DEMOCRAZY.ID – Pernyataan tajam keluar dari mulut pengamat politik sekaligus konsultan kawakan Eep Saefulloh Fatah dalam podcast Madilog di kanal Forum TV Keadilan, Kamis (16/10).
Dengan gaya tenang tapi menusuk, Eep menguliti transformasi Jokowi dari sosok sederhana yang dulu dielu-elukan rakyat, menjadi simbol kekuasaan yang disebutnya “melupakan dirinya sendiri.”
“Dulu Jokowi itu orang biasa. Nggak punya uang, nggak punya dukungan besar, tapi punya harapan rakyat. Sekarang, Jokowi malah melupakan cara bermain demokratis. Itu pengkhianatan terhadap apa yang dia perjuangkan dulu,” sindir Eep.
Menurutnya, Jokowi di awal karier adalah cermin harapan rakyat kecil.
Namun setelah berkuasa, yang muncul bukan lagi “Joko si protagonis,” melainkan “Widodo si antagonis.”
“Saya pernah menulis, ‘Joko melawan Widodo’. Karena dalam diri Jokowi ada dua sosok, satu yang sederhana dan satu yang tergoda kekuasaan. Sayangnya, yang menang adalah Widodo,” ujar Eep menohok.
Eep bahkan mengaku pernah mengirim SMS langsung ke Jokowi, menasihati agar bersikap sebagai kepala negara, bukan hanya kepala pemerintahan. Tapi, katanya, pesan itu tidak pernah direspons.
“Saya kirim ke Pak Jokowi, ke Pak JK, dan Mas Pratikno. Cuma Pak JK yang balas. Jokowi? Diam saja. Mungkin terlalu sibuk atau… memang tidak mau dengar,” ucap Eep dengan nada getir.
Dalam podcast itu, Eep juga mengungkap rencana bukunya berjudul “Melawan Jokowi.”
Namun ia menegaskan, “melawan” bukan berarti benci pribadi, melainkan melawan Jokowisme cara berpikir dan berkuasa yang dianggap berbahaya bagi demokrasi.
“Yang harus dilawan bukan orangnya, tapi Jokowisme: praktik kekuasaan yang memanipulasi kebebasan rakyat,” tegas Eep.
Ia mengaku, sejak 2023, lembaga konsultan politiknya, Polmark Indonesia, memutuskan tidak mendukung kandidat mana pun di Pilpres 2024 demi menjaga independensi.
Alasannya sederhana: agar perlawanan terhadap Jokowisme tak disangka sekadar manuver bisnis politik.
“Kami nggak mau dianggap cuma cari proyek. Ini perlawanan warga negara, bukan konsultan lapar kontrak,” kata Eep tajam.
Eep menutup pernyataannya dengan refleksi keras: demokrasi Indonesia sedang dalam masa uji.
Menurutnya, oposisi kini harus seperti pelari maraton bukan sprint sebentar lalu menyerah.
“Perlawanan rakyat itu bukan sprint. Kadang harus pelan, kadang berhenti, tapi jangan berhenti selamanya. Yang kita lawan bukan Jokowi, tapi sistem yang membuat orang bisa lupa diri,” pungkasnya.
Sumber: RadarAktual