Guru Besar Unair Soroti ‘Kepemimpinan Tertutup’: Tak Mau Dengar Rakyat, Pantas Dimakzulkan!

DEMOCRAZY.ID – Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, Henri Subiakto, melontarkan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan yang dinilai tidak membuka ruang bagi suara publik.

Ia menegaskan, seorang presiden yang merasa paling benar dan menutup diri dari kritik rakyat berpotensi layak dimakzulkan dalam sistem demokrasi.

Pernyataan itu disampaikan Henri sebagai respons atas dinamika politik global, termasuk wacana pemakzulan terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali mencuat dalam pemberitaan internasional.

Menurut Henri, prinsip dasar demokrasi menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi.

Karena itu, setiap pemimpin negara wajib mendengarkan aspirasi publik, terutama ketika kebijakan yang diambil berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat.

“Presiden yang merasa benar sendiri, padahal kebijakannya merugikan negara secara signifikan, tapi tidak mau mendengar suara kebenaran dari rakyatnya, memang pantas dimakzulkan,” ujar Henri dalam keterangannya, Sabtu (11/4/2026).

Ia menambahkan, mekanisme pemakzulan bukan sekadar alat politik, melainkan bagian dari sistem checks and balances untuk menjaga agar kekuasaan tidak disalahgunakan.

Dalam konteks ini, kritik publik seharusnya dipandang sebagai bagian dari kontrol sosial, bukan ancaman terhadap stabilitas pemerintahan.

Henri juga menekankan pentingnya sikap kehati-hatian seorang pemimpin dalam mengambil keputusan.

Menurutnya, pemimpin yang bijak adalah mereka yang mampu menyerap berbagai pandangan, termasuk kritik keras sekalipun.

“Ini menjadi pelajaran demokrasi agar seorang pemimpin bersedia lebih hati-hati, tidak bertindak seenaknya sendiri, dan tetap berpijak pada kepentingan rakyat,” lanjutnya.

Artikel terkait lainnya