DEMOCRAZY.ID – Menjadi pemimpin bukan perkara mudah karena memikul tanggung jawab yang besar. Dalam Islam, sosok pemimpin dituntut meneladani sifat Nabi Muhammad Saw.
Mengutip Majelis Ulama Indonesia, ada empat karakter utama yang wajib dimiliki setiap pemimpin, yakni shiddiq (jujur), tabligh (menyampaikan), amanah (dapat dipercaya), dan fathanah (cerdas).
Sayangnya, dalam kenyataan, tidak sedikit yang justru bersikap zalim dan menyalahgunakan wewenang demi kepentingan pribadi maupun kelompoknya.
Padahal, Allah Swt telah menegaskan ancaman azab yang pedih bagi siapa pun yang berlaku zalim terhadap sesama manusia, sebagaimana tercantum dalam surah Asy-Syura ayat 43, yang berbunyi:
اِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنَ يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ وَيَبْغُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
innamas-sabîlu ‘alalladzîna yadhlimûnan-nâsa wa yabghûna fil-ardli bighairil-ḫaqq, ulâ’ika lahum ‘adzâbun alîm.
Artinya: Sesungguhnya alasan (untuk menyalahkan) itu hanya ada pada orang-orang yang menganiaya manusia dan melampaui batas di bumi tanpa hak (alasan yang benar). Mereka itu mendapat siksa yang sangat pedih.
Lantas, seperti apa ciri-ciri pemimpin yang bersikap zalim agar kita dapat menghindarinya?
Salah satu ciri pemimpin zalim adalah terlena oleh kekuasaan. Seorang pemimpin yang memiliki sifat ini cenderung berani menindas sesama manusia.
Sang pemimpin berpikir bahwa dengan kekuasaan, ia bisa melakukan segalanya. Pada saat bersamaan, ia lupa bahwa ada kekuasaan Allah Swt. yang jauh lebih besar.
Bukan hanya orang lain, terlena dengan kekuasaan juga bisa menghancurkan diri sendiri. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Nabi Muhammad Saw pernah menggambarkan kerusakan agama akibat kekuasaan.
“Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas, menuju seekor kambing (maka kerusakan yang terjadi pada kambing itu) tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan pada agam seseorang yang ditimbulkan akibat ambisi terhadap harta dan kemuliaan.” (HR. Tirmidzi no. 2376; Ahmad, 25:82; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Pemimpin zalim juga mereka yang menyesatkan atau memerintahkan kepada bawahannya melakukan tindakan yang melanggar aturan agama dan moral.
Hal itu sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban yang artinya:
“Aku tidak takut (ujian yang akan menimpa) pada umatku, kecuali (ujian) para pemimpin sesat.” (HR. Ibnu Hibban)
Jahil dalam agama juga merupakan ciri pemimpin yang zalim. Jahil adalah bahasa Arab yang berarti bodoh, kurang akal, atau tidak berilmu.
Pemimpin yang jahil dalam agama bisa saja membuat kebijakan yang bertentangan dengan syariat Islam dan tidak meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad Saw.
Bukan hal baru kalau calon pemimpin mengumbar janji manis selama kampanye.
Mereka menyebut akan memperbaiki banyak hal hingga meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Namun, kenyataannya tak semua pemimpin terpilih menepati janjinya. Padahal, janji termasuk utang yang harus dibayar.
Dalam surah An-Nahl ayat 91, Allah Swt telah memerintahkan orang-orang beriman untuk selalu menepati janji, baik janji kepada Allah Swt maupun sesama manusia.
Berikut adalah bunyi dan arti surah An-Nahl ayat 91:
وَاَوْفُوْا بِعَهْدِ اللّٰهِ اِذَا عَاهَدْتُّمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْاَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّٰهَ عَلَيْكُمْ كَفِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَ
Artinya: Tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji. Janganlah kamu melanggar sumpah(-mu) setelah meneguhkannya, sedangkan kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Selain itu, Nabi Muhammad Saw. juga menyebut bahwa orang yang tidak menepati janjinya adalah orang munafik sebagaimana sabda Rasulullah berikut ini:
“Ada empat sifat yang jika ada pada seseorang, maka ia adalah orang munafik, dan jika ada pada seseorang salah satu dari sifat-sifat tersebut, maka ia memiliki salah satu sifat kemunafikan hingga ia meninggalkannya: jika ia berbicara maka ia berdusta, jika ia berjanji maka ia mengingkari, jika ia berjanji maka ia berkhianat, dan jika ia berdebat maka ia curang.”
Sifat lainnya pemimpin zalim adalah memerintah secara diktator atau otoriter. Hal itu tidak menghargai prinsip musyawarah dan demokrasi. Nabi Muhammad Saw. bersabda:
“Sesungguhnya seburuk-buruknya para penguasa adalah penguasa al-huthamah (diktator).” (HR. Al-Bazzar)
Berpura-pura beriman alias munafik juga merupakan ciri pemimpin zalim. Pemimpin yang memiliki sifat ini cenderung menggunakan simbol agama untuk mencari dukungan.
Nabi Muhammad Saw bersabda: “Dua golongan umatku yang keduanya tidak akan pernah mendapatkan syafaatku: pemimpin yang bertindak zalim (terhadap rakyatnya), dan orang yang berlebihan dalam beragama hingga sesat dari jalan agama.” (HR. Thabrani)
Menipu rakyat seperti membuat janji palsu agar mendapat dukungan hingga menyembunyikan kebenaran juga merupakan salah satu ciri pemimpin yang zalim.
Nabi Muhammad Saw memerintahkan umatnya untuk menjadi pemimpin yang adil. Jika melanggar, neraka hukumannya.
“Pemimpin mana saja yang dipercaya memimpin rakyat, lalu ia menipu mereka (rakyat), maka ia akan masuk neraka.” (HR. Imam Ahmad)
Allah Swt. memberikan peringatan keras bagi para pemimpin yang zalim seperti azab yang pedih hingga diharamkan dari surga. Berikut adalah penjelasannya:
innamas-sabîlu ‘alalladzîna yadhlimûnan-nâsa wa yabghûna fil-ardli bighairil-ḫaqq, ulâ’ika lahum ‘adzâbun alîm
Artinya: Sesungguhnya alasan (untuk menyalahkan) itu hanya ada pada orang-orang yang menganiaya manusia dan melampaui batas di bumi tanpa hak (alasan yang benar). Mereka itu mendapat siksa yang sangat pedih.
Pemimpin yang zalim tidak akan masuk surga sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:
“Siapa saja yang telah Allah jadikan pemimpin, lalu dia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, maka surga Allah haram atas dirinya.” (HR. Ahmad)
Dalam hadis lainnya, Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa pemimpin yang menyusahkan rakyat bakal mendapat kesusahan.
“Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR. Muslim)
Dalam kitab Al-Kabair, Adz-Dzahabi juga menuturkan bahwa Rasulullah pernah bersabda sebagai berikut:
“Ada dua golongan manusia dari kalangan umatku yang tidak akan pernah mendapat syafaatku, yakni penguasa yang zalim yang menipu (rakyatnya) dan berlebih-lebihan dalam agama.”
“Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerimanya dalam memutuskan (suatu perkara).” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim)
Sumber: Inilah