DEMOCRAZY.ID – Ketegangan di Timur Tengah sering kali menempatkan Iran sebagai target utama gertakan militer Barat.
Namun, menghancurkan Negeri Mullah tersebut bukan perkara mudah.
Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Teuku Rezasyah menilai ada tembok tebal yang membuat Iran sulit digoyahkan, bahkan oleh kekuatan militer Amerika Serikat (AS) sekalipun.
“Iran tidak mudah digoyahkan, apalagi dihancurkan,” tegas Reza dalam webinar Global Insight Forum bertajuk Setelah Venezuela, Iran & Greenland: Siapa Target Selanjutnya yang dipantau daring di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Lantas, apa yang membuat Iran begitu tangguh? Berikut adalah enam faktor strategis yang dirangkum dari analisis Teuku Rezasyah:
Sama seperti China, India, dan Romawi, Iran adalah pusat peradaban awal dunia.
Kesadaran historis ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bahan bakar semangat nasionalisme yang luar biasa bagi rakyat dan pemerintahnya untuk menjaga marwah bangsa dari intervensi asing.
Struktur kepemimpinan di Iran memiliki legitimasi ideologis yang kuat di mata masyarakatnya.
Pemerintah dipandang mampu memberikan keteladanan serta konsisten mengedepankan kemandirian nasional di tengah kepungan sanksi internasional.
Berbeda dengan banyak negara yang bergantung pada impor senjata, Iran membangun kekuatan militernya secara autentik.
“Peluru kendali mereka telah disiapkan untuk berbagai jarak —pendek, menengah, hingga jauh. Ini termasuk ancaman serius bagi kapal induk di kawasan Timur Tengah,” ujar Reza.
Secara geopolitik, Iran memegang kendali atas Selat Hormuz. Jika konflik terbuka pecah, Iran diprediksi akan memblokade jalur vital energi dunia tersebut.
Langkah ini dipastikan bakal melumpuhkan perdagangan global dan memicu krisis energi akut.
Negara-negara di kawasan Teluk berada dalam bayang-bayang ketakutan akan balasan Iran.
Jika diserang, Teheran memiliki stok misil masif yang mampu menjangkau titik-titik strategis lawan.
Pengalaman masa lalu membuktikan bahwa tanpa bantuan AS, kota-kota besar di sekitarnya bakal mengalami kerusakan signifikan dalam waktu singkat.
Iran dikenal memiliki jaringan intelijen yang mumpuni dalam mendeteksi dan menindak infiltrasi lawan.
Di sisi lain, negara-negara NATO mulai enggan mendukung serangan langsung ke Iran karena menyadari dampak geopolitik yang terlalu berisiko.
Meskipun Presiden AS Donald Trump baru-baru ini memperingatkan Iran soal program nuklirnya, Reza memprediksi serangan yang mungkin terjadi hanya berskala kecil dan bertujuan untuk pencitraan politik sebelum tanggal 11 Februari.
“AS mungkin hanya melakukan serangan kecil sekadar untuk menyatakan diri sebagai pemenang dan menjaga wajah di panggung internasional,” pungkasnya.
Sumber: Inilah