DEMOCRAZY.ID – Teknisi pesawat ATR 42-500 Franky D Tanamal masih syok lantaran pesawat yang hampir ditumpanginya mengalami kecelakaan tragis di Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).
Nama Franky D Tanamal sempat masuk ke daftar manifest penerbangan ATR 42-500 saat peristiwa kecelakaan tragis terjadi.
Sejumlah pihak juga sempat mengira Franky menjadi salah satu korban dari penerbangan maut tersebut.
Namun ternyata, Franky batal terbang karena memilih mengikuti pelayanan gereja.
Hal itu membuat teknisi Indonesia Air Transport (IAT) itu selamat dari maut setelah sebelumnya izin tidak mengikuti penerbangan untuk menjadi pelayan gereja.
Meski bisa selamat, sahabat Franky, Rumton Sitanggang menjelaskan kondisi temannya itu pada Rabu (21/1/2026).
Rumton bertemu Franky D Tanamal saat bersama-sama menjadi pelayan gereja divisi penerima tamu pada Minggu (18/1/2026).
Saat itu Rumton melihat sahabatnya itu dalam kondisi syok berat setelah mengetahui pesawat ATR 42-500 mengalami kecelakaan.
“Pak Franky terkejut (syok) setelah mengetahui kejadian tersebut,” kata Rumton.
Namun demikian Franky D Tanamal terlihat terus mengucapkan syukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkannya dari kecelakaan pesawat.
Melihat sahabatnya terharu diberi keselamatan, Rumton mengunggah momen tersebut melalui media sosial hingga ramai diperbincangkan warganet.
Persahabatan antara Rumton dan Franky sudah terjalin sejak 2013. Mereka pertama kali ditemukan di sebuah acara gereja.
“Takut akan Tuhan itu adalah modal hidup, kita enggak tahu apa yang terjadi hari besok,” katanya.
Rumton melihat Franky sebagai individu yang memiliki loyalitas tinggi dalam pekerjaan maupun tugas sosial.
Franky juga memiliki figur idealis dan tidak pilih-pilih dalam pertemanan dan merupakan sosok pelayan yang patut dicontoh.
Franky D Tanamal batal terbang dengan Pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulsel, Sabtu (17/1/2026).
Nama Franky D Tanamal sempat terdaftar di Manifest Pesawat ATR 42-500. Namun ia batal berangkat ke Sulawesi Selatan.
Pihak berwenang pun sempat meralat jumlah manifest yang tadinya 11 orang menjadi 10 orang lantaran satu orang batal berangkat.
Ternyata alasan Franky D Tanamal batal terbang ialah karena mau mengikuti pelayanan gereja.
Sebelumnya, PT Indonesia Air Transport (IAT) mengungkap adanya perbedaan jumlah dan nama-nama kru pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada Sabtu (17/1/2026).
Direktur Utama PT IAT Tri Adi Wibowo mengatakan, terdapat tujuh kru pesawat yang tengah bertugas dalam penerbangan.
Jumlah kru yang bertugas bukan delapan orang sebagaimana tercantum dalam Passenger Manifest yang beredar.
Sehingga total korban 10 orang bukan 11 orang seperti informasi awal.
“Saya menginformasikan, dari PT Indonesia Air Transport klarifikasi bahwa kru yang on-board ada tujuh,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Mina Bahari IV KKP, Jakarta, Sabtu (17/1/2026).
Adapun dalam data manifest penerbangan, Franky D Tanamal memiliki jabatan Engineer on Board.
Engineer on Board (EOB) adalah spesialis teknis, seringkali untuk pesawat terbang atau kapal, yang ikut bepergian dengan kendaraan untuk menangani masalah mekanis atau listrik yang kompleks, memastikan keselamatan dan meminimalkan penundaan, terutama jika dukungan lokal tidak tersedia.
Sumber: Tribun