DEMOCRAZY.ID – Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, angkat bicara mengenai hubungan terkini Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Ia mengingatkan agar publik tidak berspekulasi atau merasa lebih mengetahui hubungan kedua tokoh bangsa tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil dalam Podcast Politik di YouTube Total Politik. Ia menegaskan hubungan Prabowo dan Jokowi tetap terjalin dengan baik.
Bahlil menuturkan, hubungan keduanya memiliki dimensi yang tidak bisa dinilai dari luar. Karena itu, ia meminta publik tidak merasa lebih tahu.
“Jangan ada yang sok tahu hubungan Prabowo dengan Jokowi. Hubungan Pak Prabowo sama Pak Jokowi itu baik-baik saja, dan sangat baik menurut saya. Mereka punya hubungan yang tidak bisa diketahui oleh siapapun, cuma mereka berdua,” ujar Bahlil, Jumat (10/4/2026).
“Jadi jangan kita-kita ini merasa soal lebih tahu. Karena mereka dua ini tokoh bangsa,” tambahnya.
Bahlil kemudian menceritakan nilai yang diajarkan orang tuanya tentang pentingnya mengingat jasa orang lain.
“Saya ini orang kampung, ya. Orang tua saya bukan yang ahli sekolah,” ucapnya.
Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana namun mendapat pesan kuat tentang etika dan loyalitas.
“Tapi ada petuahnya kepada saya, kamu jangan pernah lupakan jasa budi baik orang. Kamu harus ingat itu,” tukasnya.
Ia juga mengaku pernah membaca buku yang menguatkan pesan tersebut.
“Waktu saya jadi aktivis pernah baca buku, ada satu buku menyatakan begini, jangan pernah kita mengingat kebaikan kita kepada orang lain sekalipun itu besar. Tapi ingatlah kebaikan orang lain kepada kita sekalipun itu kecil,” tegas dia.
Bahlil menegaskan loyalitas tidak cukup hanya disampaikan secara lisan. Baginya, loyalitas harus ditunjukkan melalui kerja dan sikap.
“Jadi kita harus loyal kepada pimpinan dan loyal jangan di mulut. Loyal, totalitasnya kerja dan harus tahu etika,” imbuhnya.
Ia juga menyinggung sikap yang mudah berpindah dukungan ketika kepemimpinan berubah.
“Jangan kita selalu dipertontonkan dengan seolah-olah begitu si A sudah enggak jadi kita lupakan dan ke B, orang seperti ini berpotensi ketika si B enggak jadi lagi dilupakan lagi nanti si C lagi,” Bahlil menuturkan.
“Itu manusia Abuleke itu kalau begitu. Nah, saya enggak punya karakter begitu,” tambahnya.
Sebagai contoh, Bahlil mengaku selalu menyempatkan diri bertemu teman lama ketika pulang ke Fakfak.
“Jangankan itu, saya kalau pulang ke Fakfak, minimal satu-setengah jam cari teman-teman yang sudah puluhan tahun temani saya ngopi di terminal bercanda gurau,” jelasnya.
Ia menyebut kebiasaan itu sebagai bentuk menghargai perjalanan hidupnya.
“Cerita masa lampau aja. Iya, (dulu) cari uang bareng, abuleke bareng. Karena kita enggak tahu kan mungkin mereka juga punya kontribusi terhadap proses saya seperti ini. Minimal doa (mereka) kan?” bebernya.
Ketua Umum Partai Golkar ini bilang, loyalitas dan penghormatan kepada pemimpin bangsa merupakan prinsip yang ia pegang, sekaligus nilai yang menurutnya diajarkan oleh Presiden Prabowo.
“Jadi menurut saya, itulah loyal, taat, totalitas saya bekerja, jadi juga saya harus menghargai pemimpin bangsa dan itu juga diajarkan oleh Pak Prabowo kepada kita,” kuncinya.
Sumber: Fajar