Donald Trump Ngamuk-Ngamuk ke Benjamin Netanyahu Usai Israel Serang Iran ke Daerah Ini

DEMOCRAZY.ID – Ketegangan diplomatik antara Washington dan Tel Aviv mendadak memanas dipicu oleh tindakan militer sepihak Israel.

Laporan terbaru dari Axios mengungkapkan kekecewaan mendalam Presiden AS Donald Trump terhadap keputusan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Fokus kemarahan tersebut tertuju pada operasi militer Israel yang menghancurkan infrastruktur sipil vital di wilayah Iran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa fasilitas pengolahan air di Pulau Qeshn menjadi sasaran bom.

Trump menilai serangan terhadap sarana desalinasi tersebut telah melampaui batas kewajaran dalam strategi peperangan yang sedang berlangsung.

Seorang pejabat tinggi Amerika Serikat membeberkan bahwa Trump menginginkan adanya keseimbangan aksi reaksi yang lebih terukur.

“Dia ingin memastikan bahwa segala sesuatunya proporsional dalam perang ini. Itulah mengapa dia (Trump) marah ketika Bibi (Netanyahu) menyerang pabrik desalinasi di Iran beberapa minggu yang lalu,” kata pejabat itu seperti dikutip oleh Axios.

Insiden ini bermula sejak operasi gabungan skala besar dilancarkan pada tanggal 28 Februari yang lalu.

Kala itu, jet tempur Amerika dan Israel membombardir berbagai titik strategis termasuk pusat kota Teheran secara masif.

Gempuran tersebut mengakibatkan kerusakan bangunan yang parah serta merenggut nyawa penduduk sipil yang tidak berdosa.

Pihak Teheran tidak tinggal diam dan segera melakukan aksi balasan terhadap posisi militer lawan di kawasan.

Drone dan rudal Iran mulai menyasar wilayah kedaulatan Israel serta pangkalan militer milik Amerika Serikat.

Awalnya, alasan serangan “pencegahan” ini diklaim demi menghambat ambisi nuklir yang dikembangkan oleh pihak pemerintah Iran.

Namun, narasi tersebut bergeser dengan cepat menjadi upaya sistematis untuk meruntuhkan kekuasaan politik di negara tersebut.

Data dari pemerintah Iran menunjukkan angka kematian telah menembus 1.340 jiwa akibat rentetan serangan udara tersebut.

Di sisi lain, militer Amerika Serikat juga harus membayar mahal keterlibatan mereka dalam konflik terbuka ini.

Laporan resmi Pentagon mencatat setidaknya ada 13 tentara Amerika yang gugur sejak awal pecahnya peperangan.

Dampak dari ketidakstabilan ini langsung terasa pada sektor ekonomi dunia melalui lonjakan harga energi global.

Aktivitas navigasi kapal tanker di Selat Hormuz menjadi sangat terganggu dan memicu kekhawatiran krisis pasokan minyak.

Prancis dan negara-negara lain kini dipaksa untuk mempertimbangkan langkah mandiri guna mengamankan jalur logistik energi mereka.

Di tengah situasi yang masih panas, Presiden Donald Trump justru memberikan pernyataan mengejutkan mengenai masa depan pasukan.

“Yang harus saya lakukan hanya meninggalkan Iran, dan kami akan segera melakukannya,” kata Trump kepada wartawan pada Selasa (31/3).

Beliau memproyeksikan bahwa kehadiran militer Amerika Serikat di tanah Iran akan segera berakhir dalam hitungan hari.

“Kami akan segera pergi,” katanya, seraya menambahkan hal itu akan terjadi dalam “mungkin dua minggu, mungkin tiga minggu.”

Trump merasa tanggung jawab pengamanan jalur maritim internasional bukan lagi menjadi beban utama dari pemerintahannya saat ini.

Eksistensi keamanan di jalur Selat Hormuz diharapkan bisa dikelola secara kolektif oleh negara-negara yang berkepentingan langsung.

“Jika Prancis atau negara lain ingin mendapatkan minyak atau gas, mereka akan melalui Selat (Hormuz). Mereka akan mampu membela diri sendiri. Saya pikir itu akan sangat aman, tetapi kami tak ada hubungannya dengan itu,” katanya.

Trump menegaskan bahwa misi utamanya untuk menjegal kepemilikan senjata nuklir oleh Iran sudah tuntas dilakukan.

“Mereka tak akan memiliki senjata nuklir. Dan tujuan itu telah tercapai,” katanya.

Kekuatan tempur Iran diklaim telah merosot tajam akibat kehancuran infrastruktur pertahanan yang terjadi selama masa konflik.

Bahkan, Trump memprediksi bahwa Iran membutuhkan waktu hingga dua dekade untuk bisa memulihkan kembali taring militernya.

“Jika mereka datang ke meja perundingan, itu bagus. Tetapi tak masalah mereka datang atau tidak, kami telah membuat mereka mundur,” ujarnya.

Narasi kemenangan ini semakin diperkuat dengan klaim terjadinya pergeseran kepemimpinan nasional di Teheran secara fundamental.

Kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei disebut sebagai titik balik lahirnya tatanan pemerintahan baru yang berbeda.

“Kami telah menjatuhkan satu rezim, lalu menjatuhkan rezim kedua. Sekarang ada kelompok yang sangat berbeda,” katanya.

Trump meyakini bahwa suksesi kepemimpinan saat ini akan membawa arah politik Iran ke jalur yang lebih moderat.

“Menurut saya, mereka jauh lebih moderat,” pungkasnya.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya