Jika Perang Dunia III Meletus, Ini Daftar Kota AS yang Diprediksi Jadi Target Serangan Awal!

DEMOCRAZY.ID – Kekhawatiran akan pecahnya Perang Dunia Ketiga kembali menguat setelah seorang pakar nuklir mengungkap sejumlah kota di Amerika Serikat yang berpotensi menjadi target utama serangan jika konflik global benar-benar terjadi.

Situasi geopolitik dunia sepanjang Januari 2026 dinilai semakin tidak stabil.

Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro, disusul klaim aneksasi Greenland serta ancaman intervensi militer terhadap Iran.

Di saat yang sama, invasi Rusia ke Ukraina masih terus berlangsung, sementara konflik di Suriah kembali memanas.

Namun, jika ketegangan memburuk dan negara-negara besar terlibat konflik langsung, apa yang mungkin terjadi?

Berbagai skenario mengenai pecahnya Perang Dunia III telah dibahas.

Salah satu yang paling sering disebut adalah konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Rusia.

Jika itu terjadi, dampaknya diperkirakan akan menjadi bencana bagi kedua negara.

Skenario tersebut diantisipasi oleh Alex Wellerstein, sejarawan nuklir sekaligus profesor di Stevens Institute of Technology, dalam wawancaranya dengan MailOnline pada Juni tahun lalu.

Ia menyebut ada banyak lokasi di AS yang berisiko menjadi target serangan, sebagian di antaranya merupakan sasaran yang cukup jelas.

1. Honolulu, Hawaii

Hawaii, negara bagian paling barat AS, menjadi lokasi sejumlah pangkalan militer penting dan berperan besar dalam pengaruh Washington di kawasan Pasifik.

Dengan fasilitas strategis seperti Pearl Harbor dan Pangkalan Angkatan Udara Hickam, kepulauan berpenduduk sekitar 350 ribu jiwa ini diperkirakan menjadi target utama.

2. Shreveport, Louisiana

Shreveport mungkin bukan kota yang populer di luar AS.

Namun, kota ini menjadi lokasi Pangkalan Angkatan Udara Barksdale, markas utama Komando Serangan Global Angkatan Udara (AFGSC), yang menampung sebagian besar pesawat pembom dan rudal strategis Amerika.

Shreveport bukan satu-satunya wilayah dekat pangkalan utama.

Instalasi penting juga berada di sekitar Cheyenne (Wyoming), Great Falls (Montana), Omaha (Nebraska), serta wilayah metropolitan Ogden–Clearfield (Utah).

Sebagian besar kota tersebut berukuran kecil dan dinilai tidak memiliki infrastruktur memadai untuk evakuasi massal secara mendadak.

3. Colorado Springs, Colorado

Colorado Springs menjadi markas Komando Pertahanan Udara Amerika Utara (NORAD) dan Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Peterson.

Kota ini memiliki peran vital dalam sistem pertahanan udara, tidak hanya bagi AS tetapi juga seluruh Amerika Utara.

4. Albuquerque, New Mexico

Selain dikenal sebagai latar serial televisi Breaking Bad, Albuquerque juga berada dekat dengan Pangkalan Angkatan Udara Kirtland, yang diyakini menyimpan salah satu gudang senjata nuklir terbesar di dunia.

Hal ini menjadikannya target strategis bagi negara penyerang.

5. Houston, Texas

Houston, kota pesisir dengan populasi sekitar 2,3 juta jiwa, dikenal sebagai pusat industri energi AS.

Kemampuan produksi minyak dan gasnya membuat kota ini memiliki nilai strategis tinggi, sehingga berpotensi menjadi sasaran serangan.

Kota-kota besar lainnya

Selain lokasi militer strategis, musuh juga kemungkinan menargetkan pusat populasi besar untuk melemahkan moral masyarakat.

Beberapa kota yang disebut antara lain Los Angeles, Chicago, dan New York, yang merupakan tiga kota dengan populasi terbesar di AS sekaligus pusat berbagai industri penting.

Serangan terhadap kota-kota tersebut berpotensi menimbulkan korban besar sekaligus melumpuhkan semangat publik.

Jika perang nuklir pecah, presiden yang sedang menjabat kemungkinan telah dievakuasi menggunakan pesawat khusus darurat.

Namun, hal itu tidak akan mencegah musuh menargetkan pusat pemerintahan AS, termasuk Gedung Putih dan markas Departemen Pertahanan di Pentagon.

Jika Trump Menginvasi Greenland: AS vs NATO

Selain potensi konflik AS-Rusia, Perang Dunia III juga dikhawatirkan bisa pecah jika AS benar-benar menginvasi Greenland, menyusul laporan bahwa Trump memerintahkan militer menyiapkan rencana tersebut.

Trump telah menunjukkan ketertarikan pada Greenland sejak masa jabatan pertamanya dan kembali mengangkat isu itu setelah dilantik untuk periode kedua.

Ia menilai wilayah otonom Denmark tersebut penting bagi keamanan nasional AS dan dibutuhkan segera.

Secara geografis, Greenland memang berada di lokasi strategis antara Amerika Utara dan Arktik, sehingga ideal sebagai sistem peringatan dini terhadap serangan rudal.

Namun, sejumlah pihak meragukan alasan tersebut.

Jeremy Shapiro, mantan pejabat Departemen Luar Negeri era Barack Obama yang kini menjadi direktur riset di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri di Washington, menyebut argumen Trump tidak berdasar.

“Argumen Presiden tentang Greenland jelas-jelas omong kosong dari atas sampai bawah,” katanya kepada POLITICO (16/1/2026).

Meski mendapat penolakan dari banyak negara NATO, Trump disebut tetap meminta para jenderal menyiapkan rencana invasi.

Harrison Kass, penulis senior bidang pertahanan dan keamanan nasional di The National Interest, memperkirakan operasi militer AS akan berfokus pada akses, kontrol, dan logistik, tanpa membutuhkan kehadiran pasukan besar karena populasi Greenland relatif kecil.

Greenland sendiri kemungkinan akan bergantung pada NATO untuk pertahanan, sebab Denmark dan wilayah itu dinilai tidak memiliki kekuatan cukup untuk menghadapi AS sendirian.

Jika invasi terjadi, Kass memperingatkan AS berpotensi merusak bahkan menghancurkan aliansinya dengan NATO, terutama setelah Trump sebelumnya menuntut negara-negara anggota menaikkan belanja pertahanan hingga 5 persen PDB pada 2035.

Anggota DPR dari Partai Republik, Michael McCaul, juga menyampaikan kekhawatiran serupa.

“Jika [Trump] melakukan invasi militer, itu pada dasarnya akan memicu Pasal 5 NATO dan berarti perang dengan NATO sendiri,” katanya, seperti dikutip ABC News.

“Itu bisa mengakhiri NATO seperti yang kita kenal.”

Ia menambahkan bahwa peningkatan kehadiran militer masih bisa dilakukan tanpa perlu invasi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Trump untuk mencari solusi diplomatik.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya