Israel Panik! Donald Trump Akan ‘Setop’ Perang Meski Tanpa Deal dengan Iran

DEMOCRAZY.ID – Presiden Donald Trump dilaporkan bakal segera mengambil langkah mengejutkan mewakili Pemerintah Amerika Serikat terkait konflik berdarah di Timur Tengah.

Rumor yang beredar menyebutkan bahwa sang presiden berpotensi mendeklarasikan penghentian perang secara sepihak dan memaksa Pemerintah Israel bersiap menghadapi keputusan tersebut.

Rencana itu kabarnya membuat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersiaga penuh mengejar target militer, mengingat perang ini bermula dari tewasnya Pemimpin Iran Ali Khamenei.

Media televisi Channel 12 yang berbasis di Tel Aviv baru saja merilis laporan mengejutkan mengenai skenario masa depan perang yang sedang berkecamuk ini.

Laporan tersebut menyebutkan adanya asumsi kuat di kalangan internal kabinet bahwa proklamasi penghentian perang kemungkinan dilakukan pada hari Sabtu, 28 Maret.

Otoritas setempat mengantisipasi pengumuman penghentian permusuhan tersebut meski kesepakatan akhir dan definitif dengan pihak Teheran belum benar-benar terwujud secara resmi.

Sumber-sumber keamanan menganggap bahwa kemungkinan tercapainya sebuah kesepakatan yang terperinci antara pihak Iran dan AS sangatlah rendah saat ini.

Meski begitu, mereka meyakini bahwa langkah antisipasi sangat diperlukan guna menghadapi kemungkinan munculnya sebuah “framework agreement.”

Merespons potensi tersebut, jajaran pejabat senior di lingkaran politik dan keamanan setempat dilaporkan telah menyepakati sebuah taktik strategis baru.

Mereka secara aklamasi sepakat untuk “memanfaatkan sepenuhnya keuntungan yang diperoleh dalam perang” sebagai persiapan matang menghadapi skenario penghentian serangan udara.

Kesepakatan penting terkait masa depan operasi militer ini dicapai dalam sebuah pertemuan khusus yang diselenggarakan di kediaman pribadi sang perdana menteri.

Dalam pertemuan darurat tersebut, para petinggi keamanan Israel telah menentukan urutan prioritas tujuan yang harus segera dicapai “sebelum AS mengerem lajunya.”

Laporan itu lebih lanjut menegaskan bahwa jika “rem seperti itu diterapkan,” maka militer rezim Zionis akan langsung bergerak mengeksekusi tujuan-tujuan strategisnya.

Sebaliknya, jika pertempuran dibiarkan terus berlanjut tanpa henti, seluruh sasaran tempur tersebut akan dihancurkan secara berurutan seiring dengan penentuan target baru.

Konflik berskala besar ini sendiri meletus usai pihak sekutu melancarkan serangan militer gabungan terhadap fasilitas Teheran pada tanggal 28 Februari lalu.

Agresi mematikan tersebut ironisnya terjadi tepat ketika proses negosiasi tingkat tinggi antara pemerintah Teheran dan Washington sedang berlangsung.

Pihak militer Iran kemudian merespons agresi tersebut dengan melancarkan serangan balasan mematikan ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan regional.

Target rudal balistik balasan Teheran mencakup wilayah negara pendudukan, Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Bahrain yang menjadi tuan rumah bagi fasilitas Washington.

Rangkaian serangan mematikan yang diinisiasi oleh Washington dan sekutunya itu sebelumnya telah mengakibatkan tewasnya mantan pemimpin spiritual Iran beserta sejumlah pejabat tinggi.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya