DEMOCRAZY.ID – Menurut laporan yang belum dikonfirmasi, Jenderal Zhang Youxia, yang menjabat Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) China berencana mengirimkan satu kompi pasukan (lebih dari seratus orang) ke Hotel Yingxi milik pemerintah di Beijing barat pada tanggal 18 Januari 2026.
Misi mereka adalah untuk menangkap Presiden Xi Jinping.
Namun informasi tersebut bocor dan diketahui Presiden Xi Jin Ping. Beberapa jam sebelumnya, presiden China yang diberi tahu oleh seorang informan lalu menggerakkan tindakan balasan.
Pasukan di bawah Komando Cao Qi, Kepala Biro Pengawal Pusat Xi Jin Ping kemudian menyergap tentara Zhang.
Dalam baku tembak yang terjadi di Hotel Yingxi, dilaporkan sembilan penjaga tewas bersama dengan puluhan tentara Zhang Youxia.
Di seluruh China pergerakan militer telah dilarang dan pasukan serta perwira telah dikurung di barak.
Ini adalah rumor paling mengerikan dari serangkaian rumor yang menyebar di internet selama akhir pekan.
Jika benar, ini adalah skandal militer paling dramatis sejak kematian kepala angkatan darat Mao Zedong, Lin Biao pada tahun 1972.
Tanpa secara eksplisit menyebutkan upaya kudeta, media pemerintah melaporkan bahwa Zhang dan anggota Komisi Militer Pusat lainnya, Liu Zhenli telah ditangkap karena pelanggaran serius terhadap disiplin dan hukum.
Keakuratan rumor yang beredar tersebut tampaknya didukung oleh kecepatan dan keseriusan pengumuman yang luar biasa di surat kabar resmi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang mengkonfirmasi penangkapan Zhang karena mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepada mereka oleh partai dan Komisi Militer Pusat.
Departemen pertahanan nasional mengkonfirmasi dugaan kejahatan yang sedang diselidiki terhadap mereka.
Konspirasi tidak disebutkan, tetapi korupsi disebutkan tuduhan yang tidak sulit untuk dibuktikan, karena semua perwira militer dan politisi senior China dapat diasumsikan memiliki kepentingan pribadi termasuk Xi dan keluarganya.
Diketahui, Presiden China Xi Jinping dilaporkan memecat seorang jenderal elit Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) setelah kepergok membocorkan informasi sensitif terkait program senjata nuklir China kepada Amerika Serikat.
Kasus ini langsung mengguncang jajaran tertinggi militer dan memicu perhatian luas di dalam maupun luar negeri.
Dugaan serius ini mencuat dalam laporan The Wall Street Journal (WSJ) yang mengutip sejumlah sumber anonim yang mengetahui pengarahan tingkat tinggi terkait penyelidikan tersebut.
Menurut laporan tersebut, sang jenderal diduga memberikan data teknis strategis kepada pihak asing, sebuah pelanggaran berat yang dikategorikan sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional.
Jenderal yang dimaksud adalah Zhang Youxia, 75 tahun, anggota Politbiro Partai Komunis China dan tokoh senior dalam struktur militer negara itu.
Pengarahan internal itu dilaporkan berlangsung sebelum Kementerian Pertahanan China mengumumkan secara resmi pada 24 Januari, pihaknya tengah menyelidiki Jenderal Zhang atas dugaan pelanggaran serius.
Rencana kudeta, pembunuhan, dan pembantaian bukanlah hal baru bagi Partai Komunis China (PKC).
Pada perjalanan selama setahun antara tahun 1934 dan 1935 pernah terjadi upaya kudeta untuk melarikan diri dari kejaran pasukan Kuomintang (nasionalis) pimpinan diktator Republik China, Chiang Kai Shek, Mao Zedong memimpin apa yang disebut ‘sesi perjuangan’.
Anggota senior partai dipaksa untuk mengakui kejahatan ideologi dan konsekuensinya biasanya berupa pemenjaraan dan eksekusi.
Bagi Mao, tujuannya adalah untuk memusatkan dan memperkuat partai serta menyingkirkan ‘dogmatisme asing’, terutama Wang Ming yang terlatih di Moskow, pemimpin ‘Bolshevik 28’.
Demikian pula, periode tenang Perang Sino-Jepang Kedua dari tahun 1942 hingga 1945 dimungkinkan oleh pakta ‘kebuntuan’ Mao dengan Jepang yang memungkinkan pasukan Kaisar Hirohito untuk memfokuskan perhatian mereka pada mengalahkan Chiang Kai Shek.
Selama waktu ini, Mao memulai pembersihan yang dikenal sebagai ‘kampanye perbaikan Ya’nan’.
Bertujuan untuk kemurnian ideologis seputar agenda nasionalis non-Soviet, kampanye tersebut menanamkan pemikiran Mao Zedong dan kultus kepribadiannya di dalam Partai Komunis China (PKC).
Namun, perbandingan terdekat dengan kudeta Zhang yang gagal adalah contoh kepala Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), Lin Biao yang naik ke kepemimpinan militer setelah serangan verbalnya yang kejam terhadap jenderal senior Peng Dehui pada konferensi Lushan tahun 1959.
Lin memoles kredibilitasnya sebagai pengikut setia Mao dengan memperjuangkan penerbitan Buku Merah Kecil Mao, sebuah rangkuman ucapan-ucapannya yang menjadi teks pendidikan wajib.
Ketika Mao diserang oleh rekan-rekannya setelah program kolektivisasi yang membawa bencana serta menyebabkan 30 hingga 50 juta orang China kelaparan, ia meluncurkan revolusi kebudayaan untuk tetap berkuasa.
Lin dipanggil dari tempat tidurnya oleh Mao untuk memberikan dukungan militer di sisinya pada saat kritis ini.
Sumber: Tribun