DEMOCRAZY.ID – Politikus Partai Demokrat, Rommi Irawan, melontarkan kecurigaan keras terhadap arah kebijakan dan manuver bisnis di tubuh Agrinas.
Ia mempertanyakan apakah ada “gerombolan” lama pemain impor beras dan gula yang kini beralih sektor setelah ruang impor pangan makin diperketat.
Menurut Rommi, jangan sampai setelah tidak lagi leluasa bermain di komoditas beras dan gula, para pemain lama itu justru berpindah haluan ke sektor otomotif dengan skema impor mobil pikap dari luar negeri.
“Apa jangan-jangan yang dulu main impor beras dan gula, sekarang pindah ke impor mobil pikap? Kalau ini benar, bahaya bagi masa depan industri kita,” ujar Rommi dalam keterangannya, Kamis (26/2/2026).
Rommi menegaskan, kebutuhan kendaraan niaga seperti mobil pikap memang tinggi, terutama untuk mendukung sektor UMKM, pertanian, dan distribusi logistik di berbagai daerah.
Namun, ia menilai kebutuhan itu seharusnya menjadi peluang emas membangun industri otomotif nasional, bukan malah membuka keran impor.
Ia menyinggung besarnya potensi serapan tenaga kerja jika pemerintah serius mengembangkan produksi kendaraan niaga ringan di dalam negeri.
“Lulusan SMK kita ratusan ribu setiap tahun. Industri otomotif bisa jadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja. Kenapa tidak dorong produksi dalam negeri? Kenapa harus impor?” tegasnya.
Menurutnya, penguatan industri otomotif nasional akan berdampak sistemik: dari manufaktur komponen, perakitan, hingga jaringan bengkel dan suku cadang.
Rommi juga menyoroti kebutuhan transportasi di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Ia menilai kendaraan yang paling relevan untuk daerah tersebut bukan sekadar pikap impor, melainkan kendaraan roda tiga yang tangguh, murah, dan mudah dirawat.
“Daerah 3T itu butuh kendaraan yang sesuai kondisi geografis. Roda tiga produksi dalam negeri bisa jadi solusi. Ini bisa jadi proyek nasional pemberdayaan industri kecil dan menengah,” katanya.
Ia menilai, jika kebijakan impor kembali dibuka lebar, maka yang diuntungkan hanya segelintir importir, sementara industri dalam negeri kembali terpinggirkan.
Rommi meminta pemerintah membuka secara transparan rencana dan skema pengadaan kendaraan niaga tersebut.
Ia juga mendorong adanya audit menyeluruh agar tidak terjadi pola lama: komoditas berganti, tetapi aktornya tetap sama.
“Jangan sampai hanya ganti barang impor, tapi orang-orangnya itu-itu juga. Negara ini butuh keberpihakan pada produksi nasional, bukan sekadar pergantian komoditas impor,” ujarnya.
Ia menegaskan, momentum ini seharusnya menjadi titik balik untuk memperkuat industri otomotif nasional, mengurangi ketergantungan impor, dan membuka lapangan kerja besar-besaran bagi generasi muda.
“Kalau kita serius, industri otomotif bisa menyerap ratusan ribu tenaga kerja. Tapi kalau yang dipilih impor, ya yang tumbuh hanya rekening segelintir orang,” pungkasnya.
Sumber: JakartaSatu