DEMOCRAZY.ID – Tragedi pembunuhan Raja Faisal bukan hanya kehilangan bagi rakyat Saudi, tapi juga bagi seluruh dunia Islam.
RAJA Faisal bin Abdulaziz adalah salah satu raja paling berpengaruh dalam sejarah Arab Saudi dan dunia Islam.
Ia naik tahta pada tahun 1964 setelah menggantikan saudaranya, Raja Saud.
Dikenal sebagai sosok religius, cerdas, dan tegas, Raja Faisal memainkan peran penting dalam memodernisasi Arab Saudi sembari tetap mempertahankan nilai-nilai Islam.
Di dunia internasional, Raja Faisal terkenal karena sikapnya yang vokal membela Palestina dan perlawanan terhadap Zionisme.
Ia bahkan memutuskan pasokan minyak ke Barat saat Perang Yom Kippur 1973, yang menyebabkan krisis energi global.
Keberaniannya inilah yang membuatnya dicintai umat Islam, namun juga membuatnya memiliki banyak musuh.
Pada tanggal 25 Maret 1975, dunia dikejutkan dengan berita tragis: Raja Faisal tewas ditembak oleh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Musaid.
Peristiwa ini terjadi saat Raja Faisal menerima tamu di istananya di Riyadh.
Ketika Pangeran Faisal memasuki ruangan untuk memberi salam, ia tiba-tiba mengeluarkan pistol dan menembakkan dua peluru ke kepala sang raja dari jarak dekat.
Raja Faisal sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. Kematian ini mengejutkan rakyat Saudi dan seluruh dunia Islam.
Ribuan orang memadati Riyadh untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sang raja yang telah mengabdikan hidupnya bagi Islam dan bangsanya.
Motif di balik pembunuhan ini masih menjadi bahan perdebatan hingga hari ini.
Secara resmi, pemerintah Saudi menyatakan bahwa Pangeran Faisal bin Musaid mengalami gangguan kejiwaan dan memiliki dendam pribadi atas kematian saudaranya, Khalid bin Musaid, yang tewas ditembak polisi Saudi saat berupaya menyerang stasiun televisi yang baru dibangun.
Namun, banyak analis dan sejarawan meragukan narasi resmi ini.
Beberapa pihak menduga bahwa pembunuhan ini bukan semata-mata aksi individual, melainkan bagian dari konspirasi yang lebih besar.
Mengingat posisi Raja Faisal yang anti-Zionis dan kebijakannya yang merugikan kepentingan Barat, muncul spekulasi bahwa ada campur tangan intelijen asing dalam tragedi ini.
Kematian Raja Faisal meninggalkan luka mendalam di hati umat Islam. Ia dianggap sebagai simbol pemimpin Muslim yang berani, adil, dan membela kepentingan umat.
Dukacita datang dari berbagai penjuru dunia—dari pemimpin negara hingga rakyat biasa. Banyak yang mengenangnya sebagai “Singa Arab” yang tidak tunduk pada tekanan kekuatan Barat dan berdiri teguh demi Palestina.
Meski Raja Faisal telah tiada, warisannya tetap hidup. Ia dikenang sebagai pelopor modernisasi yang bijak, pemimpin yang taat agama, dan pembela umat Islam yang tak kenal takut. K
ebijakannya dalam pendidikan, infrastruktur, dan diplomasi luar negeri menjadi fondasi bagi Arab Saudi modern.
Namanya kini diabadikan di banyak tempat—universitas, masjid, dan jalan raya—sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.
Tragedi pembunuhan Raja Faisal bukan hanya kehilangan bagi rakyat Saudi, tapi juga bagi seluruh dunia Islam. Di balik kematiannya tersimpan banyak pertanyaan dan spekulasi yang belum terjawab.
Namun yang pasti, Raja Faisal telah menorehkan sejarah sebagai pemimpin Muslim sejati yang hidup dan wafat dalam perjuangan.