DEMOCRAZY.ID – Dokter Tifa menyatakan dirinya memasuki fase baru dalam perjalanan intelektual dan aktivismenya.
Melalui peluncuran dua buku bertajuk Jalan Samurai Akademik dan Otak Politik Jokowi, ia mendeklarasikan diri sebagai “Samurai Akademik” — sebuah arketipe yang ia maknai sebagai simbol keberanian ilmiah, integritas moral, dan disiplin intelektual dalam menghadapi kekuasaan.
Dalam pernyataannya, Dokter Tifa menyebut buku bukan hanya sebagai karya tulis, melainkan simbol perlawanan dan konsolidasi identitas.
“Buku menjadi kue dan lilin. Buku menjadi simbol deklarasi: aku dengan buku sebagai pedang samuraiku,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, dua buku tersebut berdiri pada dua poros berbeda namun saling melengkapi.
Buku pertama, Jalan Samurai Akademik, mengurai etos ilmiah, integritas, tanggung jawab intelektual, serta keberanian epistemik.
Ia menekankan bahwa dunia akademik membutuhkan keberanian untuk menjaga kebenaran, terutama ketika berhadapan dengan tekanan politik dan kekuasaan.
“Ini tentang fondasi moral ilmiah. Tentang bagaimana seorang akademisi tidak tunduk pada arus, tetapi tegak pada prinsip,” katanya.
Sementara buku kedua, Otak Politik Jokowi, disebutnya sebagai analisis tentang kekuasaan berbasis neurosains perilaku politik.
Dalam buku ini, ia membedah mekanisme neuropsikologis di balik simbol dan praktik kekuasaan yang dilekatkan pada figur Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Ia menyebut pendekatan “neuro politika” sebagai cara membaca politik melalui kerja otak, persepsi publik, konstruksi simbol, dan respons psikologis massa terhadap figur kekuasaan.
“Buku pertama membangun standar moral ilmiah. Buku kedua membedah realitas kekuasaan. Artinya, saya tidak hanya mengkritik. Saya membangun standar,” tegasnya.
Secara eksistensial, Dokter Tifa menyebut dirinya telah melewati fase sebagai dokter, akademisi, dan aktivis.
Kini, ia mengklaim sedang membentuk arketipe baru: Samurai Akademik.
Dalam metaforanya, seorang samurai adalah sosok yang hidup dengan kode etik, siap mempertaruhkan kehormatan, serta terus disiplin dan terlatih.
Ia mengakui bahwa posisi tersebut sunyi dan berisiko dalam lanskap akademik dan politik Indonesia.
“Dalam ruang hampa yang sunyi dan hening, saya berbisik lirih namun tegas: ini adalah titik konsolidasi identitas. Ini adalah waktu untuk deklarasi keberanian ilmiah. Ini adalah penegasan posisi intelektual. Dan ini adalah kelahiran ulang sosok Dokter Tifa dalam fase kehidupan yang baru,” ucapnya.
Deklarasi tersebut ia tutup dengan satu kalimat singkat: “Bismillah.”
Peluncuran dua buku ini diperkirakan akan memicu diskursus baru, baik di kalangan akademisi maupun pengamat politik, terutama karena pendekatan neuropsikologis terhadap figur kekuasaan masih jarang digunakan dalam kajian politik Indonesia.
Penelitian atas dasar ilmu dan kuriositas terhadap pertanyaan terbesar rakyat selama 11 tahun ini: “Aslikah ijazahmu, Tuan Presiden?”
Baca JugaYang diteliti dokter Tifa, kata Rocky Gerung, adalah: otak Jokowi dan ekspresi tubuh dan wajah, dengan ilmu Neuropolitika, membedah konsistensi… pic.twitter.com/M0F24dRq5U
— Dokter Tifa (@DokterTifa) February 18, 2026
Sumber: JakartaSatu