DEMOCRAZY.ID – Dr Din Syamsuddin melalui lembaga Center for Dialogue and Cooperation Among Civilisations menggelar silaturahmi dan konferensi pers yang menyoroti eskalasi konflik global, khususnya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Dalam pernyataan resminya yang dibuka dengan Bismillahirrahmanirrahim, Din menegaskan bahwa serangan tersebut telah melahirkan tragedi kemanusiaan baru, di tengah belum berakhirnya penderitaan rakyat Palestina di Gaza.
Ia menyebut alasan serangan terkait dugaan senjata nuklir Iran sebagai dalih yang “superfisial”, mengingat pengalaman serupa pada invasi Irak tahun 2003 yang terbukti tidak berdasar.
“Agresi ini merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara, hukum internasional, serta hak asasi manusia. Bahkan menjadi bentuk nyata kejahatan kemanusiaan dan aksi teror,” tegasnya, Senin (13/4/2026).
Menurut Din, dampak konflik tersebut tidak hanya bersifat regional, tetapi telah merembet ke skala global, baik dalam bidang politik maupun ekonomi.
Ia memperingatkan, jika tidak segera dihentikan, konflik ini berpotensi memicu perang global yang dapat menghancurkan peradaban manusia.
Berangkat dari nilai Islam sebagai agama perdamaian (din al-salam) dan keadilan (din al-‘adl), Din menyerukan pentingnya ishlah syamilah atau perbaikan menyeluruh.
Konsep ini mencakup penghentian perang secara total dan permanen, penyelesaian konflik secara adil, serta pembenahan tata kehidupan global berbasis kebenaran dan keadaban.
Ia juga mengingatkan mandat konstitusi Indonesia untuk ikut serta menciptakan perdamaian dunia dan menghapus penjajahan di muka bumi.
Dalam pernyataannya, Din mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa beserta lembaga terkait seperti Dewan Keamanan PBB, International Court of Justice, dan International Criminal Court untuk menjatuhkan sanksi tegas kepada pihak-pihak yang dianggap sebagai penyebab perang.
Ia juga menuntut komitmen Amerika Serikat dan Israel agar tidak mengulangi tindakan agresi terhadap negara berdaulat, termasuk Palestina, serta mendesak agar keduanya mematuhi prinsip-prinsip HAM, demokrasi, dan hukum internasional secara konsisten.
Din secara khusus menyoroti sikap Amerika Serikat yang dinilai masih menunjukkan arogansi dan standar ganda dalam menyikapi konflik global.
Kepada para pemimpin negara-negara Islam, Din menyerukan pentingnya persatuan dan solidaritas dalam menghadapi tantangan global.
Ia mengutip Al-Qur’an untuk menekankan pentingnya kerja sama dalam kebaikan serta larangan perpecahan.
Ia juga menegaskan pentingnya dukungan penuh terhadap kemerdekaan Palestina dan perlindungan Masjid Al-Aqsa dari pendudukan.
“Perbedaan di antara negara-negara Islam harus diselesaikan dalam semangat ukhuwah Islamiyah, bukan justru memperlemah kekuatan umat,” ujarnya.
Din turut mengingatkan umat Islam di seluruh dunia agar tidak terpecah oleh politik divide et impera, termasuk perbedaan mazhab seperti Sunni dan Syiah maupun identitas etnis.
Selama umat berpegang pada syahadat, Al-Qur’an, dan kiblat yang sama, ia menegaskan bahwa umat Islam adalah satu kesatuan (ummatan wahidah).
Menutup pernyataannya, Din menyebut konflik Timur Tengah 2026 sebagai momentum refleksi bagi dunia Islam untuk bangkit sebagai khair ummah (umat terbaik) dan ummatan wasathan (umat moderat).
Ia menyerukan pembentukan “Aliansi Global untuk Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” sebagai upaya membangun tatanan dunia baru yang damai, adil, dan sejahtera.
“Ini saatnya umat Islam bersama bangsa-bangsa pecinta perdamaian membangun dunia yang lebih beradab,” pungkasnya.
Sumber: JakartaSatu