DUH! Smart TV Bantuan Prabowo di Sekolah Manggarai Timur NTT ‘Nganggur’, Alasannya Tak Ada Internet

DEMOCRAZY.ID – Meskipun telah menerima bantuan smart TV dari Presiden Prabowo Subianto untuk mendukung pembelajaran digital, namun ratusan sekolah di pedalaman Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menghadapi tantangan serius yakni akses jalan, elektrifikasi, dan ketiadaan sinyal internet yang memunculkan keprihatinan tentang ironi pendidikan di daerah 3 T (tertinggal, terdepan dan terluar).

Program bantuan smart TV ini merupakan langkah positif untuk mendukung transformasi digital di dunia pendidikan.

Presiden Prabowo menyatakan bahwa program penyediaan televisi pintar atau smart TV untuk guru merupakan solusi bagi ketimpangan akses pendidikan di daerah 3T.

Dengan menggunakan smart TV, diharapkan guru dapat menyajikan materi pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif, sehingga tidak lagi terhambat oleh jarak.

Distribusi perangkat smart TV ke sejumlah sekolah di pedalaman Manggarai Timur yang dikirim dari kota, tidak semudah yang dipikirkan, tetapi melalui upaya yang ekstrem yakni dipikul bergantian oleh guru dan orang tua melewati medan yang sulit.

Selain itu, terdapat begitu banyak sekolah penerima yang ternyata belum dialiri listrik, serta ketiadaan jaringan internet.

Betapa sulitnya guru dan orang tua siswa terpaksa bergantian memikul sebuah smart TV dengan berat total sekitar 79 kilogram (LCD 56 kg + aksesoris 23 kg), diperkirakan berharga Rp25-30 juta, melewati jalan licin dan berbatu.

Sekolah penerima yang sudah tersambung listrik tapi belum terkoneksi internet atau sekolah yang ada jaringan internet tapi tidak ada listrik atau tidak memiliki dua-duanya, listrik dan internet hanya bisa pasrah dan menunggu sampai bantuan teknologi yang diberikan Presiden Prabowo dapat berfungsi dengan baik.

Kondisi sulit yang membayangi penyaluran bantuan smart TV dari Presiden Prabowo Subianto nyata terjadi di SDI Compang Ngeles di Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Televisi pintar tersebut tak bisa difungsikan akibat ketiadaan jaringan internet.

Kepala Sekolah Dasar Inpres (SDI) Compang Ngeles, Viktor Nasus, mengatakan bahwa bantuan paket LCD dan aksesorisnya diantar dengan susah payah.

“Kami pikul dari lokasi Kampung Compang ke SDI Compang Ngeles, jaraknya kurang lebih 500 meter. Berat paket LCD 56 kg dan aksesori lain 23 kg. Kami pikul bergantian,” ujar Viktor, Sabtu, 6 Desember 2025.

Ketiadaan jaringan internet dan fasilitas pendukung seperti komputer, membuat kegiatan belajar berbasis teknologi menjadi sangat sulit dilakukan.

Sebelum program smart TV, siswa di sana terbiasa berjalan berkilo-kilometer untuk mendapatkan sinyal internet demi mengikuti simulasi Ujian Akhir Sekolah secara online.

“Didampingi guru, beberapa siswa kelas VI dengan perjuangan ekstrem harus mendaki tebing dan bukit yang jauh dari sekolah hanya untuk dapat mengakses jaringan internet dan kadang ke SMAN 1 Elar untuk mengikuti ANBK,” tutur Viktor.

“Kami di sini cari sinyal sampai ke tebing-tebing, kalau ANBK mesti ke SMAN 1 Elar, disana lengkap, kami pinjam ruangan dan peralatan mereka untuk siswa kami pakai unjuk ujian,” tambahnya.

Harapan dan Apresiasi untuk Pemerintah dalam Bidang Pendidikan

Viktor menyampaikan harapannya agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi Sekolah Dasar Inpres (SDI) Compang Ngeles, terutama terkait akses internet dan perbaikan bangunan gedung sekolah.

Gedung sekolah yang telah dibangun sejak tahun 1999 tampak retak-retak dan plasterannya mengelupas.

Selain itu, akses jalan menuju sekolah dan fasilitas kesehatan di wilayah Kecamatan Elar juga memprihatinkan.

Meskipun demikian, pihak sekolah bersama siswa SDI Compang Ngeles memberikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada pemerintah atas bantuan smart TV yang telah diberikan untuk menunjang kelengkapan belajar.

“Terima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan bantuan smart TV untuk SDI Compang Ngeles, ditengah mode belajar yang serba digitalisasi dan memerlukan teknologi canggih kiranya Smart TV ini dapat bermanfaat lebih untuk proses belajar mengajar kami disekolah,” ungkap Viktor Nasus.

Data yang dirilis Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai Timur menunjukkan adanya ketimpangan akses pendidikan di ratusan sekolah dasar (SD) yang tersebar di beberapa wilayah pedalaman, seperti Kecamatan Elar, Elar Selatan, Kota Komba, dan Kecamatan Sambi Rampas.

Wilayah-wilayah tersebut memang dikenal sulit dijangkau, sehingga banyak SD yang belum menikmati fasilitas dasar seperti listrik PLN dan koneksi internet.

Dari total 331 sekolah dasar di Manggarai Timur, tercatat 16 sekolah masih belum teraliri listrik PLN dan 100 sekolah belum terkoneksi dengan jaringan internet.

Kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah agar pemerataan akses pendidikan dapat segera terwujud.

Sumber: VIVA

Artikel terkait lainnya