DEMOCRAZY.ID – Kasus gugatan penelantaran anak yang diajukan Ressa Rizky Rossano terhadap Denada terus menjadi sorotan.
Di tengah ramainya spekulasi, pihak Denada akhirnya memberikan klarifikasi melalui sang pengacara, Iqbal, yang menegaskan bahwa kliennya sejak awal tidak pernah menyangkal status Ressa sebagai anak kandung.
Dalam wawancara virtual pada Kamis, 29 Januari 2026, Iqbal menyatakan bahwa pengakuan tersebut bukanlah hal baru dalam keluarga Denada.
Scroll untuk tahu cerita lengkapnya, yuk!
“Diakui. Mba Denada itu tidak pernah tidak mengakui Ressa sebagai anaknya,” kata Iqbal.
Menurut Iqbal, sikap Denada yang memilih bungkam belakangan ini bukan tanpa alasan.
Ia menyebut penyanyi tersebut masih dalam kondisi terguncang setelah menerima gugatan yang dilayangkan ke Pengadilan Negeri Banyuwangi.
“Kita tenang, cooling down-lah intinya. Supaya nanti kita sambil berpikir introspeksi diri juga,” ujar Iqbal.
Lebih jauh, Iqbal membantah keras tudingan bahwa Denada menelantarkan Ressa.
Ia menegaskan, kebutuhan hidup Ressa selama ini justru ditanggung oleh Denada dan keluarga besarnya, termasuk pendidikan dan fasilitas penunjang lainnya.
“Mas Ressa ini, bukan sekadar diakui atau gimana ya sebagai anak ya, bahkan dibiayai, difasilitasi, disekolahkan,” ucapnya.
Karena itu, Iqbal mengaku heran dengan langkah hukum yang diambil Ressa, terlebih komunikasi antara kedua belah pihak disebut masih berjalan.
“Kok tiba-tiba ada gugatan ini, ya juga aneh,” ucapnya.
Terkait isu yang menyebut Ressa harus bekerja sebagai sopir dengan bayaran kecil, Iqbal meluruskan kabar tersebut.
Ia menyebut hal itu merupakan bagian dari pola asuh keluarga agar Ressa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada orang tua.
“Jadi gini saya luruskan ya, almarhum Bu Emilia Contessa katanya apa ya menjadikan Ressa ini sopir, itu gini. Kita ambil segi positif ya, itu pendidikan untuk anak supaya anak ini tidak manja,” ungkap Iqbal.
Soal besaran penghasilan Ressa, Iqbal menilai nominal yang diterima tidak bisa disamakan dengan standar kota besar. Ia menyebut upah tersebut justru cukup besar untuk ukuran Banyuwangi.
“Gaji dua setengah (juta) di Banyuwangi besar tuh, dua juta setengah itu. Sehingga ketika kayak orang tua ini ngasih pendidikan kayak gitu ke anak, ya apa salahnya? Supaya dia tidak manja cuma minta nadong gini ke orang tua kan ya ndak enak lah,” katanya.
Ia menambahkan bahwa metode pendidikan keras bukanlah hal asing dalam banyak keluarga.
“Bahkan kalau orang-orang Chinese gitu pendidikannya lebih keras lagi supaya anak ini jadi anak yang benar-benar bisa dibanggakan lah,” kata Iqbal.
“Bukan mengambil segi negatif ‘ini kok tega jadi sopir’, waduh salah kaprah itu,” imbuhnya.
Tak berhenti di situ, Iqbal juga membantah anggapan bahwa Ressa hidup dalam keterbatasan. Menurutnya, Ressa justru menikmati berbagai fasilitas yang tergolong mewah untuk ukuran daerah tempat tinggalnya.
“Lho tadi kan sudah tak jelaskan, Ressa ini bukan hanya sekadar diakui. Dia dibiayai, disekolahkan, difasilitasi,” kata Iqbal.
“Sampeyan kalau tinggal di Banyuwangi mungkin sampeyan tahu, hidupnya hedon lho untuk kelas Banyuwangi,” sambungnya.
Ia menegaskan, fasilitas tersebut merupakan bentuk tanggung jawab Denada sebagai orang tua.
“Ressa ini dibiayai, difasilitasi semua ada, dikasih mobil,” lanjut Iqbal.
Sumber: VIVA