DEMOCRAZY.ID – Peluang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk maju dalam Pilpres 2029 mulai ramai diperbincangkan seiring meningkatnya peran politiknya di tingkat nasional.
Sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, AHY dinilai memiliki modal elektoral dari basis pemilih partai serta pengalaman di pemerintahan.
Selain itu, latar belakangnya sebagai putra Susilo Bambang Yudhoyono memberi keuntungan dari segi jaringan dan pengenalan publik.
Namun, pengamat menilai AHY masih perlu memperkuat rekam jejak kepemimpinan dan memperluas koalisi agar mampu bersaing dengan tokoh lain.
Dinamika politik menuju 2029 diprediksi akan sangat kompetitif, dengan munculnya figur-figur baru maupun lama.
Meski begitu, peluang AHY tetap terbuka jika mampu menjaga konsistensi kinerja, membangun citra positif, serta memanfaatkan momentum politik dalam beberapa tahun ke depan.
Pengamat politik Hendri Satrio menilai peluang Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Pilpres 2029 memiliki kemiripan dengan posisi Wapres Gibran Rakabuming Raka saat ini, demikian dilansir dari Tribun Jakarta
Menurut Hendri, keduanya sama-sama tidak bisa dilepaskan dari bayang-bayang sosok ayah, yakni Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden ke-7 RI Jokowi.
“Selama masih ada SBY, AHY tidak akan pernah benar-benar melambung tinggi. Orang pasti melihat SBY-nya,” ujar Hendri dalam perbincangannya bersama Helmy Yahya di Youtube @HelmyYahyaBicara, dikutip Minggu (5/4/2026).
Ia menyebut kondisi tersebut mirip dengan Gibran yang kerap dikaitkan dengan Jokowi dalam perjalanan politiknya.
“Gibran juga dilihat karena Jokowi. Sama saja,” katanya.
Meski demikian, Hendri menilai AHY memiliki modal politik yang cukup kuat, termasuk posisi sebagai ketua umum partai dan latar belakang pendidikan serta pengalaman yang terus dibangun.
Namun, faktor figur SBY dinilai tetap akan melekat dalam persepsi publik terhadap AHY.
“Orang akan selalu melihat ada wajah SBY di belakangnya,” ucapnya.
Dalam konteks Pilpres 2029, Hendri memandang peluang AHY untuk mengalahkan Prabowo Subianto masih sangat kecil.
“Kalau untuk menang lawan Prabowo, saya rasa sulit. Tapi untuk posisi kedua masih mungkin,” jelasnya.
Pendiri Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) itu membuka kemungkinan AHY berpasangan dengan Prabowo sebagai calon wakil presiden.
“Ada kemungkinan,” kata Hendri.
Meski begitu, ia tetap mendorong AHY untuk maju di Pilpres 2029, bukan semata untuk menang, melainkan sebagai investasi politik jangka panjang.
Menurutnya, keikutsertaan dalam pilpres dapat meningkatkan popularitas dan elektabilitas secara signifikan.
“Kalau maju, seluruh rakyat Indonesia akan melihat. Itu momentum besar untuk menaikkan elektabilitas,” ujarnya.
Hendri menegaskan, langkah tersebut penting sebagai persiapan menuju kontestasi berikutnya.
“Kalau tidak maju sekarang, bisa kehilangan momentum untuk 2034,” pungkasnya.
Prabowo masih jadi nama teratas di bursa capres, tetapi sejumlah figur baru dan rival potensial mulai masuk radar publik, menandakan kompetisi elektoral menuju 2029 masih sangat dinamis meski belum final
Temuan Elektabilitas Capres 2029 (Survei IPI – Feb 2026)
Prabowo Subianto memimpin dengan 22,3 persen suara responden.
Gibran Rakabuming Raka berada di posisi kedua (12,2 %).
Di bawahnya: Ganjar Pranowo (9 %), Anies Baswedan (8,5 %), dan Dedi Mulyadi (7,9 %).
Sjafrie Sjamsoeddin juga masuk daftar capres potensial (7,5 %) serta nama lain seperti Puan Maharani, Purbaya Yudhi Sadewa, hingga Mualem.
Versi survei lain, Median, menunjukkan Prabowo tetap unggul elektabilitas dibandingkan rival lain seperti Anies Baswedan dan Dedi Mulyadi dengan tren suara yang stabil atau meningkat seiring waktu
Peta 2029 masih cair, tapi saat ini terbagi dalam 3–4 poros besar: petahana dominan, penantang lama, dinasti politik, dan kuda hitam, membuat kontestasi diprediksi sangat kompetitif.
1. Poros petahana (terkuat)
Dipimpin Prabowo Subianto yang masih unggul elektabilitas. Ia berpeluang maju lagi untuk periode kedua, didukung koalisi besar dan efek incumbency.
2. Penantang utama
Nama seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Dedi Mulyadi konsisten berada di papan atas survei sebagai pesaing kuat.
3. Poros dinasti & elite partai
Figur seperti Gibran Rakabuming Raka, Puan Maharani, dan Agus Harimurti Yudhoyono membawa kekuatan jaringan politik keluarga dan partai besar.
4. Kuda hitam & tokoh baru
Muncul nama seperti Sjafrie Sjamsoeddin dan tokoh lain yang mulai naik elektabilitas, berpotensi mengganggu peta tradisional.
Sumber: Tribun