Dunia Berdecak Kagum! Ternyata Ini Penyebab Iran Tangguh Hadapi Gempuran AS-Israel

DEMOCRAZY.ID – Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UII), Zezen Zaenal Mutaqqin mengatakan kemampuan Iran bertahan dalam konflik melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel dinilai mengejutkan banyak pihak karena perang berlangsung lebih lama dari berbagai prediksi awal.

Menurutnya, pada awal konflik banyak pihak meragukan daya tahan Iran dalam menghadapi tekanan militer dari kekuatan besar.

“Orang mengatakan Iran paling banter lima hari selesailah, ada yang bilang dua minggu, ya sekarang sudah sebulan,” kata Zezen dalam forum diskusi bertajuk “Legitimasi Publik atas Perang Amerika–Israel dan Iran” di Hotel Sari Pacific, Selasa (2/4/2026).

Zezen menilai Iran tetap menunjukkan resiliensi (kemampuan psikologis individu untuk bertahan) yang kuat meskipun menghadapi tekanan berat, termasuk gugurnya sejumlah pimpinan.

Ia menyebut kekuatan Iran tidak terletak pada keunggulan teknologi militer, melainkan pada strategi yang dinilai lebih adaptif dan efisien.

“Terlepas fakta bahwa 15 pemimpinnya sudah dibunuh dan lain-lain tapi Iran tetap punya resiliensi karena dia bisa bertahan,” ujarnya.

Zezen menyoroti penggunaan taktik decoy missile, yakni serangan berbiaya rendah untuk memancing respons mahal dari pihak lawan.

“Memberikan decoy missile, penyerang dengan senjata yang harganya cuma 35.000 kemudian harus dijatuhkan oleh misil yang harganya satu juta dua juta dolar,” ungkapnya.

Selain itu, Iran sejak awal disebut menghindari konfrontasi militer konvensional dengan AS yang memiliki kemampuan jauh lebih unggul.

Sebagai gantinya, Iran mengandalkan strategi bertahan jangka panjang atau strategy of endurance.

“Kalau kita terlibat dalam perang konvensional dengan Amerika kita tidak akan menang dan karena itu yang akan dilakukan oleh mereka adalah strategi bertahan. Bertahan aja nih menang,” jelasnya.

Zezen menjelaskan strategi tersebut tidak bertujuan mengalahkan kemampuan militer lawan secara langsung, melainkan mengikis kemauan (willingness) untuk terus berperang.

Ia mengungkap meningkatnya biaya perang menjadi faktor penting dalam strategi tersebut.

“Yang diserang itu bukan ability tapi willingness. Iran mungkin bisa mengalahkan Amerika dan Israel dari segi seberapa lama dia akan terus berperang. Kalau economic cost-nya semakin tinggi, dua juta dolar per hari, ada yang mengatakan lima juta dolar per hari,” paparnya.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya