DEMOCRAZY.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan setelah melontarkan pernyataan kontroversial dalam sebuah acara televisi.
Ucapan bernada menggoda kepada pembawa acara justru memicu polemik, terlebih disampaikan saat membahas situasi perang yang sensitif.
Kontroversi bermula saat Donald Trump tampil dalam program The Five di Fox News.
Dalam sesi tersebut, co-host Dana Perino mengajukan pertanyaan serius terkait kondisi rakyat Iran di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Apakah Anda memiliki pandangan mengenai bagaimana kondisi rakyat Iran saat ini? Apakah mereka memiliki air minum? Makanan?” tanya Perino.
Namun alih-alih menjawab langsung, Trump justru mengalihkan pembicaraan ke momen pribadi di masa lalu.
Ia mengingat kembali pertemuan makan siang mereka di Trump Tower, sebelum melontarkan komentar yang kemudian memicu kontroversi.
“Kamu tidak berubah. Sekarang, saya sebenarnya tidak diperbolehkan mengatakan ini. Ini adalah akhir dari karier politik saya,” kata Trump.
Ia kemudian melanjutkan dengan pujian terhadap penampilan Perino.
“Tapi kamu mungkin terlihat lebih cantik hari ini, oke? Saya tidak akan mengatakan itu karena hal itu akan mengakhiri karier politik saya. Anda tidak diperbolehkan lagi mengatakan seorang wanita itu cantik,” tambahnya.
Setelah pernyataan tersebut, Trump baru memberikan tanggapan mengenai kondisi di Iran.
Ia menggambarkan situasi yang penuh tekanan dan ketakutan bagi warga sipil akibat konflik yang terjadi.
“Mereka menembaki Anda. Orang-orang memang berani, tapi mereka tidak akan berani saat melihat orang-orang tumbang di kiri dan kanan. Tidak peduli siapa Anda, Anda tidak bisa benar-benar melakukan protes,” ujarnya.
Sikap Trump dinilai tidak sensitif karena menyisipkan candaan di tengah pembahasan isu kemanusiaan.
Kritik keras pun datang dari berbagai pihak, termasuk mantan anggota Kongres dari Partai Republik, Joe Walsh.
Selain itu, pengamat media Mike Sington juga menyebut tindakan Trump tidak pantas.
“Sangat tidak pantas dan memuakkan. Trump sedang berbicara tentang perang dan penderitaan rakyat Iran, lalu tiba-tiba ia berhenti hanya untuk merayu pembawa acara Fox News,” tulisnya.
Di tengah kontroversi tersebut, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Trump juga menunjukkan tren penurunan.
Berdasarkan data RealClearPolling per 20 Maret 2026, tingkat popularitas Trump berada di kisaran 41,9 persen, turun dari bulan sebelumnya.
Sejumlah survei lain juga menunjukkan angka ketidakpuasan publik lebih tinggi dibandingkan dukungan.
Situasi ini diperparah oleh dampak konflik Iran yang dinilai memengaruhi persepsi publik terhadap kepemimpinannya.
Di sisi lain, pasar prediksi seperti Polymarket mulai mencatat peningkatan peluang pemakzulan terhadap Trump.
Meski secara politik masih sulit terjadi karena Partai Republik menguasai Kongres, peluang tersebut bisa berubah jika peta kekuatan politik bergeser pada Pemilu Paruh Waktu mendatang.
Secara konstitusional, pemakzulan membutuhkan suara mayoritas di DPR untuk mengajukan dakwaan dan dua pertiga suara di Senat untuk pencopotan jabatan.
Namun, jika Demokrat berhasil merebut DPR pada Pemilu Paruh Waktu November mendatang, sebagaimana diprediksi oleh 85 persen petaruh di Polymarket, maka jalan menuju pemakzulan ketiga bagi Trump terbuka lebar.
Pernyataan “akhir karier politik” yang dilontarkan Trump kini menjadi perdebatan, apakah sekadar candaan atau mencerminkan tekanan politik yang semakin besar di tengah situasi global yang memanas.
Sumber: Tribun