DEMOCRAZY.ID – Mojtaba Hosseini Khamenei yang digadang-gadang akan menjadi Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan mengalami luka akibat serangan Israel.
Mojtaba Khamenei diyakini terluka dalam upaya pembunuhan yang terjadi dalam sepekan terakhir di tengah operasi militer yang disebut Operation Epic Fury, demikian seperti dilaporkan The Sun, dikutip Senin 9 Maret 2026.
Meski disebut sebagai kandidat terdepan untuk menggantikan posisi Ayatollah Iran berikutnya, hingga saat ini Mojtaba belum terlihat di publik sejak kabar tentang serangan terhadap keluarga Khamenei mencuat.
Pria 56 tahun itu disebut dipilih sebagai kandidat utama Pemimpin Tertinggi setelah dua kali pertemuan Dewan Ahli Iran.
Informasi itu diungkap sejumlah pejabat rezim kepada The New York Times.
Sebagai informasi, Mojtaba dikenal sebagai tokoh garis keras yang sangat anti-Barat.
Ia juga disebut memiliki pengaruh besar di balik layar ketika ayahnya masih berkuasa.
Ia diketahui mendukung pengembangan bom nuklir dan memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), pasukan elit yang dikenal sangat berpengaruh dan keras.
Kehidupan pribadinya juga pernah menjadi sorotan. Ulama konservatif itu dilaporkan memiliki sejumlah properti mewah di Inggris dengan nilai lebih dari 100 juta pound sterling atau setara Rp 2,29 triliun.
Menurut laporan Bloomberg, portofolio propertinya mencakup 11 rumah di Bishop’s Avenue di London, kawasan elite yang dijuluki “Billionaire’s Row”.
Ia juga diyakini mengendalikan jaringan investasi besar yang tersebar di Teheran, Dubai, dan Frankfurt, serta dilaporkan menyimpan dana dalam rekening bank di Swiss.
Pada Januari lalu, ia disebut memindahkan hampir 250 juta pound sterling atau setara Rp5,725 triliun ke Dubai menggunakan mata uang kripto.
Mojtaba juga dilaporkan memiliki jet pribadi, helikopter untuk perjalanan mendesak, serta armada mobil mewah Mercedes.
Sebelum ayahnya tewas, ia mengajar di seminari terbesar Iran di kota Qom.
Sebelumnya, ia diketahui pernah menimba ilmu dari seorang ulama ekstrem yang dijuluki “Ayatollah Buaya”.
Mojtaba, yang disebut memiliki catatan hak asasi manusia yang buruk, juga diduga terlibat dalam penindasan terhadap berbagai aksi protes dalam negeri. Ia juga pernah bertugas dalam Perang Iran–Irak.
Namanya sebenarnya sudah lama disebut-sebut sebagai calon Pemimpin Tertinggi Iran.
Sebuah laporan dari Middle East Institute pada 2022 menyebutkan bahwa dirinya tidak diragukan lagi Mojtaba ingin menjadi pemimpin tertinggi Iran.
Namun laporan itu juga menyoroti berbagai tantangan yang ia hadapi, salah satunya karena ayahnya sendiri menentang sistem kekuasaan turun-temurun yang dianggap mirip dengan sistem monarki Iran di masa lalu.
Jika kepemimpinan diwariskan kepada anggota keluarga, hal itu diperkirakan akan memicu kemarahan banyak ulama senior tradisional yang bisa saja mengaitkannya dengan masa kekuasaan Shah Iran.
Laporan tersebut juga menyebut bahwa konsep pemimpin tertinggi yang diwariskan secara keluarga bertentangan dengan tradisi Islam Syiah, di mana garis keturunan kepemimpinan religius secara khusus hanya diperuntukkan bagi 12 imam Syiah yang diyakini ditunjuk secara ilahi.
“Jika Khamenei tetap memaksakan opsi ini, setelah kematiannya kemungkinan besar akan memicu gejolak di kalangan hawza Syiah (seminari) serta di antara sejumlah faksi elite politik Republik Islam,” tulis laporan tersebut.
Selain itu, Ayatollah yang telah wafat sebelumnya disebut telah menyiapkan tiga kandidat potensial pengganti dirinya dan tidak satu pun di antaranya adalah Mojtaba.
Kandidat yang disebut paling kuat itu juga memiliki kakak bernama Mostafa, yang juga berprofesi sebagai ulama.
Pemilihan Mojtaba diyakini terjadi di tengah tekanan dari Garda Revolusi Iran yang mendesak pemerintah untuk mengambil sikap lebih keras dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel.
Pasukan elit tersebut mendorong penunjukan Mojtaba dengan alasan bahwa ia memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk memimpin Iran di tengah situasi krisis.
Sumber: VIVA