonesia.

Sejumlah tambang nikel untuk mensuport bahan baku industri mobil listrik China, beroperasi dengan dukungan penuh rezim Jokowi.

Saat PRABOWO memimpin, harapannya kedaulatan negara dapat ditegakkan. Negara bisa mandiri dan berdaulat, dalam mengelola pemerintahan dan melayani rakyat.

Pidato Prabowo yang berbusa soal antek asing, begitu menyihir publik. Seolah, saat Prabowo menjadi presiden menandai era berakhirnya intervensi asing dan aseng di negeri ini.

Namun,….

Begitu Prabowo jadi presiden ternyata kebijakannya tidak jauh beda dengan Jokowi. Menjadikan Negara, berada dibawah kendali negara lainnya.

Pada era Jokowi, orang Solo ini telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu provinsi China diluar daratan China. Di era PRABOWO, Indonesia telah dijadikan negara bagian Amerika ke-51.

Indonesia hanya berkuasa pada urusan dalam negeri, sementara kebijakan luar negeri tunduk pada pemerintahan federal Amerika di Loss Angeles.

Ditandatanganinya Resiprocal Trade Agreement (RTA/Kesepakatan Perdagangan Resiprokal), menjadi bukti Indonesia tunduk pada Amerika.

Dalam salah satu klausul pasalnya, Indonesia diwajibkan ikut memboikot negara yang di boikot Amerika.

RTA ini lebih menghina Indonesia ketimbang NATO. Dalam dokumen NATO, setiap negara yang diserang negara asing berarti serangan terhadap seluruh anggota NATO dan mewajibkan seluruh anggota menyerang dan melawan negara agresor.

Di RTA, bukan Indonesia yang diboikot sehingga Amerika ikut boikot.

Melainkan Amerika yang memboikot suatu negara lalu Indonesia diwajibkan taklid buta ikut memboikotnya.

Ilustrasinya, jika Amerika memboikot Iran untuk melemahkan Ekonomi Iran dalam isu ketegangan nuklir dan keamanan kawasan, maka Indonesia harus ikut blokir dan tidak boleh berdagang dengan Iran.

Ini perjanjian macam apa? Dimana letak resiprokal (imbal baliknya)? Yang ada, Amerika dapat imbalan, Indonesia cuma jadi tumbal.

Produk Amerika yang haram, diwajibkan masuk Indonesia tanpa perlu setifikasi halal.

Lembaga pimpinan Haekal Hasan hanya dikacungin, rakyat Indonesia yang mayoritas muslim di sumpal dengan berbagai produk industri makanan Amerika yang haram.

Miras Amerika yang haram, dibebaskan dengan dalih peningkatan kunjungan pariwisata. Sekalian saja import WTS dari Amerika !

Belum lagi, kebodohan PRABOWO yang bertekuk lutut pada Trump, ikut Board Of Peace.

Dalihnya membela Palestina, tapi aktualnya membela kepentingan Amerika dan Israel. Celakanya, TNI ikut dikorbankan dengan menjadikan TNI sekedar ‘Satpam’ kekuasaan Amerika di Gaza.

Di momen Ramadhan ini, bukannya rakyat tenang dan khusuk menjalankan ibadah, Prabowo malah menggangu kekhusukan. Membuat kebijakan yang membuat umat Islam marah.

Yang lebih menyakitkan, Prabowo menjadikan jaminan keamanan bagi Israel sebagai syarat perdamaian Palestina. Benar-benar tuna sejarah ! Negara penjajah dilindungi untuk mewujudkan perdamaian negeri yang dijajah. Darimana logkanya?

Tapi sudah begitu, Wakil Ketua MBG yang tugasnya jadi Katering Nasional, Naniek S Deyang sibuk memuja muja Prabowo.

Katanya, Dulu dilarang masuk Amerika, sekarang dihormati Amerika. Padahal, Prabowo betul-betul dipermalukan oleh Trump saat pose foto hanya menjadi tukang pegang dokumen.

Prabowo 11 12 dengan Jokowi. Menjadikan kedaulatan Indonesia ada pada kendali negara asing.

Prabowo antek asing?

Artikel terkait lainnya