Guru Besar Unair: Prabowo Bisa ‘Jatuh’ Sebelum 2029 Jika Abaikan Aspirasi Rakyat!

DEMOCRAZY.ID – Pernyataan pengamat politik Rocky Gerung yang memprediksi Presiden Prabowo Subianto tidak akan bertahan hingga 2029 menuai beragam tanggapan.

Salah satunya datang dari Guru Besar Universitas Airlangga, Henri Subiakto, yang menilai prediksi tersebut tidak bisa dibenarkan sepenuhnya, namun tetap memiliki kemungkinan terjadi.

Henri menyatakan, kondisi tersebut sangat bergantung pada bagaimana pemerintahan Prabowo merespons kritik dan aspirasi publik.

Menurutnya, jika suara-suara masyarakat yang rasional dan konstruktif diabaikan, maka situasi politik dan ekonomi nasional berpotensi memburuk.

“Prediksi itu tidak sepenuhnya benar, tapi bisa menjadi kenyataan jika pemerintah tidak mau mendengarkan masukan dari masyarakat,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).

Ia menyoroti sejumlah potensi tekanan yang akan dihadapi pemerintahan Prabowo ke depan.

Dari dalam negeri, pemerintah dinilai berpotensi menghadapi gelombang kekecewaan publik terkait sejumlah kebijakan seperti BoP, ART, dan MBG.

Sementara dari sisi global, tekanan ekonomi diprediksi meningkat akibat kenaikan harga minyak dunia serta dinamika geopolitik internasional.

Henri juga menyinggung dampak kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump yang dinilai dapat memicu kompleksitas konflik di kawasan Teluk dan berimbas pada stabilitas ekonomi global.

“Jika kondisi global dan nasional memburuk, maka akan muncul peluang bagi kekuatan politik tertentu untuk memanfaatkan situasi demi menggoyang pemerintahan,” jelasnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa skenario tersebut bukanlah sesuatu yang pasti terjadi.

Prabowo masih memiliki peluang besar untuk mempertahankan kekuasaan hingga akhir masa jabatannya, bahkan memperkuat posisinya, apabila mampu merespons aspirasi mayoritas rakyat secara tepat.

Henri menekankan pentingnya langkah cepat dari pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap kebijakan strategis serta memperbaiki kinerja internal pemerintahan.

Ia juga menyoroti perlunya peningkatan efektivitas koordinasi antar lembaga serta penataan ulang jajaran pembantu presiden.

“Presiden harus tegas mengevaluasi kebijakan yang bermasalah dan berani mengambil langkah terhadap pembantu yang justru menjadi beban,” katanya.

Menurutnya, kepemimpinan yang responsif dan adaptif terhadap krisis, baik politik maupun ekonomi, akan menjadi kunci bagi keberlangsungan pemerintahan ke depan.

“Kalau tidak ada langkah serius, maka apa yang diprediksi Rocky Gerung bisa saja benar-benar terjadi,” tegasnya.

Sumber: JakartaSatu

Artikel terkait lainnya