DEMOCRAZY.ID – Di lorong-lorong sempit Kota Rey, selatan Teheran, matahari sore itu tak lebih terik dari biasanya.
Tapi bagi dua pria yang tengah melangkah gontai dengan borgol di pergelangan tangan, dunia terasa runtuh dalam satu hentakan.
Di sekitar mereka, petugas kepolisian Iran mengangkut barang bukti yang membuat bulu kuduk merinding: lebih dari 200 kilogram bahan peledak, 23 drone, sebuah peluncur, dan peralatan kendali canggih.
Ahad, 15 Juni tahun lalu, Iran kembali membuktikan apa yang selama ini menjadi rahasia umum: perang melawan musuh-musuhnya tidak pernah berhenti di medan tempur terbuka.
Ia berlangsung setiap saat, di ruang-ruang sunyi yang tak terlihat mata.
Dua agen Mossad yang ditangkap di distrik Rey itu, menurut juru bicara kepolisian Saeed Montazer al-Mahdi, bukan sekadar kurir biasa.
Mereka adalah ujung tombak operasi Israel yang dirancang untuk meledakkan sesuatu dari dalam, bukan hanya dengan bom, tapi dengan kepanikan yang ditimbulkannya.
Penangkapan itu, kata pejabat Iran, bukan yang pertama. Setahun sebelumnya, di provinsi Alborz, utara Teheran, dua agen Mossad lain juga telah lebih dulu meringkuk di sel tahanan.
Mereka terlibat dalam pembuatan bom dan bahan peledak, sebuah pengingat bahwa perang bayangan ini telah berlangsung lama, jauh sebelum dunia menyadarinya.
Setahun kemudian, tepatnya pada Ahad (15/3/2026), Kepala keamanan Iran Ahmad Reza Radan berdiri di depan kamera dengan wajah datar.
Ia mengumumkan sesuatu yang jika di negara lain akan menjadi gempa politik: sekitar 500 orang telah ditahan sebagai “mata-mata” yang bekerja untuk musuh dan media anti-Iran.
Dari jumlah itu, sekitar 250 orang disebut secara khusus memberikan data intelijen yang digunakan dalam operasi militer terhadap Iran.
Mereka, kata Radan, tidak hanya mengirimkan informasi strategis, tapi juga berupaya mengganggu ketertiban umum di dalam negeri.
Bayangkan: setengah ribu manusia yang mungkin lahir dan besar di Iran, yang mungkin setiap hari melewati jalan-jalan Teheran yang sama, tiba-tiba menjadi mata-mata bagi musuh. Ini bukan cerita film spionase Hollywood.
Ini adalah realitas pahit dari sebuah negara yang sejak revolusi 1979 merasa terus dikepung.
Dan pengepungan itu, bagi Iran, tidak pernah terasa sekonkret sekarang.
Semua bermula pada 28 Februari, ketika langit ibu kota Iran mendadak memerah oleh ledakan. Pesawat-pesawat tempur Israel dan Amerika Serikat menjatuhkan bom-bom mereka ke sejumlah target di jantung Republik Islam Iran.
Serangan itu bukan operasi terbatas. Ia menghantam beberapa wilayah, termasuk Teheran. Dan ketika debu mulai reda, jumlah korban membuat dunia menarik napas dalam-dalam: lebih dari 1.300 orang tewas.
Di antaranya adalah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sosok yang selama tiga dekade lebih menjadi simbol perlawanan Teheran terhadap Barat.
Iran membalas. Rudal-rudal balistik menghujani wilayah Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Tapi serangan balasan itu, meski dahsyat, tak mampu menyembunyikan satu fakta: pukulan pertama telah merenggut nyawa ribuan warga sipil, termasuk anak-anak sekolah di Kota Minab yang tak pernah tahu apa itu politik.
Di tengah puing-puing yang masih berasap, suara-suara diplomatik mulai terdengar. Tapi nada yang muncul bukan gema perdamaian.
Presiden Donald Trump, dalam pernyataannya kepada wartawan, mengatakan operasi militer terhadap Iran belum dapat dinyatakan selesai.
“Kami masih berbicara dengan mereka, tetapi saya rasa mereka belum siap,” katanya, merujuk pada kemungkinan dialog diplomatik.
Sementara di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berbicara dengan nada yang tak kalah tegas.
Dalam wawancara dengan CBS News, ia menegaskan: “Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta perundingan.”
Dua pernyataan yang saling membentur. Dua dunia yang berbicara dalam bahasa yang sama sekali berbeda.
Tapi di sela-sela ketegangan itu, ada satu hal yang tak bisa diabaikan: Selat Hormuz. Jalur energi paling strategis di dunia itu menjadi pusat perhatian.
Araghchi mengungkap bahwa sejumlah negara telah meminta jaminan keamanan bagi kapal-kapal mereka yang melintas di sana.
Militer Iran, katanya, telah mengizinkan beberapa kapal internasional melintas dengan perlindungan tertentu.
Tapi perlindungan itu, seperti ditegaskan berulang kali para pejabat Iran, hanya berlaku bagi mereka yang tidak membantu musuh.
Bagi kapal-kapal Amerika, Israel, dan sekutu-sekutunya, Selat Hormuz adalah tembok yang tak bisa ditembus.
Di balik semua yang terlihat, rudal yang melesat, pesawat yang menjatuhkan bom, para diplomat yang saling beradu pernyataan, ada pertarungan lain yang tak pernah masuk ke layar kaca.
Pertarungan antara tiga lembaga intelijen paling disegani di kawasan: CIA, Mossad, dan VEVAK.
Masing-masing membawa DNA yang berbeda. CIA adalah mesin intelijen strategis global.
Dengan dukungan teknologi satelit canggih, pengumpulan sinyal intelijen (SIGINT), serta kemampuan analisis data berskala besar, badan intelijen Amerika ini mampu memetakan ancaman dari jarak ribuan kilometer.
Mossad, sebaliknya, adalah organisasi operasi clandestine yang agresif.
Keunggulannya bukan pada teknologi semata, tapi pada jaringan agen manusia, human intelligence (HUMINT), yang mampu menembus wilayah musuh secara mendalam.
Operasi-operasi Mossad di Iran dalam beberapa tahun terakhir sering disebut sebagai contoh bagaimana pengawasan dan analisis data dapat menembus sistem keamanan negara yang relatif tertutup.
Sementara VEVAK, Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran, berperan sebagai benteng kontra-intelijen. Fokus utamanya adalah deteksi infiltrasi asing, pembongkaran jaringan mata-mata, serta pengamanan stabilitas internal.
Penangkapan 500 orang yang diumumkan Radan, termasuk dua agen Mossad di Rey, adalah bukti kerja VEVAK di lapangan.
Tiga lembaga ini bertarung dalam senyap. Operasi intelijen yang disiapkan selama bertahun-tahun dapat menentukan keberhasilan satu operasi militer hanya dalam hitungan menit.
Sebuah data tentang lokasi persembunyian pemimpin tertinggi, misalnya, bisa mengubah peta perang dalam semalam.
Perang intelijen hari ini tidak lagi hanya bergantung pada agen rahasia yang bergerak dalam bayangan. Teknologi kini menjadi tulang punggung utama.
Pengawasan satelit, analitik data besar, perang siber, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan telah mengubah lanskap spionase global.
Drone-drone yang disita dari dua agen Mossad di Rey bukan sekadar mainan terbang. Mereka adalah mata-mata modern yang bisa merekam, memetakan, dan jika diperlukan, membawa muatan peledak ke sasaran.
Di era digital, perang intelijen tak lagi mengenal batas geografis. Seorang analis di Langley, Virginia, bisa memantau pergerakan pasukan Iran melalui layar komputernya.
Seorang operator Mossad di Tel Aviv bisa mengirim malware yang melumpuhkan fasilitas nuklir Iran tanpa meninggalkan kursinya.
Tapi seperti ditunjukkan penangkapan di Rey dan Alborz, teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan manusia di lapangan.
Dan manusialah yang paling mudah dilacak, paling mudah digagalkan, paling mudah dipenjara.
Di tengah semua ini, Iran bergerak di dua jalur sekaligus: bertahan dan menyerang. Bertahan dengan menangkap mata-mata di dalam negeri. Menyerang dengan rudal balistik ke wilayah musuh.
Pernyataan Araghchi bahwa Iran “tidak pernah meminta gencatan senjata” bukan sekadar retorika nasionalisme.
Ia adalah cerminan dari keyakinan bahwa negeri para mullah ini telah melalui masa-masa yang jauh lebih sulit, perang delapan tahun dengan Irak, sanksi ekonomi berkepanjangan, pembunuhan berantai terhadap ilmuwan nuklirnya, dan masih berdiri.
Tapi harga dari keteguhan itu mahal. Lebih dari 1.300 nyawa melayang dalam serangan 28 Februari.
Ratusan keluarga di Teheran, di Minab, di kota-kota lain, kini hidup dengan kursi kosong di meja makan mereka. Dan di sel-sel tahanan, ratusan “mata-mata” menanti nasib yang tak pasti.
Di luar sana, di perairan Selat Hormuz, kapal-kapal tanker masih ragu berlayar. Harga minyak dunia melambung. Negara-negara miskin mulai menghitung ulang anggaran pangan mereka.
Dan di koridor-koridor gelap kekuasaan, agen-agen intelijen dari tiga negara terus bergerak, mengumpulkan informasi, menyusun strategi.
Perang di Timur Tengah, kata para pengamat, tak pernah benar-benar usai. Ia hanya berganti bentuk. Kadang berupa rudal yang melesat di langit malam.
Kadang berupa bom yang meledak di pasar. Kadang berupa agen rahasia yang tertangkap di pinggiran kota.
Tapi yang paling menentukan, seperti ditunjukkan sejarah, bukanlah siapa yang paling banyak menembakkan rudal.
Tapi siapa yang paling akurat membaca peta, siapa yang paling cepat mengolah informasi, siapa yang paling dalam menyusup ke pikiran musuh.
Itulah perang bayangan. Perang yang tak pernah tidur. Perang yang, hingga hari ini, terus berkecamuk di lorong-lorong sunyi Timur Tengah.
Sumber: Republika