DEMOCRAZY.ID – Meski nama Soeharto sering dibicarakan dalam konteks kontroversial.
Tak sedikit masyarakat yang mengenang masa pemerintahannya karena sederet kebijakan positif yang berdampak nyata bagi kehidupan rakyat.
Selama lebih dari tiga dekade memimpin, Soeharto dikenal dengan gaya kepemimpinan yang menekankan stabilitas, pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi.
Banyak hal dari masa itu yang kini dianggap sulit dirasakan kembali, terutama dalam konteks ekonomi dan kebijakan publik yang terarah.
Berikut deretan hal positif yang tercatat di masa Orde Baru, disusun berdasarkan data dan catatan sejarah dari berbagai sumber resmi dan akademik.
Salah satu ciri khas era Soeharto adalah kestabilan politik yang relatif terjaga.
Setelah masa penuh gejolak di era sebelumnya, pemerintahan Soeharto mampu menciptakan ketertiban yang memungkinkan pembangunan berjalan lancar.
Penyederhanaan partai politik pada tahun 1973 dan pelaksanaan pemilu secara teratur menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas.
Situasi politik yang terkendali membuat investor merasa aman, dan kegiatan ekonomi pun bergerak pesat.
Meski pola ini dikritik karena menekan oposisi, dari sisi pembangunan ekonomi, stabilitas dianggap sebagai fondasi penting.
Dalam kurun waktu 1967 hingga 1997, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 7 persen per tahun.
Angka kemiskinan pun menurun drastis dari sekitar 60 persen pada 1966 menjadi sekitar 14 persen pada awal 1990-an.
Data dari OECD dan Bank Dunia menunjukkan bahwa kebijakan industrialisasi dan fokus pada sektor pertanian berhasil memperkuat daya beli masyarakat.
Soeharto juga mendorong investasi asing dengan membuka sektor-sektor strategis bagi penanaman modal.
Masa itu sering disebut sebagai “keemasan pembangunan ekonomi Indonesia,” meski di akhir pemerintahannya, krisis moneter 1997 menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Capaian paling dikenal dari Soeharto adalah keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 1984.
Program intensifikasi pertanian, penyuluhan petani, dan bantuan pupuk menjadikan Indonesia saat itu dijadikan contoh oleh FAO (Organisasi Pangan Dunia).
Swasembada beras bukan sekadar soal pangan, melainkan simbol kemandirian bangsa. Kala itu, Indonesia bahkan sempat mengekspor beras ke beberapa negara tetangga.
Kini, meski produksi beras nasional masih besar, ketergantungan impor pangan tertentu menunjukkan bahwa capaian semacam itu belum sepenuhnya terulang.
Era Soeharto juga dikenal dengan pembangunan infrastruktur yang masif.
Dari jalan raya, jembatan, pelabuhan hingga jaringan listrik nasional, semua dikerjakan dengan visi pemerataan.
Program SD Inpres menjadi tonggak penting dalam pendidikan dasar Indonesia. Ribuan sekolah dibangun di seluruh pelosok negeri, memberikan akses pendidikan bagi anak-anak di desa.
Sektor industri juga tumbuh pesat, menggeser struktur ekonomi dari agraris menjadi lebih modern.
Kontribusi sektor manufaktur meningkat dari 9 persen pada 1969 menjadi lebih dari 24 persen pada 1995.
Soeharto memperkenalkan konsep REPELITA atau Rencana Pembangunan Lima Tahun, sebuah sistem perencanaan pembangunan nasional yang berkesinambungan.
Setiap periode memiliki fokus yang berbeda dari pembangunan pertanian, pendidikan.
Hingga industri yang disusun secara terukur dan dijalankan dengan kedisiplinan birokrasi yang ketat.
Pendekatan ini membuat kebijakan pembangunan terasa jelas arahnya dan hasilnya mudah dievaluasi.
Hal inilah yang membuat banyak kalangan menilai pemerintahan Soeharto punya arah kebijakan yang lebih terencana dibanding banyak era setelahnya.
Di era modern saat ini, pemerintahan Prabowo menghadapi tantangan berbeda.
Globalisasi, digitalisasi, dan dinamika geopolitik yang kompleks. Pertumbuhan ekonomi berkisar di angka 5 persen, jauh dari laju pesat Orde Baru.
Tak bisa dipungkiri, era Soeharto punya sisi gelap—korupsi, pelanggaran HAM, dan sentralisasi kekuasaan.
Namun, di sisi lain, kebijakan yang fokus pada hasil nyata meninggalkan warisan positif dalam hal pembangunan dan perencanaan ekonomi nasional.
Sejarah memberi pelajaran penting keberhasilan tak selalu datang dari kebebasan penuh, tetapi dari arah kebijakan yang konsisten dan terukur.
Tantangannya kini, bagaimana Indonesia bisa menggabungkan stabilitas ala Orde Baru dengan keterbukaan demokrasi masa kini, tanpa kehilangan semangat membangun.
Sumber: PojokSatu