DEMOCRAZY.ID – Pada penghujung bulan suci Ramadhan, ketegangan di Timur Tengah semakin memanas, Jumat (20/3/2026).
Setelah 3 pejabat tinggi Iran tewas dalam serangan AS-Israel dalam beberapa hari terakhir pekan ini, kini giliran Jenderal senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tewas dalam perang yakni Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini.
Brigjen Ali Naeini tewas dalam serangan udara yang dilakukan AS-Israel, Jumat.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi syahidnya Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, yang merupakan juru bicara resmi IRGC sekaligus tokoh kunci perang kognitif Iran, melalui media pemerintah Iran Tasnim News, Jumat.
Brigjen Ali Naeini tewas akibat serangan udara yang dituding dilakukan oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel pada Jumat (20/3/2026).
Kematian Naeini, yang telah mengabdi lebih dari empat dekade, segera memicu gelombang serangan balasan masif dari Teheran ke jantung pertahanan lawan.
Brigjen Naeini dikenal sebagai perwira tinggi yang mentransformasi strategi soft war (perang lunak) Iran.
Ia gugur tepat pada fajar hari terakhir Ramadan, momen yang oleh IRGC disebut sebagai tindakan teror pengecut.
“Layanan tulus komandan tak kenal lelah ini dalam mendokumentasikan Pertahanan Suci dan perannya sebagai suara IRGC selama Operasi Janji Sejati 2, 3, dan 4 telah meninggalkan citra abadi dalam sejarah jihad,” tulis pernyataan resmi IRGC, Jumat siang.
Kehilangan Naeini merupakan pukulan besar bagi otoritas media dan propaganda militer Iran.
Hanya berselang jam setelah pengumuman kematian Naeini, militer Iran meluncurkan serangan balasan berskala besar pada pukul 01:20 dini hari.
Dengan kode operasi “Ya Zahra (AS)”, IRGC mengerahkan kombinasi sistem rudal canggih berbahan bakar padat dan cair.
Rudal-rudal raksasa seperti Ghadr, Khorramshahr, dan Kheibar Shekan yang membawa multi-hulu ledak dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan udara dan menghantam target strategis di Tel Aviv serta wilayah selatan Israel.
Selain itu, pangkalan militer AS di kawasan tersebut juga menjadi sasaran serangan drone bunuh diri.
IRGC menyatakan bahwa rentetan serangan ini adalah bentuk penghormatan bagi spirit Jenderal Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, yang tewas pada 2020 lalu.
Serangan ini menyebabkan sirene peringatan udara meraung tanpa henti di wilayah pendudukan dan memaksa jutaan warga sipil dan pemukim ilegal untuk tetap berada di dalam perlindungan bawah tanah dalam durasi yang sangat lama.
“Kabinet perang rezim Zionis sedang mencoba melarikan diri dari krisis internal dan skandal domestik dengan menyeret Iran ke dalam perang yang tidak adil. Hasilnya adalah kondisi yang tak tertahankan di dalam tempat perlindungan bagi warga mereka sendiri,” tegas pernyataan IRGC.
Eskalasi ini menandai fase baru dalam “perang yang dipaksakan” ini, di mana Iran bersumpah tidak akan membiarkan suara perlawanan mereka dibungkam oleh kekuatan Barat.
Sebelumnya tokoh kunci keamanan Iran, yakni Ali Larijani dan komandan pasukan paramiliter Basij, Gholamreza Soleimani, tewas akibat operasi khusus Israel, Selasa (17/3/2026).
Sehari setelahnya militer Israel berhasil membunuh Menteri Intelijen Iran, Esmaeil Khatib, dalam serangan udara di Teheran, Rabu (18/3/2026).
Sumber: Tribun