DEMOCRAZY.ID – Seorang diplomat senior terkait Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengundurkan diri dari jabatannya, setelah mengklaim bahwa badan dunia itu sedang bersiap untuk menghadapi skenario yang melibatkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran, saat perang terus berkecamuk.
Dilansir NDTV, Selasa (31/3/2026), Mohamad Safa yang menjabat sebagai perwakilan utama Patriotic Vision (PVA) di PBB, mengumumkan pengunduran dirinya melalui unggahan di media sosial X, disertai surat yang menjelaskan alasannya mundur.
PVA merupakan organisasi internasional yang memiliki status konsultatif khusus pada Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC).
Dalam pengumuman pengunduran dirinya via media sosial X, Safa menyatakan dirinya mengambil keputusan mundur setelah banyak pertimbangan. Dia mengklaim beberapa tokoh senior PBB melayani lobi yang kuat.
“Setelah banyak pertimbangan, dan setelah menjadi jelas bagi saya bahwa beberapa pejabat senior PBB melayani lobi yang kuat dan bukan melayani PBB, saya telah memutuskan untuk menangguhkan semua tugas saya sebagai Perwakilan Utama PVA di PBB dan dari semua komite/kelompok PBB yang saya menjadi anggotanya,” tulis Safa dalam pernyataannya.
“Saya tidak dapat dengan hari nurani yang baik, menjadi bagian dari atau menyaksikan apa yang terjadi pada saat PBB sedang bersiap untuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir,” ujarnya.
Dalam postingan terpisah yang telah dibaca lebih dari 9 juta kali di media sosial X, Safa memposting foto Teheran, ibu kota Iran, sembari mengungkapkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran selama perang berkecamuk.
Dia menyebut PBB mempersiapkan skenario untuk menghadapi situasi tersebut.
“Saya pikir orang-orang tidak memahami betapa seriusnya situasi ini karena PBB sedang bersiap untuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran,” kata Safa dalam postingannya.
“Ini adalah foto Teheran. Untuk Anda yang tidak berpendidikan, tidak pernah bepergian, tidak pernah bertugas, para pendukung perang yang menjilat bibir membayangkan akan mengebomnya. ini bukan gurun dengan populasi rendah. Ada keluarga, anak-anak, hewan peliharaan keluarga. Orang-orang kelas pekerja biasa dengan mimpi. Anda sakit jiwa karena menginginkan perang,” tulisnya.
Safa menambahkan bahwa Teheran merupakan kota dengan hampir 10 juta jiwa penduduk.
Dia meminta para followernya membayangkan jika Washington, Berlin, Paris, London, atau tempat lainnya dibom dengan senjata nuklir.
“Saya meninggalkan karier diplomatik saya untuk membocorkan informasi ini. Saya menangguhkan tugas saya agar tidak menjadi bagian dari atau menyaksikan kejahatan terhadap kemanusiaan ini, dalam upaya mencegah musim dingin nuklir sebelum terlambat,” ucapnya.
“Kemungkinan penggunaan senjata nuklir harus ditanggapi dengan sangat serius. Itu berbahaya. Bertindaklah sekarang. Sebarkan pesan ini ke seluruh dunia. Turunlah ke jalan. Berunjuk rasalah demi kemanusiaan dan masa depan kita. Hanya rakyat yang dapat menghentikannya. Sejarah akan mengingat kita,” cetusnya.
Lebih lanjut, Safa mengungkapkan dirinya ingin mundur sejak tahun 2023, namun berusaha untuk bersabar selama 3 tahun terakhir.
Dia merujuk pada rentetan konflik di berbagai negara, dan menyebut bahwa beberapa pejabat PBB tidak ingin menuduh AS dan Israel melanggar hukum internasional.
Dia menuturkan bahwa dirinya menghadapi kritikan, bahkan menerima ancaman pembunuhan, setelah mengungkapkan kekhawatirannya dan menawarkan perspektif yang berbeda menyusul serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023, yang memicu perang di Jalur Gaza.
Sumber: Detik