Gara-Gara Bilang Teddy Ganteng, Bu Kadinsos Papua Dapat Mobil Triton

DEMOCRAZY.ID – Ruang pertemuan siang itu awalnya hanya forum kerja: data, koordinasi, dan pendataan bantuan sosial.

Namun suasananya berubah menjadi hangat dan penuh tawa ketika Cornelia, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kerom, Papua, maju menyampaikan keluhannya.

Di mikrofon, ia membuka pembicaraan dengan cara yang tak biasa: memuji “Pak Teddy ganteng”—pernyataan yang langsung memicu riuh ringan dan senyum di panggung.

Cornelia bukan sekadar datang membawa cerita.

Ia membawa keluhan, medan sulit, keterbatasan data, hingga perjalanan panjang yang harus ditempuh hanya untuk hadir di Jakarta.

Dari daerah perbatasan Papua Nugini, ia mengaku harus menempuh biaya transportasi pulang-pergi hingga Rp16 juta menggunakan Triton—kendaraan satu-satunya yang bisa menembus kampung-kampung terpencil.

“Tidak semua kampung bisa dijangkau. Banyak warga kami yang belum terdata,” ujarnya, suaranya bergetar antara lelah dan ingin didengar.

Ia bahkan mengisahkan bagaimana ia pernah bersitegang dengan Kepala BPS Kerom soal penempatan desil bantuan yang tak sesuai kenyataan lapangan.

“Saya pernah marah, tapi sudah minta maaf sebelum matahari terbenam,” katanya, disambut tawa ruangan.

Yang membuat forum benar-benar pecah adalah ketika ia kembali menyinggung “doanya” bertemu Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya—duta Sekolah Rakyat—yang menurutnya sering ia lihat di televisi.

“Saya bilang, suatu saat saya pasti bertemu. Puji Tuhan, hari ini saya salaman,” ucapnya. Panggung ramai, Menteri Sosial, Syaifullah Yusuf dan Seskab Teddy ikut tersenyum.

Di balik candanya, Cornelia menyampaikan permintaan serius: penambahan tenaga PKH dan satu mobil Triton untuk operasional, agar pendataan bisa menjangkau kampung-kampung ekstrem yang tak bisa ditembus motor atau mobil biasa.

Seskab langsung merespons. Dengan nada setengah bercanda, ia mengulang permintaan itu ke Menteri Sosial. “Operasional, satu unit bisa diberikan, Pak?” tanyanya.

Menteri tersenyum kecil, dan jawaban yang ditunggu akhirnya keluar: “Perintah dilaksanakan.”

Gemuruh tepuk tangan mengisi ruangan.

Bahkan Menteri menimpali, menggoda sang Seskab sebagai orang yang suka mendahului pengiriman bantuan sebelum kementerian sendiri bergerak.

“Saya belum kirim, beliau sudah kirim duluan,” katanya, memancing gelak peserta.

“Bu Cornelia, pokoknya bulan depan, sudah ada itu barang,” ujar Teddy.

Cornelia terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan.

“Terima kasih, Pak. Yang penting saya sudah bertemu Pak Teddy,” katanya sambil tertawa kecil—dan ruangan kembali pecah.

Namun di balik gurauannya, inti persoalan tetap sama: medan Keerom berat, data sosial masih perlu pemutakhiran, SDM terbatas, internet buruk, dan bantuan sering tak tepat sasaran.

Menteri menegaskan masalah akan ditindaklanjuti.

“Indonesia ini besar. Tapi pasti kita selesaikan satu per satu,” ucapnya.

Cornelia turun dari podium dengan wajah lega.

Ia datang membawa rentetan keluhan dan perjalanan yang melelahkan, pulang membawa janji pembenahan—dan sebuah mobil operasional yang disetujui di tengah tawa.

Sebuah hadiah yang lahir dari keluhan jujur, kerja keras, dan, tentu saja, satu kalimat yang membuat seluruh forum mencatat: “Pak Teddy ganteng.”

Sumber: Herald

Artikel terkait lainnya