DEMOCRAZY.ID – Inilah ironi Indonesia. Kendati menyandang negara dengan cadangan emas terbesar keempat di dunia berdasarkan data U.S. Geological Survey, Mineral Commodity Summaries (USGS), tetapi kebutuhan emas dalam negeri justru harus impor dari sejumlah negara termasuk Singapura.
Dalam setahun, Indonesia harus mengimpor sebanyak 30 ton guna memenuhi tingginya kebutuhan domestik.
Kenyataan ini kemudian menimbulkan tanda tanya besar, ada apa gerangan dengan produksi emas dalam negeri? PT Aneka Tambang Tbk (Antam) sebagai perusahaan BUMN menyampaikan realita di lapangan.
Saat ini, tambang emas Pongkor milik Antam di Bogor, Jawa Barat, hanya mampu memproduksi 1 ton emas per tahun. Jumlah ini jauh lebih kecil dari total kebutuhan.
Bahkan, menurut Direktur Utama Antam Achmad Ardianto, kebutuhan masyarakat akan emas terus mengalami peningkatan.
Tercatat, pada 2024 lalu, penjualan emas mencapai 37 ton, dan ditargetkan pada tahun ini mencapai 45 ton.
“Jadi emas yang dihasilkan oleh Antam, ditambang oleh Antam itu cuma 1 ton setahun. Sementara kebutuhan masyarakat tahun lalu 37 ton, sekarang 43 ton,” ungkap Achmad Ardianto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR, di Jakarta, Senin (29/9/2025) lalu.
Hal inilah yang memaksa Antam untuk melakukan manuver. Antara lain, membeli dari pasar lokal.
“Jadi emas-emas masyarakat yang dulu dibeli di Antam kemudian butuh cash, dijual kembali ke Antam, itu menjadi sumber bagi kami untuk dicetak dengan versi yang baru. Itu cuma 2,5 ton satu tahun dapatnya,” katanya.
Pilihan kedua, membeli emas yang berasal dari perusahaan-perusahaan tambang di Indonesia yang memurnikannya di Antam.
Di sini, Antam akan menawarkan pembelian emas kepada perusahaan tersebut.
“Nah soalnya adalah tidak ada aturan yang mewajibkan mereka untuk menjual ke Antam. Jadi menjadi fleksibilitas bagi perusahaan tambang di Indonesia untuk menjualnya di dalam negeri ataupun mengekspor,” ungkap Achmad.
Sementara opsi ketiga, membeli emas dari luar negeri atau impor yang berasal dari perusahaan dan lembaga yang terafiliasi dengan London Bullion Market Association (LBMA). Baik melalui bullion bank, refinery, maupun trader.
“Nah kita membeli dari refinery maupun bullion trader yang ada di Singapura maupun Australia. Dengan harga apa? Dengan harga pasar, Pak. Jadi semuanya itu sebenarnya transparan dan bisa dilacak. Lalu kenapa Antam impor? Ya judulnya terpaksa Pak. Karena kebutuhan masyarakat besar sementara sumber tidak ada,” ungkap Achmad terus terang.
Sumber: LiraNews