Fenomena Kader Parpol Pindah ke PSI, Jubir PDIP Singgung Pihak Yang ‘Ketakutan’ Hadapi Pemilu 2029

DEMOCRAZY.ID – Fenomena kader partai politik (parpol) menyeberang ke partai lain kini terjadi tiga tahun jelang pelaksanaan pemilu 2029.

Hal tersebut utamanya terjadi dari kader parpol besar ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Sejumlah nama yang sudah malang melintang dalam dunia perpolitikan baik di tingkat nasional maupun lokal kini menjadikan PSI sebagai kendaraan politik menghadapi pemilu 2029.

Misalnya Bupati Penukal Abab Lematang Ilir dua periode (2016-2025) Heri Amalindo yang menyeberang ke PSI.

Heri Amalindo sebelumnya merupakan kader PDIP.

Teranyar Calon Bupati Badung 2024 – 2029 yang juga mantan Ketua DPD Golkar Kabupaten Badung I Wayan Suyasa resmi pindah ke PSI.

Terkait hal tersebut Juru Bicara (Jubir) PDIP Guntur Romli mengatakan, partainya tidak mau ambil pusing terhadap adanya kader yang pindah ke PSI.

Menurutnya semua orang bebas untuk menentukan pilihan.

Guntur pun menegaskan, saat ini kader PDIP sedang fokus untuk membantu rakyat yang terkena musibah bencana.

Lantas, Guntur menyinggung adanya pihak yang ketakutan menghadapi Pemilu 2029.

“Kami sedang fokus bagaimana kader-kader PDI Perjuangan terus melayani rakyat, apalagi saat ini sedang banyak bencana. Belum memikirkan soal elektoral apalagi Pemilu 2029,” kata Guntur saat dihubungi Tribunnews.com, Minggu (25/1/2026).

“Tapi kalau tidak siap, mau pindah partai dipersilakan, semua orang bebas menentukan pilihannya. Kader-kader PDI Perjuangan yang militan saat ini berjibaku di lapangan, bukan mereka yang ketakutan menatap 2029 yang masih jauh,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Guntur menegaskan bahwa PDIP belum memikirkan kepentingan elektoral pemilu 2029.

“Kalau partai-partai lain mungkin lagi fokus membajak kader partai lain, atau bicara elektoral 2029, di kami, sedang fokus kalau lagi bencana, kader PDI Perjuangan harus tiba yang pertama untuk membantu,” tandasnya.

Migrasi Kader Parpol ke PSI Dipengaruhi Faktor Jokowi dan Ahmad Ali

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menganalisis fenomena migrasi sejumlah kader Partai NasDem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Adi menilai, ada dua faktor utama yang membuat PSI kian menarik bagi politisi lintas partai menjelang Pemilu 2029 mendatang.

Pertama, PSI saat ini semakin identik dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Adi menilai, kedekatan PSI dengan Jokowi menjadi daya tarik elektoral yang kuat, terlebih setelah Jokowi menyatakan komitmennya untuk turun total memenangkan PSI.

“Secara elektoral PSI akan kapitalisasi figur Jokowi. Itu yang sepertinya membuat kader PSI kian bergairah menyongsong pemilu mendatang,” kata Bestari saat dihubungi, Jumat (23/1/2026).

Kedua, faktor figur Ahmad Ali dinilai turut memperkuat arus perpindahan kader dari NasDem ke PSI.

Kehadiran Ahmad Ali diyakini mampu membawa serta gerbong politik dan jaringan NasDem, yang berpotensi memperkuat mesin politik PSI secara signifikan.

“Faktor Ahmad Ali yang kemudian bisa membawa gerbong NasDem login ke PSI makin menambah kekuatan mesin politik bagi PSI,” ucap Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia itu.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya