Indikasi Trump Sok Keras! Ogah Mengaku Kalah, Padahal Kelimpungan Hadapi Strategi Perang Iran

DEMOCRAZY.ID – Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump percaya diri mengeklaim bahwa Iran berada di ambang kekalahan perang, kenyataan di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.

Kegagalan Washington untuk meyakinkan sekutu dekatnya di NATO, Uni Eropa, hingga rival geopolitiknya, China, untuk membantu membuka Selat Hormuz, menjadi sinyal kuat bahwa klaim kemenangan Trump hanyalah bualan belaka.

Hingga Senin (16/3/2026), gelombang penolakan resmi mengalir deras dari ibu kota negara-negara besar.

Uni Eropa (UE) secara tegas menyatakan tidak memiliki niat untuk terlibat secara militer.

Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, menegaskan bahwa negara-negara anggota tidak memiliki kepentingan dalam “perang yang tidak berujung.”

Sentimen serupa datang dari Jerman. Kanselir Friedrich Merz dan Menteri Pertahanan Boris Pistorius menutup rapat pintu pengiriman pasukan ke Teluk.

Berlin menekankan bahwa perang ini bukanlah misi NATO dan AS-Israel melancarkan serangan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan sekutu Eropa.

“Ini bukan perang kami, bukan kami yang memulainya. Kami menginginkan solusi diplomatik,” tegas Pistorius, mematahkan narasi Trump yang menuntut tanggung jawab bersama atas keamanan energi.

Tak hanya Jerman, Inggris melalui PM Keir Starmer serta Australia dan Jepang juga memberikan jawaban dingin.

Jepang, melalui PM Sanae Takaichi, bahkan merujuk pada batasan konstitusi yang melarang keterlibatan dalam perang luar negeri, sebuah tamparan bagi diplomasi tekanan tinggi yang diterapkan Trump.

Indikasi paling nyata dari keputusasaan Trump adalah permintaannya kepada China untuk menerjunkan kapal perang ke Selat Hormuz.

Trump berargumen bahwa Beijing seharusnya bertanggung jawab karena 90 persen kebutuhan minyaknya bergantung pada jalur tersebut.

Langkah ini dinilai para analis sebagai pengakuan tersirat bahwa kekuatan militer AS dan Israel tidak cukup untuk menetralisir ancaman Iran secara mandiri.

Namun, Beijing melalui media pemerintah, Global Times, menepis mentah-mentah usulan tersebut.

Mereka menilai permintaan Washington adalah upaya licik untuk membagi risiko perang yang dimulai secara sepihak oleh AS kepada negara lain.

Sebelumnya, Trump sesumbar bahwa Iran telah melemah pascatewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan serangan ke fasilitas nuklir pada akhir Februari.

Namun, blokade Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang masih bertahan hingga pekan ketiga membuktikan bahwa mesin perang Iran belum mati.

Penutupan jalur yang dilalui 20 juta barel minyak per hari ini telah melumpuhkan pasar energi global, dengan harga minyak melonjak di atas 120 dolar AS per barel.

Ketergantungan Trump pada bantuan internasional untuk membuka jalur ini secara otomatis menggugurkan klaimnya bahwa Iran sudah kalah.

Jika Iran benar-benar di ambang keruntuhan, AS seharusnya tidak perlu “mengemis” dukungan militer dari negara-negara yang sejak awal enggan terlibat.

Kini, dengan Selat Hormuz yang masih terkunci dan sekutu yang memalingkan muka, posisi Trump di panggung politik internasional semakin tersudut, sementara ancaman krisis ekonomi global akibat lonjakan harga energi terus membayangi.

Iran bikin Trump kelimpungan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengaku terkejut dengan skala serangan balasan Iran yang menyasar negara-negara tetangga penampung pangkalan militer AS.

Meski Washington dan Israel yang memulai kampanye militer ini, Trump mengklaim tidak ada satu pun pihak yang mengantisipasi keberanian Teheran untuk memperluas cakupan perang.

“Tidak ada yang menyangka, tidak ada sama sekali. Pakar-pakar hebat pun tidak mengira mereka akan menyerang (negara Teluk),” ujar Trump kepada wartawan, seperti diberitakan India Today, Senin (16/3/2026).

Namun, pengakuan “syok” sang Presiden ini memicu kontroversi.

Laporan internal menunjukkan bahwa Gedung Putih sebenarnya telah menerima pengarahan intelijen jauh sebelum operasi dimulai.

Intelijen AS telah mengidentifikasi bahwa Teheran kemungkinan besar akan membalas dengan menargetkan negara-negara seperti Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait.

Peringatan yang Diabaikan Berdasarkan sumber yang dikutip Reuters, risiko eskalasi di Selat Hormuz dan serangan terhadap sekutu regional sudah masuk dalam daftar potensi dampak sejak awal.

Para ahli Timur Tengah, termasuk mereka yang memiliki akses ke Gedung Putih, telah berulang kali memperingatkan bahwa Iran tidak akan tinggal diam.

Nate Swanson, veteran Departemen Luar Negeri AS yang berpengalaman 20 tahun menangani kebijakan Iran, bahkan telah menuliskan peringatan terbuka di majalah Foreign Affairs empat hari sebelum serangan terjadi.

“Trump gagal memahami bahwa kelemahan Iran tidak akan membuat mereka menyerah di meja perundingan. Sebaliknya, posisi yang terdesak justru membuat ruang kompromi tertutup,” tulis Swanson.

Ia menjelaskan bahwa Iran merasa harus bersikap lebih agresif untuk mencegah serangan berkelanjutan yang dapat menggulingkan rezim mereka.

Ironi Pemecatan Ahli Keterkejutan Trump ini juga disorot sebagai akibat dari “pembersihan” pakar di lingkaran dalamnya.

Ilan Goldenberg dari Center for a New American Security mengungkapkan bahwa Swanson adalah salah satu staf Dewan Keamanan Nasional yang dipecat Trump tahun lalu.

Pemecatan tersebut kabarnya terjadi setelah Trump bertemu dengan aktivis sayap kanan, Laura Loomer, yang disebut-sebut ikut memengaruhi keputusan personalia di Gedung Putih.

Eskalasi di Luar Kendali Konflik ini bermula ketika AS dan Israel meluncurkan kampanye militer besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan tersebut menghancurkan infrastruktur vital dan menewaskan jajaran pimpinan tertinggi Iran.

Sebagai balasan, Iran menghujani ratusan rudal ke pangkalan-pangkalan AS di seluruh wilayah Teluk.

Tindakan ini sebenarnya sudah diperingatkan oleh Teheran jauh-jauh hari jika wilayah mereka diserang.

Namun, Trump tetap bergeming dengan narasi keterkejutannya.

“Mereka seharusnya tidak menyerang negara-negara lain di Timur Tengah. Kami sangat terkejut,” pungkas Trump, sembari menyebut negara-negara Teluk tersebut sebagai pihak yang “netral.”

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya