INFO! Trump Umumkan Perang Lawan Iran ‘Selesai’ Usai Diskusi dengan Vladimir Putin

DEMOCRAZY.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengisyaratkan bahwa operasi militer Amerika Serikat di Iran akan segera berakhir.

Pernyataan ini disampaikan Trump hanya beberapa jam setelah ia melakukan percakapan telepon yang bersifat rahasia dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Seiring pernyataan ini, harga minyak dunia langsung turun cukup drastis dari level tertinggi di angka USD 120 dengan rata-rata USD 105 jadi kisaran USD 80.

Saat artikel ini ditulis pada Selasa (10/3/2026), harga minyak mentah WTI berada di kisaran USD 87.

Dalam keterangannya kepada CBS News, Trump mengeklaim bahwa kekuatan militer Iran—mulai dari angkatan laut, angkatan udara, hingga sistem komunikasi—telah lumpuh total akibat serangan presisi yang dilancarkan militer AS.

“Saya rasa perang ini sudah hampir selesai. Mereka tidak memiliki angkatan laut, komunikasi, maupun angkatan udara yang tersisa,” ujar Trump dengan nada optimis.

Menurut laporan dari pihak Kremlin, pembicaraan Trump dan Putin tidak hanya membahas mengenai penghentian konflik di Iran, tetapi juga menyentuh topik krusial lainnya, termasuk perang di Ukraina serta dinamika pasar minyak di Venezuela.

Sinyal perdamaian ini langsung direspons positif oleh pasar keuangan global yang sempat terpuruk.

Indeks Dow Jones ditutup menguat 200 poin setelah sempat jatuh 900 poin, sementara saham S&P 500 dan Nasdaq turut mencatatkan rebound signifikan.

Harga minyak mentah AS juga mengalami penurunan ke angka US$86 per barel dari sebelumnya US$91, menyusul pernyataan Trump yang mengindikasikan stabilisasi situasi di Selat Hormuz.

Di tengah runtuhnya infrastruktur militer Iran, Trump memberikan pesan keras kepada pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang baru saja dilantik pada Minggu lalu pasca-kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.

Saat ditanya mengenai pesannya bagi Mojtaba, Trump menjawab dengan dingin, “Saya tidak punya pesan untuknya. Sama sekali tidak ada.”

Sumber internal Gedung Putih bahkan menyebutkan bahwa Trump siap memberikan dukungan jika ada pihak yang ingin menyingkirkan Mojtaba, terutama jika sang pemimpin baru tersebut menolak untuk menghentikan program nuklir negara tersebut.

Mojtaba sendiri dikenal sebagai sosok fundamentalis garis keras yang memiliki hubungan sangat erat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC).

Saat ini, namanya sudah masuk dalam daftar target eliminasi oleh pihak Israel.

Ketegangan Tersembunyi dengan Israel

Meskipun terlihat kompak di panggung dunia, friksi mulai tampak antara Washington dan Tel Aviv.

Trump dilaporkan sangat murka atas serangan udara besar-besaran yang dilakukan Israel terhadap 30 depot minyak Iran pada akhir pekan lalu.

Gedung Putih merasa kecewa karena serangan tersebut memicu kepanikan di pasar energi dan mengancam kenaikan harga bensin di Amerika Serikat, yang kini rata-rata mencapai US$3,4 per galon.

“Presiden tidak suka serangan itu. Dia ingin menyelamatkan minyak agar harga bensin tidak melonjak dan membebani rakyat,” ungkap salah satu penasihat Trump.

Sebagai buntut kekecewaan, pertemuan puncak antara AS dan Israel yang dijadwalkan pada Senin lalu akhirnya dibatalkan.

Trump juga meralat ancaman sebelumnya mengenai pengerahan pasukan darat ke fasilitas nuklir bawah tanah di Isfahan.

Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan untuk melakukan invasi darat.

“Kami belum membuat keputusan apa pun soal itu. Kami masih jauh dari tahap tersebut,” tuturnya, sekaligus menekankan bahwa operasi militer di Iran hanyalah “ekskursi jangka pendek” untuk menyingkirkan elemen-elemen yang dianggap membahayakan.

Saat ini, dunia internasional masih memantau apakah sinyal “ekskursi jangka pendek” ini akan benar-benar berujung pada perdamaian permanen atau sekadar jeda sebelum eskalasi baru kembali pecah.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya